PTK SIKLUS 2
UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN PAKEM PADA SISWA KELAS 4 SDN NO. 098/VI BANGKO VI KECAMATAN BANGKO KABUPATEN MERANGIN

DISUSUN OLEH
DEFI SURYANI, S.P.d.I
GURU PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
PENDIDIKAN PROFESI GURU DALAM JABATAN TAHUN 2024
KATA PENGANTAR
Puji
syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang selalu
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan karya ilmiah ini dapat terselesaikan
pada waktunya.
Karya
ilmiah yang berjudul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama
Islam Dengan Menerapkan Model Pembelajaran PAKEM Pada Siswa Kelas 4 SD No. 098/VI Bangko VI
ini, disusun untuk memenuhi PPG UIN
Sulthan Taha Saifuddin Jambi
Dalam
penyusunan dan penyelesaian karya ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan
berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima
kasih yang tak terhingga kepada:
1.
Yth. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merangin
2.
Yth. Ketua PGRI Kabupaten Merangin
3.
Yth. Dosen
Pembimbing PPG UIN Sultan Taha Jambi
4.
Yth. Rekan-rekan Guru SDN No.
098/VI Bangko VI
5.
Semua pihak yang telah banyak
membantu sehingga penulisan ini selesai
Peneliti menyadari bahwa hasil penelitian ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat peneliti
harapkan demi kesempurnaan penelitian ini dan demi penelitian yang akan datang.
Bangko, Desember 2024
Mahasiswa PPG
Defi Suryani, S.Pd.I
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman judul ............................................................................................... 1
LembarPengesahan ...................................................................................... 2
Kata pengantar .............................................................................................. 2
Abstrak .......................................................................................................... 3
Daftar
Isi ...................................................................................................... 3
Daftar Lampiran .......................................................................................... 4
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 4
A. Latar Belakang
Masalah ..................................................................... 4
B. Rumusan
Masalah ............................................................................. 6
C. Tujuan
Penelitian ............................................................................... 6
D. Manfaat
Penelitian .............................................................................. 6
E. Definisi Operasional
Variabel ............................................................ 6
F. Batasan
Masalah .............................................................................. 6
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA ............................................................... 7
A. Model
PAKEM ................................................................................ 11
B. Proses Belajar
Mengajar ...................................................................
18
C. Motivasi
Belajar ...............................................................................
19
D. Prestasi Belajar ..................................................................................
20
BAB III METODOLOGI
PENELITIAN .....................................................
A. Tempat, Waktu, dan Subyek
Penelitian .............................................
B. Rancangan
Penelitian .......................................................................
C. Alat Pengumpul
Data ........................................................................
D. Analisis
Data ......................................................................................
BAB IV PEMBAHASAN.............................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung telah terjadi
interaksi yang bertujuan. Guru dan anak didiklah yang menggerakannya. Interaksi
yang bertujuan itu disebabkan gurulah yang memaknainya dengan menciptakan
lingkungan yang bernilai edukatif demi kepentingan anak didik dalam belajar.
Guru ingin memberikan layanan yang terbaik bagi anak didik, dengan menyediakan
lingkungan yang menyenangkan dan menggairahkan. Guru berusaha menjadi
pembimbing yang baik dengan peranan yang arif dan bijaksana, sehingga tercipta
hubungan dua arah yang harmonis antara guru dengan anak didik.
Ketika kegiatan
belajar itu berproses, guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat,
serta mau memahami anak didiknya dengan segala konsekuensinya. Semua kendala
yang terjadi dan dapat menjadi penghambat jalannya proses belajar mengajar,
baik yang berpangkal dari perilaku anak didik maupun yang bersumber dari luar
anak didik, harus guru hilangkan, dan bukan membiarkannya. Karena keberhasilan
belajar mengajar lebih banyak ditentukan oleh guru dalam mengelola kelas.
Dalam mengajar,
guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan
sembarangan yang bisa merugikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak didik
akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai
pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi
pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran.
Guru yang
memandang anak didik sebagai pribadi yang berbeda dengan anak didik lainnya
akan berbeda dengan guru yang memandang anak didik sebagai makhluk yang sama
dan tidak ada perbedaan dalam segala hal. Maka adalah penting meluruskan
pandangan yang keliru dalam menilai anak didik. Sebaiknya guru memandang anak
didik sebagai individu dengan segala perbedaannya, sehingga mudah melakukan
pendekatan dalam pengajaran.
Kualitas
pembelajaran ditentukan oleh interaksi komponen-komponen dalam sistemnya. Yaitu
tujuan, bahan ajar (materi), anak didik, sarana, media, metode, partisipasi
masyarakat, performance sekolah, dan evaluasi pembelajaran (Moh, Shochib,
1998). Performance sekolah, dan evaluasi pembelajaran (Moh, Shochib, 1998).
Optimalisasi komponen ini, menentukan kualitas (proses dan produk)
pembelajaran. Upaya yang dapat dilakukan oleh pendidik adalah melakukan analisis
tentang karakteristik setiap komponen dan mensinkronisasikan sehingga ditemukan
konsistensi dan keserasian di antaranya untuk tercapainya tujuan pembelajaran.
Karena pembelajaran mulai dari perencana, pelaksanaan dan evaluasinya
senantiasa merujuk pada tujuan yang diharapkan untuk dikuasai atau dimiliki
oleh anak didik baik instructional effect (sesuai dengan
tujuan yang dirancang) maupun nurturrant effect (dampak
pengiring) (Moch. Shochib: 1999).
Realisasi pencapaian tujuan
tersebut, terdapat kegiatan interaksi belajar mengajar terutama yang terjadi di
kelas. Dengan demikian, kegiatannya adalah bagaimana terjadi hubungan antara
guru/bahan ajar yang didesain dan dengan anak didik. Interaksi ini merupakan
proses komunikasi penyampaian pesan pembelajaran. Hal ini sejalan dengan yang
dikemukakan Arief S Sadiman yang menyatakan proses belajar mengajar pada
hakekatnya adalah proses interaksi yaitu proses penyampaian pesan melalui
saluran media/teknik/ metode ke penerima pesan. (Arief S, Sadiman, dkk, 1996:13).
Sejalan dengan inovasi
pembelajaran akhir-akhir ini termasuk di Sekolah Dasar, yaitu: PAKEM. Interaksi
belajar mengajarnya menuntut anak didik untuk aktif, kreatif dan senang yang
melibatkan secara optimal mental dan fisik mereka. Tingkat keaktifan,
kreatifitas, dan kesenangan mereka dalam belajar merupakan rentangan kontinum
dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Tetapi idealnya pada
kontinum yang tertinggi baik pelibatan aspek mental maupun fisik anak didik.
Oleh karena itu, interaksi belajar mengajar dengan paradigma PAKEM menuntut
anak:
(1) Berbuat
(2) Terlibat dalam kegiatan
(3) Mengamati secara visual
(4) Mencerap informasi secara verbal
Dengan demikian, interaksi belajar
mengajar idealnya mampu membelajarkan anak didik berdasarkan problem
based learning, authentic instruction, inquiry based learning, project based
learning, service learning, and cooperative learning. Pola interaksi yang
mampu mengemas hal tersebut dapat mengubah paradigma pembelajaran aktif menjadi
paradigma pembelajaran reflektif.
