PTK PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA MATERI JUJUR DAN MENEPATI JANJI KELAS IX SMP NEGERI 1 MERANGIN

 

 

 

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

PADA MATERI JUJUR DAN MENEPATI JANJI KELAS IX SMP NEGERI 1 MERANGIN

 

 

 

 

 

 

 

DISUSUN OLEH :

 

 

NAMA : HABIBAH, S.Pd.I NIP     : -

 

 

 

 

 

 

 

SMP NEGERI 1 MERANGIN

 DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN                        KABUPATEN MERANGIN

2021


 

 

HALAMAN PENGESAHAN

Judul penelitian : Penerapan Model Problem Based Learning dalam Meningkatkan Hasil Belajar pada Materi Jujur dan Menepati Janji Kelas IX SMP Negeri 1 MERANGIN

 

Yang dipersiapkan dan disusun oleh :

Nama               : HABIBAH, S. Pd, I

NIP                 : -

Unit Kerja       : SMP Negeri 1 MERANGIN

 

 

 

MERANGIN,              Februari 2021 Kepala Sekolah

 

 


 

 

 

 


 

 

 

 


 

 

 

 

ABSTRACT

This research aimed to improve the student’s learning outcomes of the IX grade SMP Negeri Merangin year of 2020/2021 in subjects by implementating Problem Based Learning (PBL) model. This research is a classroom action research that included in two cycle with 3 confluence every cycle. Each cycle consist of planning, acting, observing, and reflecting. The first and second cycle discussed the subject of the honest and keep promises. The subject of this research is the student of IX grade SMP Negeri 1 Merangin  year of 2020/2021 which consist of 24 students. The main technique in data collecting used test, and observation, meanwhile the proponent technique used documentation. The result of this research showed that the implementation of Problem Based Learning model can improve learning outcomes student of IX grade in Islamic Religious Education and character subjects start from pre-action, cycle I and cycle II is 50,65 in preaction stage, increase to be 67,91 in cycle I and became 83,75 in cycle II. The conclution of this research is the implementation of Problem Based Learning (PBL) model can improve learning outcomes student of IX grade SMP Negeri 1 Merangin year of 2020/2021.

Key word : Classroom Action Research, Problem Based Learning, Learning Outcomes of Student.

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas IX SMP Negeri 1 Merangin tahun ajaran 2020/2021 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan 3 kali pertemuan setiap siklusnya. Setiap siklus terdiri dari beberapa tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Siklus pertama dan kedua membahas materi pokok Jujur dan Menepati Janji. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas IX Tahun Ajaran 2020/2021 yang terdiri dari 24 peserta didik. Teknik utama dalam


 

 

pengumpulan data dilakukan dengan cara tes dan observasi, sementara teknik pendukung dengan menggunakan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas IX mulai dari pratindakan, siklus I dan siklus II, yaitu 50,65 pada tahap pratindakan meningkat menjadi 67,91 pada siklus I dan kembali meningkat menjadi 83,75 pada siklus II. Simpulan penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti peserta didik kelas IX SMP Negeri 1 Merangin.

 

Kata Kunci : Penelitian Tindakan Kelas, Problem Based Learning (PBL), Hasil Belajar


 

 

KATA PENGANTAR

 


 

Puji Syukur Kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning pada Materi Jujur Dan Menepati Janji Kelas IX SMP Negeri 1 Merangin.

 

Tujuan penulisan Penelitian Tindakan Kelas ini dimaksudkan sebagai acuan sistem pembelajaran peneliti agar lebih baik lagi dalam mengajar

Selama pembuatan PTK ini penulis menyadari telah banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari semua pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1.  Erida Simanungkalit, S. Pd. selaku kepala sekolah yang selalu memberikan Doa, dukungan, dan motivasi kepada guru-guru untuk membuat PTK.

2.  Dewan guru, staf, dan peserta didik siswi kelas IX SMPN 1 MERANGIN yang telah memberikan bantuan selama penulis melakukan penelitian.

3.  Keluarga tercinta yaitu Orang Tua, adik-adik tercinta, serta keluarga besar yang selalu memberikan semangat, doa dan kasih sayang kepada penulis sehingga termotivasi untuk menyelesaikan penulisan PTK ini.