Dengan interaksi pembelajaran reflektif
dapat membuat anak didik untuk menjadikan hasil belajar sebagai referensi
refleksi kritis tentang dampak ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap
masyarakat; mengasah kepedulian sosial, mengasah hati nurani, dan
bertanggungjawab terhadap karirnya kelak. Kemampuan ini dimiliki anak didik,
karena dengan pola interaksi pembelajaran tersebut, dapat membuat anak didik
aktif dalam berfikir (mind-on), aktif dalam berbuat (hand-on),
mengembangkan kemampuan bertanya, mengembangkan kemampuan berkomunikasi, dan
membudayakan untuk memecahkan permasalahan baik secara personal maupun sosial.
Agar hasil ini dapat optimal, guru
dituntut untuk mengubah peran dan fungsinya menjadi fasilitator, mediator,
mitra belajar anak didik, dan evaluator. Ini berarti, guru harus menciptakan
interaksi pembelajaran yang demokratis dan dialogis antara guru dengan anak
didik, dan anak didik dengan anak didik (Moh. Shochib: 1999; dan Paul Suparno
dkk: 2001).
Dengan interaksi pembelajaran yang
mengemas nilai-nilai tersebut dapat membuat pembelajaran lingking (link
and math atau life skill) dan delinking (pemutusan
lingkungan negatif), diversifikasi kurikulum, pembelajaran kontekstual,
kurikulum berbasis kompetensi, dan otonomi pendidikan pada tingkat sekolah
taman kanak-kanak dengan manajemen berbasis sekolah, dan bertujuan untuk
mengupayakan fondasi dan mengembangkan anak untuk memiliki kemampuan yang utuh
yang disebut: Pendidikan Anak Seutuhnya (PAS).
Pada dasarnya dalam kehidupan suatu
bangsa, faktor pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting untuk menjamin
perkembangan dan kelangsungan hidup bangsa tersebut. Secara langsung maupun
tidak langsung pendidikan adalah suatu usaha sadar dalam menyiapkan pertumbuhan
dan perkembangan anak melalui kegiatan, bimbingan, pengajaran dan pelatihan
bagi kehidupan dimasa yang akan datang. Tentunya hal ini merupakan tanggung
jawab bersama antara pemerintah, anggota masyarakat dan orang tua. Untuk
mencapai keberhasilan ini perlu dukungan dan partisipasi aktif yang bersifat
terus menerus dari semua pihak.
Guru mengemban tugas yang berat untuk
tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia
Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha
Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras,
tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani
dan rohani, juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap
tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial.
Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia
pembangunan dan membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas
pembangunan bangsa. Depdikbud (1999).
Berhasilnya tujuan pembelajaran
ditentukan oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan
proses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi,
membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi
permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran
guru sangat penting dan diharapkan guru mampu menyampaikan semua mata pelajaran
yang tercantum dalam proses pembelajaran secara tepat dan sesuai dengan
konsep-konsep mata pelajaran yang akan disampaikan.
Dengan menyadari kenyataan tersebut di
atas, maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul “Upaya Meningkatkan
Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pembelajaran
PAKEM Pada Siswa Kelas 4 SDN No
098/VI Bangko VI Tahun Pelajaran 2024/2025
B. Pembatasan dan Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang di atas maka penulis
merumuskan permasalahannya sebagai berikut:
1. Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar
Pendidikan Agama Islam dengan diterapkannya model pembelajaran PAKEM pada siswa
kelas 4 SDN No.098/VI Bangko VI Tahun pelajaran 2024/2025?
2. Bagaimanakah pengaruh model pembelajaran PAKEM
terhadap motivasi belajar Pendidikan Agama Islam pada siswa kelas 4 SDN No. 098/VI Bangko VI Tahun
pelajaran 2024/2025?
Pembatasan Masalah :
1.
Penelitian ini hanya dikenakan
pada siswa kelas 4 SDN No. 098/VI
Bangko VI Tahun pelajaran 2024/2025
2. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember Semesetr Ganjil tahun pelajaran 2024-2025
3.
Materi yang disampaikan adalah pokok
bahasan Mengenal Asmaul Husna
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas,
penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui
peningkatan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam setelah diterapkannya model
pembelajaran PAKEM pada siswa kelas 4
SDN No. 098/VI Bangko VI tahun pelajaran 2024/2025
2. Mengetahui pengaruh
motivasi belajar Pendidikan Agama Islam setelah diterapkan model pembelajaran
PAKEM pada siswa kelas 4 SDN No.
098/VI Bangko VI tahun pelajaran 2024/2025
3. Menyempurnakan
pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan prestasi
belajar pada siswa kelas 4 SDN No.
098/VI Bangko VI tahun pelajaran 2024/2025
D. Manfaat Penelitian
Adapun maksud penulis mengadakan
penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai:
1. Menambah pengetahuan dan
wawasan penulis tentang peranan guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan
pemahaman siswa belajar Pendidikan Agama Islam.
2. Sumbangan pemikiran bagi
guru Pendidikan Agama Islam dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa
belajar Pendidikan Agama Islam.
3. Sebagai bahan
pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran yang dapat memberikan manfaat
bagi siswa.
4. Sebagai penentu
kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam.
5. Menerapkan
metode yang tepat sesuai dengan materi pelajaran Pendidikan Agama Islam
BAB II Kerangka Teori A. Landasan Teori
BAB II
A.
Landasan
Teori
A. Model PAKEM
Model
PAKEM adalah model pembelajaran yang bertumpu pada empat prinsip, yaitu:
aktif, efektif, dan menyenangkan. Model pembelajaran ini sangat
cocok untuk kurikulum 2004 berbasis kompetensi yang senantiasa berorientasi
pada aktivitas siswa (student centered learning). Model ini dapat dikembangkan
secara sederhana oleh guru dengan memperhatikan prinsip PAKEM.
Model
PAKEM berorientasi pada proses dan tujuan. Orientasi proses dalam model PAKEM
berusaha untuk meningkatkan motivasi belajar. Kemandirian dan tanggung jawab
dibina sejak awal. Kebersamaan dan bekerja sama untuk mengasah emosional.
Persaingan yang sehat ditumbuhkan dengan saling menghargai satu sama lain serta
menumbuhkan sikap kepemimpinan. Orientasi tujuannya adalah agar anak belajar
lebih mendalam, anak lebih kritis dan kreatif, suasana belajar menjadi
bervariasi serta meningkatkan kematangan emosional. Tidak kalah pentingnya anak
siap menghadapi perubahan dan berpartisipasi dalam proses perubahan.
1. Makna
Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan
Tampaknya
untuk memaknai aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan masih terlalu abstrak.
Beberapa pendidik masih kabur dengan makna ini. Meskipun untuk memaknai istilah
tersebut pernah didiskusikan oleh para pendidik, namun bukan berarti makna ini
sudah paten. Makna tersebut masih perlu dikembangkan lagi sesuai dengan kondisi
yang sesungguhnya. Dalam diskusi itu, dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Aktif
- Selalu mencoba
- Tidak ingin menjadi
penonton
- Memanfaatkan modalitas belajar
(visual, auditorial, atau kinestika)
- Penuh perhatian dalam
setiap proses pembelajaran
b. Kreatif
- Menginginkan
adanya perubahan yang baru
- Ingin
mengadakan inovasi
- Mempunyai
banyak cara untuk melakukan sesuatu
- Tidak
cepat putus asa
- Tidak
mudah puas dengan hasil kerjanya dan selalu ingin berbuat terus
- Menumbuhkan
motivasi, percaya diri, dan kritis
- Mempunyai
banyak cara
c. Efektif
- Memanfaatkan
alat peraga yang ada di sekitar
- Diajak
ke sumber belajar, melakukan observasi
- Memanfaatkan
waktu yang ada
- Memanfaatkan
rangkuman yang tepat
- Mengoptimalkan
panca indera
- Mengatur
stategi pembelajara
d. Menyenangkan
- Penampilan
guru yang menarik
- Suasana
belajar tidak searah
- Kaya
dengan metode
- Desain
kelas yang tidak membosankan
- Belajar
sambil bermain dan bernyanyi
- Hasil
belajar anak dipajang di kelas
- Didekatkan
ke alam nyata
- Ada
penghargaan bagi yang berprestasi
2. Pelaksanaan
pembelajaran PAKEM
a. Persiapan
1) Berpusat pada
siswa
Perubahan paradigma pembelajaran sangat terasa saat ini.
Dulu guru lebih dominan dalam proses pembelajaran atau dengan kata lain
pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered learning). Saat ini
pembelajaran berorientasi pada aktivitas siswa (student centered learning)
2) Guru membuat
persiapan matang
Persiapan bagi seorang guru merupakan hal yang mutlak harus
dikerjakan. Tanpa persiapan guru akan kehilangan arah dalam proses
pembelajaran. Berbagai metode dengan karakter materi yang akan diajarkan sudah
dipersiapkan sebelum diajarkan.
3) Skenario
pembelajaran secara rinci dan matang
Skenario merupakan salah satu dari persiapan yang harus
dibuat oleh guru. Skenario pembelajaran juga sering disebut dengan
langkah-langkah pembelajaran atau strategi pembelajaran. Dengan disusun
skenario pembelajaran, seorang guru sudah membuat format pada setiap pertemuan
dengan siswa. Bukan hanya sekedar format, melainkan guru sudah mendesain pola
pembelajaran yang ideal dengan karakter materi yang sedang diajarkan.
4) Menerapkan asas
fleksibilitas
Asas fleksibilitas, artinya lebih lentur dalam memahami
kondisi yang akan dihadapi. Seorang guru tidak bisa kaku dalam menerapkan pola
pembelajaran di kelas. Berbagai hambatan dalam proses pembelajaran akan
dihadapi. Untuk itu, berbagai alternatif terutama berbagai metode harus
disiapkan. Seorang guru tidak hanya terpaku pada satu metode yang ada. Jika hal
itu sudah diantisipasi maka akan terjadi proses pembelajaran yang mengasyikkan.
5) Melayani perbedaan
individual
Semua memaklumi bahwa anak mempunyai perbedaan, baik
perbedaan cara belajar maupun perbedaan kecerdasan. Untuk itulah, dalam
menangani anak sudah dipersiapkan cara pelayanannya. Seorang guru tidak bisa
membuat anak sama seperti gerigi sisir, tetapi disesuaikan dengan karakter dan
kepribadian yang khas yang dimiliki anak. Sebagaimana berbagai teori sudah
disepakati oleh para pakar pendidikan bahwa setiap anak mempunyai modalitas
belajar atau gaya belajar yang berbeda. Modalitas belajar yang dimiliki anak ada
tiga, yaitu gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik.
Modalitas belajar anak cenderung pada karakter alamiah yang
dimiliki. Anak yang mempunyai gaya belajar visual, cenderung senang dengan cara
melihat, baik itu gambar maupun bagan. Anak yang mempunyai gaya belajar
auditoria, cenderung sedang denagn mendengar, sedangkan aank yang mempunyai
gaya belajar kinestetik, cenderung belajar dengan cara bergerak, bekarja, dan
menyentuh.
Selain perbedaan gaya belajar, anak juga mempunyai
perbedaan kecerdasan. Jika selama ini orang lebih banyak membicarakan teori
yang dikembangkan oleh ahli psikologi, Alfred Bine, yaitu intelgensi tunggal
yang sering disebut intelligence quotient (IQ). Saat ini muncul teori
intekgensi majemuk yang sering disebut multiple intelligences.
Teori ini dirumuskan oleh Prof. Howard Gardner. Menurut Gardner anak mempunyai
delapan kecerdasan, yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logis-matematis,
kecerdasan visual-spasial, kecerdasan kinestetis-jasmani, kecerdasan musikal,
kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan natural.
Dengan berpedoman pada kenyataan bahwa murid mempunyai
kelebihan serta kekurangan sendiri, jelas tidak bijak bagi guru (terutama orang
tua) untuk memaksa anak yang tidak ingin pada bidang-bidang tertentu. Orang tua
atau guru yang demikian telah bertindak di luar realitas psikologi tentang
perkembangan inteligensi anak dan mungkin lebih dipengaruhi oleh motif sendiri.
Teori Gardner juga mengingatkan kita agar sejak pendidikan usia muda, guru dan
orang tua menyediakan berbagai pengalaman belajar yang merangsang berbagai
minat anak. Melalui pendekatan ini, mungkin ini pendekatan yang terbaik. Guru
serta orang tua dapat mendampingi anak di dalam mengembangkan potensi
sepenuhnya dengan penuh minat dan kegembiraan.
b. Proses
1) Mendengarkan pendapat siswa
Setiap anak mempunyai karakter dan keinginan yang berbeda
untuk itu apa yang diinginkan siswa harus didengarkan. Mendengarkan apa yang
diinginkan merupakan penghargaan terhadap siswa.
2) Menggunakan
bermacam-macam sumber belajar
Sumber belajar yang harus dimiliki oleh guru adalah dari
sumber tangan pertama dan tangan kedua. Sumber belajar tangan pertama, artinya
sumber belajar yang langsung dialami oleh siswa, seperti pengalaman kunjungan
belajar, peristiwa yang dialami atau dilihat, situs bersejarah, nara sumber,
dan lingkungan sekitarnya. Adapun sumber belajar tangan kedua adalah sumber
belajar yang sudah dihasilkan oleh orang lain, misalnya: buku paket atau
perlengkapan perpustakaan, dan media pembelajaran lainnya.
Seorang guru dalam model PAKEM tidak boleh selaku
menganggap buku paket sebagai satu-satunya sumber belajar yang lebih
bervariatif, terutama sumber belajar yang dihasilkan oleh siswa dan segala yang
ada di sekitar.
3) Merangsang keberanian siswa
untuk menyatakan dan menanyakan sesuatu
Guru seyogyanya menumbuhkan minat anak untuk menanyakan
sesuatu atau menyatakan pengalamannya. Semua pembelajaran berpusat pada siswa
maka seorang guru bisa menggali potensi yang ada pada siswa dengan memberikan
rangsangan agar anak mempunyai keberanian dalam mengungkapkan sesuatu.
4) Pertanyaan terbuka,
menantang, dan produktif
Agar anak lebih berwawasan luas, pertanyaan yang diberikan
oleh guru diusahakan mampu mengembangkan cara berpikir anak dengan pertanyaan
terbuka. Dengan demikian, anak akan lebih produktif dalam mengembangkan cara
berpikir yang lebih luas dan terbuka.
5) Pemecahan
masalah (problem solving)
Pembelajaran yang dilakukan lebih mengarah pada pemecahan
yang dihadapi oleh anak agar pembelajaran lebih menarik dan bermanfaat.