 

4.  Semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu yang sudah memberikan dukungan dan doanya selama ini.

Semoga amal baik dari semua pihak mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa PTK ini masih jauh dari sempurna. Oleh


 

 

karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Dengan segala kerendahan hati penulis berharap semoga PTK ini bermanfaat bagi semua pihak. Amin.

 

 

 

 


Tanjung Palas Utara, Februari 2021 Penulis,

HABIBAH, S.Pd.I


 

 

DAFTAR ISI


HALAMAN PENGESAHAN.................................................................... ii

ABSTRACT................................................................................................ v

ABSTRAK.................................................................................................. v

KATA PENGANTAR.............................................................................. vii

DAFTAR ISI............................................................................................ viii

DAFTAR TABEL...................................................................................... xi

DAFTAR GAMBAR................................................................................ xii

DAFTAR LAMPIRAN............................................................................ xiii

BAB I PENDAHULUAN......................................................................... 1

A.               Latar Belakang Masalah................................................................. 1

B.                Identifikasi Masalah....................................................................... 2

C.                Batasan Masalah............................................................................. 2

D.               Rumusan Masalah.......................................................................... 2

E.                Tujuan Penelitian............................................................................ 2

F.                Manfaat Penelitian......................................................................... 3

BAB II LANDASAN TEORI................................................................... 4

A.               Hasil Belajar................................................................................... 4

B.                Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)................... 5

C.                Materi Belajar................................................................................. 7

BAB III METODE PENELITIAN.......................................................... 12

A.               Metode Penelitian........................................................................ 12

B.                Setting Penelitian......................................................................... 12

C.                Subjek Penelitian.......................................................................... 12

D.               Teknik Pengumpulan Data........................................................... 12

E.                Teknik Analisis Data.................................................................... 13

F.                Rancangan Siklus Penelitian........................................................ 15

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN....................... 18

A.               Gambaran Umum Lokasi Penelitian............................................. 18

B.                Hasil Penelitian............................................................................. 18

C.                PEMBAHASAN......................................................................... 19

BAB V PENUTUP................................................................................... 24

A.               KESIMPULAN........................................................................... 24

B.                Saran............................................................................................. 24

DAFTAR PUSTAKA............................................................................... 26

LAMPIRAN.............................................................................................. 27





 

 

BAB I PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang Masalah

Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam konsep umum seringkali dipandang sebagai mata pelajaran yang membosankan. Hal tersebut dapat kita lihat dari adanya ketidak tuntasan peserta didik kelas IX SMPN 1 Merangin saat ulangan harian pada masing-masing kompetensi dasar, sehingga guru Pendidikan Agama Islam harus mulai mengembangkan sistem pembelajaran inovatif untuk membangkitkan minat peserta didik terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Sehubungan dengan hal tersebut model mengajar yang digunakan oleh guru hendaknya bervariasi sesuai dengan tujuan dan materi yang diajarkan sehingga akan bisa membuat peserta didik lebih bergairah dalam belajar. Metode atau model yang digunakan guru dalam interaksi belajar mengajar merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dan kelancaran proses pembelajaran. kendala pembelajaran PAI yang dihadapi, seperti penguasaan kelas, menerapkan model pembelajaran yang tepat, ketika proses penjelasan, peserta didik cenderung pasif ketika proses pembelajaran berlangsung, peserta didik mengantuk dan bosan saat guru menjelaskan materi, serta hasil ulangan masih banyak yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang diharapkan yaitu 78 keatas, 71% peserta didik hasil ulangannya masih dibawah kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Berdasarkan kondisi tersebut peserta didik membutuhkan inovasi model pembelajaran baru untuk merangsang daya tarik peserta didik untuk meningkatkan hasil belajar PAI. Dalam konteks ini maka digunakan model pembelajaran Problem Based Learning.

Problem Based Learning merupakan suatu model pengajaran dengan pendekatan pembelajaran peserta didik pada masalah autentik. Masalah autentik dapat diartikan sebagai suatu masalah yang sering ditemukan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.