6) Menuntut
hasil terbaik dari siswa
Guru menyiapkan dan mengarahkan dalam proses pembelajaran
sehingga mendapat hasil yang maksimal dari siswa.
7) Memberikan umpan balik
seketika
Kebiasaan anak-anak mempertanyakan segala hal harus dapat
direspon dengan baik oleh guru. Pertanyaan yang timbul dari anak itu didorong
oleh kebutuhan psikologis alamiah, yaitu rasa ingin tahu (curiosity).
Banyaknya pertanyaan yang diajukan anak menunjukkan dinamisme dan kreativitas. Melihat
gejala anak seperti ini, seorang guru harus memberikan umpan balik seketika.
Dengan demikian, akan muncul keingintahuan yang lebih besar. Dalam kondisi
seperti ini, sebenarnya sudah terjadi proses pembelajaran yang berarti.
8) Siswa memanjangkan hasil
karyanya
Sesuatu yang sangat berarti bagi seorang anak adalah ketika
apa yang dikerjakan mendapat pengakuan dari orang yang ada di sektiarnya,
terutama orang-orang yang sangat dicintainya. Dalam proses pembelajaran, siswa
sering menunjukkan hasil karyanya, namun terkadang kurang mendapat penghargaan.
Mungkin karena tidak ada tempat atau mungkin dianggap kurang layak untuk
diberikan penghargaan. Agar anak tumbuh motivasi yang lebih besar, hasil
karyanya dipajang di dalam kelas, apa pun bentuk karyanya.
9) Kompetetif dan
kooperatif
Persaingan dan kerja sama perlu diciptakan sejak dini.
Persaingan dalam hal ini mempunyai pengertian bahwa ada perbedaan individu yang
perlu dikembangkan potensinya. Setiap anak harus bisa mengembangkan potensi
yang ada pada dirinya dan guru sangat berperan untuk menggali dan mengembangkan
potensi ini. Di sisi lain harus diciptakan kerja sama yang baik. Perbedaan yang
satu dengan yang lain mampu mewujudkan rasa saling menghargai dan mampu bekerja
sama dengan baik.
3. Kegiatan
PAKEM
Kegiatan
model PAKEM haruslah bervariatif dan tidak monoton. Ada beberapa yang perlu
diketahui, misalnya:
- Mengamati, mengukur dan mendiskripsikan
- Mengajukan pertanyaan dan mencatat
- Berdiskusi, berdebat, dan membuat rangkuman
- Merencanakan dan melakukan percobaan
- Melaporkan, mempresentasikan, bermain peran,
membuat puisi atau hasil karya lain dan memajangkan
4. Ciri
lulusan PAKEM
Jika
proses model PAKEM dilaksanakan dengan benar, dengan asumsi dasar bahwa belajar
merupakan proses individual, belajar merupakan proses sosial, belajar harus
menyenangkan, belajar harus selalu aktif, dan belajar tak pernah terhenti.
Dengan demikian, akan menghasilkan lulusan yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
- Berpikir
kritis, kreatif, dan produktif
- Mampu
belajar mandiri
- Bisa
bertanggung jawab
- Bisa
bekerja sama dengan orang lain
- Siap
menghadapi perubahan
- Selalu
mencari dan memanfaatkan informasi
- Dapat
memecahkan masalah
B. Proses Belajar
Mengajar
Proses
dalam pengertian di sini merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang
terdapat dalam belajar mengajar yang satu sama lainnya saling berhubungan (inter
independent) dalam ikatan untuk mencapai tujuan (Usman, 2000:5).
Belajar
diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat
adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan
yang diutarakan Burton bahwa seseorang setelah mengalami proses akan mengalami
perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun
aspek sikapnya. Misalnya dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti
menjadi mengerti. (dalam Usman, 2000:5).
Mengajar
merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggungjawab moral yang cukup berat.
Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan suatu usaha
mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan
pengajaran yang menimbulkan proses belajar.
Proses
belajar mengajar merupakan suatu inti dari proses pendidikan secara keseluruhan
dengan guru sebagai pemegang peran utama. Proses belajar mengajar merupakan
suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar
hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai
tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu
merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar (Usman,
2000:4).
Sedangkan
menurut buku Pedoman Guru Pendidikan Agama Islam, proses belajar mengajar dapat
mengandung dua pengertian, yaitu rentetan kegiatan perencanaan oleh guru,
pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi program tindak lanjut (dalam Suryabrata,
1997:18).
Dari
kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar PAI
meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan
kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam
situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran PAI.
C. Motivasi Belajar
1. Pengertian Motivasi
Motif
adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu,
atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk
memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Sedangkan motivasi adalah
suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku
untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam
diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam
mencapai tujuan tertentu (Usman, 2000:28).
Sedangkan
menurut Djamarah (2002:114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah
energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai
tujuan tertentu. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan sebab
seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin
melakukan aktivitas belajar. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur
(2001:3) bahwa siswa yang termotivasi dalam belajar sesuatu akan menggunakan
proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa
itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik.
Jadi
motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu
dalam mencapai tujuan tertentu.
2. Macam-macam
Motivasi
Menurut
jenisnya motivasi dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Motivasi
Intrinsik
Jenis
motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam individu, apakah karena adanya
ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang
demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar (Usman, 2000:29).
Sedangkan
menurut Djamarah (2002:115), motivasi instrinsik adalah motif-motif yang
menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam
setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Menurut
Winata (dalam Erriniati, 1994:105) ada beberapa strategi dalam mengajar untuk
membangun motivasi intrinsik. Strategi tersebut adalah sebagai berikut:
1) Mengaitkan
tujuan belajar dengan tujuan siswa
2) Memberikan
kebebasan dalam memperluas materi pelajaran sebatas yang pokok
3) Memberikan
banyak waktu ekstra bagi siswa untuk mengerjakan tugas dan memanfaatkan sumber
belajar di sekolah
4) Sesekali
memberikan penghargaan pada siswa atas pekerjaannya
5) Meminta
siswa untuk menjelaskan hasil pekerjaannya
Dari
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi instrinsik adalah motivasi yang
timbul dari dalam individu yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar.
Seseorang yang memiliki motivasi instrinsik dalam dirinya maka secara sadar
akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya.
b. Motivasi
Ekstrinsik
Jenis
motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena
adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi
yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar. Misalnya
seseorang mau belajar karena ia disuruh oleh orang tuanya agar mendapat
peringkat pertama di kelasnya (Usman, 2000:29).
Sedangkan
menurut Djamarah (2002:117), motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi
intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi
karena adanya perangsang dari luar.
Beberapa
cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi instrinsik
antara lain:
1) Kompetisi
(persaingan): guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk
meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang
telah dicapai sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain.
2) Pace
Making (membuat tujuan sementara atau dekat): Pada awal kegiatan
belajar mengajar guru, hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa TIK
yang akan dicapai sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai TIK tersebut.
3) Tujuan
yang jelas: Motif mendorong individu untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan,
makin besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan makin besar pula
motivasi dalam melakukan sesuatu perbuatan.
4) Kesempurnaan
untuk sukses: Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas, kesenangan dan
kepercayaan terhadap diri sendiri, sedangkan kegagalan akan membawa efek yang
sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada
anak untuk meraih sukses dengan usaha mandiri, tentu saja dengan bimbingan
guru.
5) Minat yang besar:
Motif akan timbul jika individu memiliki minat yang besar.
6) Mengadakan
penilaian atau tes. Pada umumnya semua siswa mau belajar dengan tujuan
memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dalam kenyataan bahwa banyak siswa
yang tidak belajar bila tidak ada ulangan. Akan tetapi, bila guru mengatakan
bahwa lusa akan diadakan ulangan lisan, barulah siswa giat belajar dengan
menghafal agar ia mendapat nilai yang baik. Jadi, angka atau nilai itu
merupakan motivasi yang kuat bagi siswa.
Dari
uraian di atas diketahui bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul
dari luar individu yang berfungsinya karena adanya perangsang dari luar,
misalnya adanya persaingan, untuk mencapai nilai yang tinggi, dan lain
sebagainya.
D. Prestasi Belajar
Belajar
dapat membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan ini
merupakan pengalaman tingkah laku dari yang kurang baik menjadi lebih baik.
Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman yang dituju pada hasil yang akan
dicapai siswa dalam proses belajar di sekolah. Menurut Poerwodarminto
(1991:768), prestasi belajar adalah hasil yang dicapai (dilakukan, dikerjakan),
dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil pekerjaan, hasil penciptaan oleh
seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta perjuangan yang
membutuhkan pikiran.
Berdasarkan
uraian di atas dapat dikatakan bahwa prestasi belajar yang dicapai oleh siswa
dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah siswa itu melakukan
kegiatan belajar. Pencapaian hasil belajar tersebut dapat diketahui dengan
mengadakan penilaian tes hasil belajar. Penilaian diadakan untuk mengetahui
sejauh mana siswa telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru.
Di samping itu guru dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan guru dalam proses
belajar mengajar di sekolah.
Sejalan
dengan prestasi belajar, maka dapat diartikan bahwa prestasi belajar PAI adalah
nilai yang diperoleh siswa setelah melibatkan secara langsung/aktif seluruh
potensi yang dimilikinya baik aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan
psikomotor (keterampilan) dalam proses belajar mengajar.
B. Penelitian Terdahulu
Secara umum, sesungguhnya banyak
penelitian yang hampir mirip dengan penelitian yang diajukan oleh peneliti ini,
hanya saja belum peneliti temukan tulisan yang sama. Maka, di bawah ini
peneliti tampilkan beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan
peneliti lakukan.
1.
Skripsi yang ditulis oleh M. Imam Asrori Prodi Pendidikan
Agama Islam Jurusan FTIK IAIN Tulungagung tahun 2009, dengan judul “ Upaya
Peningkatan Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Melalui Model
Pembelajaran Aktif Kreatif dan Menyenangkan (PAKEM) di SMPN 1 Ngantru
Tulungagung Pada Siswa Kelas 2”. Permasalahan yang dibahas: Rumusan Masalah:
1. Bagaimana proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Ngantru
Tulungagung pada kelas 2?,
2.Bagaimana upaya peningkatan proses pembelajaran PendidikanAgama Islam
di SMPN 1 Ngantru Tulungagung pada kelas 2 melalui model pembelajaran aktif
kreatif dan menyenangkan (PAKEM)?, 3. Bagaimana hasil upaya peningkatan proses
pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Ngantru Tulungagung pada kelas 2
melalui model pembelajaran aktif kreatif dan menyenangkan (PAKEM)?
Dari beberapa
fokus permasalahan, maka hasil-hasil Penelitian:
1). Proses
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Pembentukan Model pembelajaran PAKEM
di SMPN I Ngantru Guru PAI SMPN I Ngantru dengan menciptakan model pembelajaran
PAKEM berlatar belakang mengedepankan rasa persaudaraan, kekeluargaan dan
kebersamaan dalam membangun kerjasama terhadap murid. Guru PAI juga melihat
seluruh peserta didik mempunyai hak dan kewajiban dalam menciptakan model
pembelajaran PAKEM. Ia tidak memandang bawahan sebagai peserta didik, tetapi
sama-sama bekerja untuk kepentingan bersama,
2) Upaya Guru PAI SMPN I Ngantru dalam Menciptakan Model pembelajaran
PAKEM adalah dengan a) Memulai segala bentuk program sekolah dengan bermusyawarah, b)
Membudayakan penyelesaian Kesalahan Pribadi Guru PAI dan sesama, c) Memberikan
Teladan, d) Melakukan gerakan penciptaan model pembelajaran PAKEM secara
bersama-sama, mulai dari pimpinan, komite dan siswa, 3) Hasil-Hasil Guru PAI SMPN
1 Ngantru dalam upaya menciptakan model pembelajaran PAKEM adalah a) Banyaknya
guru yang tidak mempunyai komitmen dalam penciptaan model pembelajaran yang
efektif, b) Kesadaran Guru dalam menciptakan model pembelajaran PAKEM yang
efektif yang masih rendah
2.
Skripsi yang ditulis oleh M. Imam Asrori Prodi Pendidikan
Agama Islam Jurusan FTIK IAIN Tulungagung tahun 2014, dengan judul
“Implementasi Pendidikan Agama Islam Di SMP Negeri 01 Panggungrejo Blitar Tahun
Ajaran 2014/2015. Permasalahan yang dibahas: 1. Bagaimanakah implementasi
pendidikan agama Islam di SMP Negeri 01 Panggungrejo Blitar tahun ajaran
2014/2015? 2. Mengapa implementasi pendidikan agama Islam di SMP Negeri 01
Panggungrejo Blitar tahun ajaran 2014/2015 seperti demikian ?, dari beberapa
fokus permasalahan yang dibahas, maka hasil penelitiannya:
1. Dalam perencanaan pelaksanaan pendidikan agama Islam, dimulai dengan
membuat silabus, selanjutnya membuat perencanaan yang ada dalam rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP).
2. Dalam pelaksanaan pendidikan
agama islam di laksanakan di dalam dan di luar kelas. Dalam pelaksanaan
pembelajaran di dalam kelas meliputi : penggunaan metode, dilakukan dengan menggunakan
lebih dari satu metode. Dalam hal penyediaan materi pembelajaran, guru selalu
mempersiapkan materi yang nanti akan diajarkan. Dalam hal penggunaan media
pembelajaran, guru hanya memakai media papan tulis dan buku. Sedangkan dalam
hal evaluasi pembelajaran, dilakukan per Kompetensi Dasar. Dan dalam
pelaksanaan pembelajaran di luar kelas meliputi : kegiatan seni baca tulis
Al-Qur‟an, pondok romadhon, istighosah bersama, dan memperingati hari besar
Islam. 3. Bahwa adanya peraturan dari DEPAG dan dari pihak sekolah sendiri untuk menerapkan
pendidikan agama Islam di kelas maupun diluar kelas. 3. Skripsi yang ditulis
oleh Rizal Dwi Agustan Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah, IAIN
Tulungagung, dengan judul Implementasi Model Pembelajaran Aktif, Kreatif,
Efektif dan Menyenangkan pada Mata Pelajaran Fiqih (Studi Kasus di Sekolah
Madrasah Aliyah Negeri 1 Tulungagung. Permasalahan yang dibahas: Rumusan
Masalah: 1.Bagaimana proses pelaksanaan model pembelajaran aktif, kreatif,
efektif dan menyenangkan pada mata pelajaran fiqih kelas II di Madrasah Aliyah
Negeri 1 Tulungagung? 2. Bagaimana respon siswa terhadap implementasi model
pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan pada mata pelajaran fiqih kelas II
di Madrasah Aliyah Negeri 1 Tulungagung? 3. Apa faktor pendukung dan faktor
penghambat dalam implementasi model pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan
menyenagkan pada mata pelajaran Fiqih kelas II di Madrasah Aliyah Negeri 1
Tulungagung? Dari beberapa fokus permasalahan, maka hasil-hasil penelitian: 1.