 

 

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka dilakukan penelitian dengan judul: Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning pada Materi Jujur Dan Menepati Janji Kelas IX SMP Negeri 1 Merangin

 

B.      Identifikasi Masalah

Memperhatikan masalah diatas kondisi yang ada saat ini adalah:

1.  Pembelajaran PAI dikelas kurang kreatif (cendrung ceramah)

2.  Model pembelajaran yang digunakan kurang sesuai dengan materi yang disampaikan

3.  Rendahnya hasil belajar peserta didik untuk pembelajaran PAI

 

 

C.     Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas, dapat dibatasi masalah sebagai berikut:

1.   Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dan hasil belajar peserta didik SMPN 1 Merangin

2.  Penelitian dibatasi pada peserta didik kelas IX

3.  Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan materi Jujur dan Menepati Janji

 

D.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah di kemukakan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:

1.     Apakah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning

dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik?

2.  Bagaimana penerapan model pembelajaran Problem Based Learning?

 

E.      Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pengaruh penerapan model pembelajaran berbasis


 

 

masalah (problem based learning) terhadap peningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi ‘jujur dan menepati janji’.

 

F.      Manfaat Penelitian

Penelitian yang akan peneliti lakukan di SMPN 1 Merangin diharapkan dapat bermanfaat untuk :

1.        Bagi guru:

Untuk memperoleh sumbangan pemikiran untuk pihak sekolah khususnya guru Pendidikan Agama Islam dalam rangka perbaikan proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar peserta didik di SMPN 1 Merangin

2.        Bagi peserta didik:

Untuk menjadikan peserta didik kelas IX SMPN 1 Merangin  memiliki hasil belajar yang baik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam


 

 

BAB II LANDASAN TEORI

A.     Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Setelah suatu proses belajar berakhir, maka peserta didik memperoleh suatu hasil belajar. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Tujuan utama yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran adalah hasil belajar. Hasil belajar digunakan untuk mengetahui sebatas mana peserta didik dapat memahami serta mengerti materi tersebut. Menurut Hamalik (2004: 31) hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengetahuan-pengetahuan, sikap- sikap, apresiasi, abilitas, dan keterampilan.

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2013: 3) “hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi peserta didik, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar”. Menurut Hamalik (2004: 49) “mendefinisikan hasil belajar sebagai tingkat penguasaan yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan”. Sedangkan, Winkel (2009) mengemukakan bahwa “hasil belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang”.

Hasil belajar merupakan pengukuran dari penilaian kegiatan belajar atau proses belajar yang dinyatakan dalam symbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu. Menurut “Susanto (2013: 5) perubahan yang terjadi pada diri peserta didik, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari belajar”.

Pengertian tentang hasil belajar dipertegas oleh Nawawi (dalam Susanto, 2013: 5) yang menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan peserta didik dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi


 

 

pelajaran tertentu Menurut Sudjana (2009: 3) “mendefinisikan hasil belajar peserta didik pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotor”.

Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, dapat penulis simpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu hasil yang diperoleh peserta didik setelah peserta didik tersebut melakukan kegiatan belajar dan pembelajaran serta bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang dengan melibatkan aspek kognitif, afektif maupun psikomotor, yang dinyatakan dalam symbol, huruf maupun kalimat.

 

B.      Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

1.      Pengertian Model Pembelajaran

Problem Based Learning (PBL) adalah Model pembelajaran berbasis masalah atau dikenal dengan Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang berpusat pada siswa dimana siswa berupaya menemukan pemecahan masalah dengan menggunakan informasi dari berbagai sumber serta pengalaman sehari-hari. Problem Based Learning (PBL) membiasakan siswa untuk percaya diri dalam menghadapi masalah dengan membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan keterampilan menyelesaikan masalah.