Proses pelaksanaan model pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan
pada mata pelajaran fiqih kelas II di Madrasah Aliyah Negeri 1 Tulungagung
didukung dengan metode pembelajaran Jigsaw dan Role Playing merupakan metode
yang sesuai untuk mewujudkan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan
Menyenangkan. 2. Respon siswa terhadap implementasi model pembelajaran aktif,
kreatif dan menyenangkan pada mata pelajaran fiqih kelas II di Madrasah Aliyah
Negeri 1 Tulungagung 56 yaitu: siswa dalam pembelajaran Pembelajaran Aktif,
Kreatif, Efektif dan Menyenangkan semuanya mempunyai respon positif yang
terwujud dari: a) siswa banyak yang bertanya, b) siswa memilih tugas sendiri,
c) siswa senang dengan berbagai metode pendukung Pembelajaran Aktif, Kreatif Efektif dan Menyenangkan, d)
kreativitas siswa berkembang, e) motivasi dan minat belajar siswa meningkat,
dan f) siswa bebas mengemukakan gagasan. 3. Faktor pendukung dan faktor
penghambat dalam implementasi model pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan
menyenagkan pada mata pelajaran Fiqih kelas II di MAN 1 Tulungagung adalah
faktor pendukung dengan cara a) kreativitas guru dalam mengembangkan materi
secara mandiri ataupun mengadopsi dari rekan-rekan lainnya yang telah lebih
dulu memiliki kreativitas dalam mencoba menerapkan metode pembelajaran dengan
dukungan metode Jigsaw dan Role Playing. b) Antusias peserta didik dalam
mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan terlihat dari aktivitas
bertanya dari peserta didik, c) empati dari kepala madrasah, d) orang tua selagi di rumah.
orang tua sebagai pondasi dan kontrol utama dalam pembentukan pribadi siswa.
Faktor penghambatnya dapat dilihat dari a) kurang fahamnya peserta didik
tentang skenario pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis
Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. b) Peserta didik
terlihat malu-malu dalam mengungkapkan gagasannya. c) Siswa mempunyai latar
belakang berbeda-beda, seperti lingkungan sosial, lingkungan, gaya belajar,
keadaan ekonomi, dan tingkat kecerdasan. d) Guru terkadang juga kurang matang
mempersiapkan perangkat-perangkat pembelajaran yang sebenarnya tidak sedikit
dan membutuhkan ketelatenan. Sedangkan penulis disini permasalahannya mengenai
Implementasi Model Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)
pada Pelajaran PAI Kelas VII di SMPN 1 Kanigoro Blitar. Sehingga walaupun
terdapat kemiripan penggunaan judul skripsi antara peneliti sekarang dengan
penulis terdahulu, akan tetapi tetap terdapat perbedaan pada fokus penelitian
dan tempat penelitian
C. Hipotesis
Penelitian (Jika ada)
A. Jenis Penelitian
BAB III
Metode Penelitian
A. Jenis Penelitian
Penelitian yang digunakan adalah penelitaian tindakan kelas (PTK) yang
dilaksanakan dalam dua siklus.Penelitian tindakan
kelas pada dasarnya merupakan pengembangan dari penelitian tindakan (action research).Metode penelitian ini dilaksanakan berdasarkan penelitian tindakan kelas Classrom
action research merupakan bentuk suatu penelitian yang bersifat reflektif
dan kolaboratif tindakan-tindakan
tertentu guna mencapai perbaikan dan peningkatan kemampuan profesionalisme guru
dalam pembelajaran dikelas.1
Menurut Hamzah B. Uno dkk penelitian tindakan kelas ini adalah
“penelitian yang
dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan
untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga proses pembelajaran dapat
berjalan dengan baik, dan hasil belajar siswa meningkat.”2 Oleh karena itu PTK secara singkat
dapat didefinisikan sebagai bentuk penelitian yang bersifat
reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki
atau meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara lebih propesional.
Empat langkah penting dalam penelitian tindakan
kelas yaitu:” merencanakan (planning),
melaksanakan (acting), mengamati (observing) dan merefleksi (reflecting)”.
Langkah penelitian di atas dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1.
Perencanaan
Rencana
tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan hasil belajar
sebagai solusi.
2.
Tindakan
Usaha
yang dilakukan oleh guru atau peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan
atau perubahan yang diinginkan
3.
Obsevasi
a.
Mengamati keaktifan siswa melalui
lembar observasi dalam mengikuti
pembelajaran Pendidikan agama islam bahan ajar Mengenal Asmaul Husna melalui model pembelajaran cooperative learning dan kemampuan hasil
belajar siswa melalui tes.
b.
Menganalisis kemampuan guru dalam
pelajaran Pendidikan agama islam bahan
ajar menyakini kitab-kitab Allah melalui lembar observasi.
4.
Refleksi
Peneliti mengkaji, melihat dan mengevaluasi atas hasil dari
tindakan. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti bersama guru dapat melakukan
revisi perbaikan terhadap rencana awal.4
C. Variabel Penelitian
D. Variable penelitian menggunakan variable bebas. Variabel penelitian ini
juga disebut sebagai istilah variable
stimulus atau pengaruh,
yang mana mengalami
perubahan yang disebabkan karena variable ini. Adapun variable
yang akan peneliti
lakukan dalam penelitian Tindakan kelas (PTK) adalah menganalisis hasil
belajar peserta didik dalam menguasai materi menyakini Mengenal Asmaul Husna.
E.
Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil, untuk mendapatkan data yang relevan
dengan masalah yang diteliti, maka dalam hal ini
penelitian yang terhitung mulai dari persiapan kelapangan sampai selesai
penelitian yaitu selama 1 bulan. Adapun mengenai lama penelitian tindakannya
yaitu 2 siklus yang dilakukan selama 4 minggu (1 bulan). Penelitian ini akan
dilaksanakan pada 17 September s/d 16 desember 2024
F.
Adapun lokasi dalam penelitian ini bertempat di SDN No. 098/VI
Bangko VI yang
merupakan lembaga pendidikan yang terletak
di kecamatan bangko kabupaten merangin.
.
G. Populasi dan Sampel
Adapun jumlah populasi dalam penelitian Tindakan kelas ini adalah siswa-
siswi kelas 4 semester
ganjil di SDN No.098/VI Bangko VI dengan jumlah 15 siswa yang terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Alasan
dipilihnya kelas ini karena di SDN No. 098/VI Bangko VI yaitu:
1.
Rendahnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan agama Islam.
2.
Kurangnya pendekatan yang tepat
dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan agama Islam bahan
ajar Mengenal Asmaul Husna
3.
Metode yang digunakan guru kuarang
bervariatif sehingga menimbulkan kemalasan dalam belajar yang berakibat
rendahnya hasil belajar yang didapat siswa.
a.
Kurangnya keterlibatan siswa dalam
kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, sehingga siswa hanya mendengarkan
materi yang disampaikan oleh guru.
4.
Jenis, Sumber
dan Teknik Pengumpulan Data
a. Jenis
Ada dua jenis
data pada umumnya yaitu data kuantitatif dan data kualitatif yang akan dijelaskan di bawah ini, penulis
lebih mempokuskan pada data kuantitatif dalam melakukan analisis ini.
-
Data kuantitatif
Data kuantitatif
merupakan data atau informasi yang di dapatkan dalam bentuk angka. Dalam bentuk
angka ini maka data kuantitatif dapat diproses
menggunakan rumus matematika atau dapat juga dianalisis dengan system statistic.
-
Data kualitatif
Data kualitatif
merupakan data yang berbentuk kata-kata atau verbal. Cara memperoleh data
kualitatif dapat dilakukan melalui wawancara.
b. Sumber Data
Dalam pengumpulan sumber data, peneliti melakukan
pengumpulan sumber data dalam wujud data primer dan data sekunder.
-
Data primer
Data Primer ialah jenis dan sumber data penelitian yang di
peroleh secara langsung dari sumber pertama (tidak melalui perantara),baik
individu maupun kelompok. Jadi data
yang di dapatkan secara langsung.Data primer secara khusus di lakukan untuk
menjawab pertanyaan penelitian. Penulis mengumpulkan data primer dengan metode survey dan juga metode observasi. Metode survey ialah
metode yang pengumpulan data primer yang menggunakan pertanyaan lisan dan
tertulis. Penulis melakukan wawancara kepada pemilik usaha woodshouse untuk mendapatkan data atau
informasi yang di butuhkan. Kemudian penulis juga
melakukan pengumpulan data dengan metode observasi. Metode observasi ialah metode pengumpulan data primer
dengan melakukan pengamatan terhadap aktivitas dan kejadian tertentu yang
terjadi
-
Data sekunder
Data Sekunder
merupakan sumber data suatu penelitian yang di peroleh peneliti secara
tidak langsung melalui
media perantara (di peroleh atau
dicatat oleh pihak lain). Data sekunder
itu berupa bukti,catatan atau laporan historis
yang telah tersusun dalam arsip atau data dokumenter
c. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan
untuk pengumpulan data dalam
penelitian adalah sebagai berikut :
- Tes
Tes merupakan suatu cara untuk melakukan penilaian
yang berbentuk tugas-tugas yang
harus dikerjakan untuk mendapatkan data tentang nilai hasil belajar siswa yang
dapat dibandingkan dengan yang dicapai kawan- kawannya atau nilai standar yang
ditetapkan, dan aspek yang paling dilihat.
dalam hal ini Wina Sanjaya memberikan penjelasan tentang tes adalah “instrumen pengumpulan
data untuk mengukur kemampuan siswa dalam aspek kognitif, atau penguasaan
tingkat materi pembelajaran.”7 Pada penelitin pra siklus peneliti
mengunakan hasil test UTS (ujian tengah semester), sedangkan untuk penilaian
pada tahap siklus I dan siklus II peneliti mengunakan tes tulis sebagai alat penilaian.
-
Observasi
Observasi merupakan suatu kegiatan pemusatan
perhatian terhadap suatu
objek dengan mengunakan seluruh alat indra. Nana Syaodih sukmadinata
menjelaskan observasi adalah “Suatu tehnik atau cara mengumpulkan data dengan
jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan
yang sedang berlangsung.”9Observasi digunakan untuk mencatat atau
memantau setiap kegiatan yang dilakukan siswa dan guru di dalam pembelajaran fiqih karena dari pemantauan ini dapat ditemukan kelemahan berbagai kelemahan
sehingga dapat ditindak lanjuti untuk diperbaiki pada siklus berikutnya.
-
Wawancara
Wawancara adalah “Teknik pengumpulan data dengan
menggunakan bahasa lisan kepada subyek yang
diteliti secara tatap muka ataupun melalui media tertentu.”10Wawancara menurut
Wina Sanjaya, merupakan tehnik pengumpulan data secara tatap muka atau melalui
media tertentu. Pada
penelitian ini
peneliti mewawancarai guru bidang fiqih untuk mndaatkan informasi mengenai
hasil siswa dalam belajar fiqih.
- Dokumentasi
Dokumentasi adalah pengumpulan data-data mengenai hal-hal yang berupa
catatan, arsip dan lain-lain.Teknik ini untuk mendukung dalam mendapatkan
data-data yang lebih akurat yang tentunya yang berkaitan dengan penelitian
ini.Untuk penelitian tindakan kelas ini, peneliti mengambil dokumentasi berupa
foto atau gambar pada saat penelitian tindakan kelas berlangsung.
5.
Teknik Analisis
dan Pengujian Hipotesis (Jika ada)
6. Teknik analisis
Data yang telah diperoleh dan
dikumpulkan kemudian akan dianalisis. Adapun langkah-langkah yang ditempuh
untuk menganalisis data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai
berikut:
a.
Tes
Adapanya tes dilakukan untuk
mengetahui presentasi ketuntasan belajar siswa dalam suatu kelas melalui
penilaian berikut ini:
P = f x
100
N
Keterangan : P : presentasi
F : jumlah siswa yang mencapai ketuntasan N: jumlah seluruh
siswa
Adapun untuk mengetahui nilai-nilai rata-rata siswa dilakukan melalui penilaian berikut ini
X=∑ˣ Keterangan:
ᴺ
x :
Nilai rata-rata siswa
∑ :
j umlah nilai siswa N : Jumlah nilai siswa
Standar ketuntasaan belajar siswa ditentukan dari
hasil persentase penguasaan siswa pada kompetensi dasar dalam suatu materi tertentu kriteria ketuntasan belajar
setiap kompetensi dasar berkisar anatara 0- 100%.
b.
Observasi
Adanya observasi untuk mengetahui kaeaktifan siswa
dalam mengikuti pembelajaran fiqih dan untuk mengetahui kemampuan guru dalam menyampaikan materi
pelajaran dengan menggunakan metode demotrasi (%) = n/N x 100%
Keterangan:
% = Presentasi keaktifan
siswa n
= Jumlah skor yang diperoleh N = Jumlah skor
maksimal
Perhitungan presentasi kinerja guru dalam menjelaskan materi fiqih menggunakan metode demontrasi sebagai berikut:
Presentasi (%) = n/N x 100%
% = Presentasi keaktifan siswa n
= Jumlah skor yang diperoleh N = Jumlah skor
maksimal
Perhitungan presentasi kinerja guru dalam menjelaskan materi fiqih menggunakan metode demontrasi sebagai berikut:
Keterangan:
% = Presentasi keaktifan
siswa n
= Jumlah skor yang diperoleh
N= Jumlah
skor maksimal
Tabel keaktifan siswa dan kinerja guru
|
No |
Nilai |
Kritetia |
|
1 |
< 25% |
Kurang |
|
2 |
26% - 50% |
Sedang |
|
3 |
26% -75% |
Baik |
|
4 |
75% |
Baik sekali |
7. Pengujian hipotesis
Penelitian ini
dilakukan dua siklus dan setiap siklus dengan prosedur pelaksanaan perencanaan,
tindakan, observasi, dan refleksi. Melalui prosedur tersebut dapat diamati
tentang pengetahuan materi Mengenal
Asmaul Husna melalui
media pembelajaran PAKEM pada siswa klas 4 SDN No. 098 VI Bangko VI, sehingga himpotesis
tindakan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah:
a.Terjadi peningkatan aktifitas belajar siswa dalam materi Mengenal Asmaul Husna setelah
menggunakan model pembelajaran PAKEM
b.Terdapat peningktan prestasi belajar Pendidikan agama islam siswa bahan ajar Mengenal Asmaul Husna setelah
menggunakan model pembelajaran PAKEM
penelitian dari mulai tahap identifikasi awal, rencana dan pelaksanaan tindakan,
baik bersifat personal
maupun gagasan-gagasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
1. Saturasi (kejenuhan). Karena keterbatasan waktu penelitian, saturasi
juga dijadikan salah satu teknik validasi tindakan
dan data. Dengan teknik ini peneliti memastikan bahwa tindakan dan hasil perbaikan
ditetapkan telah optimal
dilakukan dengan pertimbangan bahwa potensi peubah,
baik yang terdapat pada peneliti, subjek penelitian, fasilitas, waktu dan faktor-faktor penentu perubahan lainnya sudah sampai batas kemampuan optimal saat itu.