Model pembelajaran problem based learning (PBL) menurut Ni Made adalah Model pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang mengajarkan siswa bagaimana menggunakan konsep dan proses interaksi untuk menilai apa yang mereka ketahui, mengidentifikasi apa yang ingin diketahui, mengumpulkan informasi dan secara kolaborasi mengevaluasi hipotesisnya berdasarkan data yang telah dikumpulkan. (2008:76)

Pengertian tersebut mengandung arti bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat membantu siswa untuk belajar menggunakan konsep apa yang mereka pahami dan mengumpulkan informasi sebanyak- banyaknya. Dalam PBL juga dibutuhkan kerjasama yang kuat antar siswa. Mereka akan bekerjasama dalam mengumpulkan informasi dan menemukan hipotesis


 

 

permasalahan untuk kemudian secara bersama-sama saling menukar informasi untuk mencari jalan keluar dari sebuah permasalahan yang sedang dianalisis.

2.      Langkah Pembelajaran dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Pembelajaran berdasarkan masalah memiliki prosedur yang jelas dalam melibatkan siswa untuk mengidentifikasi permasalahan. Menurut Mohammad Nur (Rusmono, 2014:81) langkah-langkah atau tahapan pembelajaran model Problem Based Learning adalah sebagai berikut :

1)     Tahap 1 : Mengorganisasikan siswa kepada masalah.

2)     Tahap 2 : Mengorganisasikan siswa untuk belajar.

3)     Tahap 3 : Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok

4)     Tahap 4 : Mengembangkan dan mempresentasikan hasil karya serta pameran

5)     Tahap 5 : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Berdasarkan langkah pembelajaran yang dikemukakan oleh Mohammad

Nur, penulis menyimpulkan langkah-langkah atau sintaks dalam menggunakan model PBL yaitu:

1)     Pengenalan masalah kepada siswa berdasarkan materi yang diajarkan kepada siswa.

2)     Siswa diorgaisasikan dalam beberapa kelompok untuk melakukan diskusi dalam penyelesaian masalah.

3)     Hasil analisis kelompok siswa dipresentasikan kepada kelompok siswa yang lain.

4)     Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi       mengenai hasil penyelidikan yang dilakukan oleh siswa.

3.      Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Problem Based Learning

(PBL)

Secara umum terdapat kelebihan serta kekurangan dalam setiap model pembelajaran, begitu pula dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran berdasarkan masalah menurut Sanjaya (2006:220) akan penulis jabarkan sebagai berikut:


 

 

1)     Kelebihan Model Pembelajaran PBL

a)            Pemecahan masalah merupakan teknik yang bagus untuk memahami isi pembelajaran.

b)           Pemecahan masalah dapat merangsang kemampuan siswa untuk menemukan pengetahuan baru bagi mereka.

c)            Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa.

d)           Pemecahan masalah dapat membantu siswa mengembangkan pengetahuannya serta dapat digunakan sebagai evaluasi diri terhadap hasil maupun proses belajar.

e)            Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk berlatih berfikir dalam menghadapi sesuatu.

f)             Pemecahan masalah dianggap menyenangkan dan lebih digemari siswa.

g)           Pemecahan masalah memberi kesempatan siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam kehidupan nyata.

2)     Kelemahan dari Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut :

a)            Persiapan pembelajaran yaitu mengenai alat dan konsep yang kompleks.

b)           Sulitnya Mencari Problem yang Relevan.

c)            Konsumsi Waktu.

 

 

3.Manfaat Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Menurut Sudjana “manfaat khusus yang diperoleh dari metode Dewey adalah metode pemecahan masalah. Tugas guru adalah membantu para peserta didik merumuskan tugas-tugas, dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran. Objek pelajaran tidak dipelajari dari buku, tetapi dari masalah yang ada di sekitarnya

 

C.     Materi Belajar

Materi jujur dan menepati janji

1.  Memahami Perilaku Jujur

Jujur berasal dari Bahasa Arab yaitu ash shidiqu yang berarti memiliki arti nyata atau berkata benar. Artinya kejujuran merupakan bentuk kesesuaian antara


 

 

ucapan dan perbuatan atau antara informasi dan kenyataan. Istilah ini juga dijadikan julukan untuk Nabi Muhammad Saw. yaitu sidqiq Yang memiliki arti atau sifat jujur. Ada sebuah hadist mengatakan bahwa orang munafik adalah orang yang berkata dusta. Perhatikan hadist berikut ini:

 