BAB IV
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hubungan Pembelajaran Model PAKEM dengan Ketuntasan
Belajar
Suatu pokok bahasan atau sub pokok bahasan dianggap tuntas secara
klasikal jika siswa yang mendapat nilai 65 lebih dari atau sama dengan
85%, sedangkan seorang siswa dinyatakan tuntas belajar pada pokok
bahasan atau sub pokok bahasan tertentu jika mendapat nilai minimal 65.
1. Siklus
I
a. Tahap
Perencanaan
Pada
tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari
rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang
mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengelolaan model
pembelajaran PAKEM, dan lembar observasi aktivitas guru dan siswa.
b. Tahap
Kegiatan dan Pelaksanaan
Pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 4 November 2024 di Kelas 4 SDN No. 098/VI Bangko VI jumlah siswa 15 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai
pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah
dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan
belajar mengajar.
Pada
akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah
dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut.
Tabel
4.1. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I
|
No |
Uraian |
Hasil
Siklus I |
|
1 2 3 |
Nilai
rata-rata tes formatif Jumlah
siswa yang tuntas belajar Persentase
ketuntasan belajar |
70,00 15 68,18 |
Dari tabel
di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan pembelajaran model PAKEM
diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 70,00 dan ketuntasan
belajar mencapai 68,18% atau ada 15 siswa dari 22 siswa sudah tuntas belajar.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa
belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ³ 65 hanya
sebesar 68,18% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu
sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum
mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan pembelajaran
model PAKEM.
c. Refleksi
Dalam
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan
sebagai berikut:
1) Guru
kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan
pembelajaran
2) Guru
kurang maksimal dalam pengelolaan waktu
3) Siswa
kurang aktif selama pembelajaran berlangsung
d. Refisi
Pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga
perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya.
i.
Guru perlu lebih terampil dalam
memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana
siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan.
ii.
Guru perlu mendistribusikan waktu
secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan
memberi catatan.
iii.
Guru harus lebih terampil dan
bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias.
2. Siklus
II
a. Tahap
perencanaan
Pada
tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari
rencana pelajaran 2, soal tes formatif 2 dan alat-alat pengajaran yang
mendukung.
b. Tahap
kegiatan dan pelaksanaan
Pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 11 November 2024 di Kelas IV dengan jumlah siswa IV siswa. Dalam hal ini
peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu
pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga
kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II.
Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar
mengajar.
Pada
akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah
dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun data hasil
penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut.
Tabel
4.2. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II
|
No |
Uraian |
Hasil
Siklus II |
|
1 2 3 |
Nilai
rata-rata tes formatif Jumlah
siswa yang tuntas belajar Persentase
ketuntasan belajar |
77,73 17 79,01 |
Dari
tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 77,73 dan
ketuntasan belajar mencapai 79,01% atau ada 17 siswa dari 22 siswa sudah tuntas
belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar
secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I.
Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan
bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan
berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah
mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dengan menerapkan
pembelajaran model PAKEM.
c. Refleksi
Dalam
pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai
berikut.
1) Memotivasi
siswa
2) Membimbing
siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep
3) Pengelolaan
waktu
d. Revisi
Rancangan
Pelaksanaan
kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka
perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus II antara lain:
i.
Guru dalam memotivasi siswa
hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar
berlangsung.
ii.
Guru harus lebih dekat dengan
siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk
mengemukakan pendapat atau bertanya.
iii.
Guru harus lebih sabar dalam
membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep.
iv.
Guru harus mendistribusikan waktu
secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang
diharapkan.
v.
Guru sebaiknya menambah lebih
banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan
pada setiap kegiatan belajar mengajar.
3. Siklus
III
a. Tahap
perencanaan
Pada
tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari
rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang
mendukung.
b. Tahap
kegiatan dan pengamatan
Pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 18 November 2024 di Kelas IV dengan jumlah siswa 15 siswa. Dalam hal ini
peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu
pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga
kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III.
Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar
mengajar.
Pada
akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah
dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun data hasil
penelitian pada siklus III adalah sebagai berikut.
Tabel
4.3. Hasil Formatif Siswa Pada Siklus III
|
No |
Uraian |
Hasil
Siklus III |
|
1 2 3 |
Nilai
rata-rata tes formatif Jumlah
siswa yang tuntas belajar Persentase
ketuntasan belajar |
82,73 13 86,36 |
Berdasarkan
tabel di atas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 82,73 dan dari 22
siswa telah tuntas sebanyak 13 siswa dan 2 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal
ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 86,36% (termasuk kategori
tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus
II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh
adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran model PAKEM
sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga
siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan.
c. Refleksi
Pada
tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih
kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran model
PAKEM. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut:
1)
Selama proses belajar mengajar
guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa
aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing
aspek cukup besar.
2)
Berdasarkan data hasil pengamatan
diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung.
3)
Kekurangan pada siklus-siklus
sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih
baik.
4)
Hasil belajar siswa pada siklus
III mencapai ketuntasan.
d. Revisi
Pelaksanaan
Pada
siklus III guru telah menerapkan pembelajaran model PAKEM dengan baik dan
dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses
belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi
terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya
adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar
pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan model
pembelajaran PAKEM dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan
pembelajaran dapat tercapai.
B. Pembahasan
1. Ketuntasan Hasil
Belajar Siswa
Melalui hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa pembelajaran model PAKEM memiliki dampak positif dalam
meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin
mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan
belajar meningkat dari siklus I, II, dan III) yaitu masing-masing 68,18%,
79,01%, dan 86,36%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal
telah tercapai.
2. Kemampuan
Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan
analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan
menerapkan model pembelajaran PAKEM dalam setiap siklus mengalami peningkatan.
Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat
ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pad setiap siklus yang
terus mengalami peningkatan.
3. Aktivitas
Siswa Dalam Pembelajaran
Berdasarkan
analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran PAI pada
pokok bahasan kisah nabi Ibrahim a.s, dan nabi Ismail a.s dengan model
pembelajaran PAKEM yang paling dominan adalah, mendengarkan/memperhatikan
penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat
dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif.
Sedangkan untuk aktivitas
guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah kegiatan belajar
mengajar dengan menerapkan pengajaran konstekstual model pengajaran berbasis
masalah dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di
antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep,
menjelaskan materi yang sulit, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana
prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.
Komentar
Posting Komentar