Dari abu Hurairah r.a. : “ Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda tanda-tanda orang munafik ada tiga perkara yaitu apabila berkata,dia berdusta;apabila dia berjanji,dia mengingkari;dan apabila diberi kepercayaan,dia mengkhianati.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

 

Allah SWT secara tegas memerintahkan orang-orang yang beriman untuk berkata benar. Perhatikan surah Al Ahzab/33:70 berikut :

 


س ِديدًا


وقُولُوا قَ ْو ًل


َّللا


ا أَيُّ َها الَ ِذي  َن آ َمنُوا اتَقُوا


Artinya : “wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al ahzab 33:70)

 

Dari ayat tersebut, jelas bahwa Allah SWT menyeru orang-orang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dan berkata benar. Bertakwa berarti bersungguh- sungguh dalam menaati semua perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Hakikat dari takwa adalah takut kepada Allah SWT, takut berbuat salah dan dosa. Orang yang bertakwa akan melandasi segala ucapan dan perbuatannya dengan kejujuran.

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

2.Manfaat Perilaku Jujur


Gambar 1 Manfaat Jujur


 

 

l   Hidup menjadi lebih mudah.

l   Dipercaya banyak orang.

l   Membimbing kita kepada kebaikan dan surga.

l   Memberi pahala.

l   Membebaskan kita dari golongan orang-orang munafik 3.Penerapan Perilaku Jujur

l  Jujur dalam niat.

l  Jujur dalam perkataan.

l  Jujur dalam perbuatan

 

 

Contoh penerapan sikap jujur dikehidupan sehari hari antara lain:

l  Tidak menyontek ketika ujian.

l  Tidak melakukan titip absen kepada temannya demi bisa membolos.

l  Tidak    malu   bertanya   kepada   guru   apabila    belum memahami materi pembelajaran yang disampaikan.

l  Membayar harga barang yang dibeli sesuai ketentuan kantin sekolah.

l  Mengembalikan buku yang dipinjam dari perpustakan sesuai tenggang waktu yang ditentukan.

 

Hikmah Berperilaku Jujur

l   Perasaan enak dan hati tenang.

l 

.

Mendapat kemudahan dalam hidupnya

l  Selamat dari azab dan bahaya.

l   Dijamin masuk surga.

l  Dicintai Allah SWT dan Rasul-Nya.

 

 


Memahami Perilaku Menepati Janji


 

Gambar 2 Jujur dalam Ujian


 

Janji adalah ucapan seseorang kepada orang lain yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat. Janji adalah hutang, hutang akan diminta pertanggungjawabannya sampai diakhirat. menepati janji merupakan


 

 

wujud memuliakan, menghormati dan menghargai sesama manusia. orang yang selalu menepati janji akan mudah menjalin hubungan silaturahmi dengan orang lain. dalam kehidupan ini, manusia selalu terikat oleh pergaulan dengan orang lain. dengan kata lain manusia selalu membutukan orang lain. pergaulan harus dilandasi akhlak mulia. makin mulia akhlak seseorang. akan makin besar pula kehormatan dan kewibawaanya dimasyarakat.

 

perhatikan hadist berikut:

Dari abu hurairah r.a berkata, Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya yang terbaik diantara kamu adalah siapa yang paling baik menunaikan janji."

Seorang mukmin harus menunaikan janji dengan sebaik-baiknya. Allah SWT. mengancam orang orang yang melanggar janji dengan azab yang pedih. Firman Allah Swt dalam al-Qur'an surat Ali Imran/3ayat77 di bawah ini

 


ْو َم ا ْل ِق َيا َم ِة


ُر إِلَ ْي ِه ْم


َي ْن و َل


ّللاُ


و َل يُ َك ِل ُم  ُه ُم


خ ََل  َق لَ  ُه ْم فِي ا ْْل ِخ َرةِ


ِلي ًَل أُو َٰلَ ِئ  َك ل


وأَ ْي َمانِ ِه ْم ثَ َمنًا


ِّللا


ِإ  َن الَ ِذي  َن  َي  ْشتَ ُرو  َن بِ  َع ْه ِد


ب أَ ِلي ˚م


عذَا


ولَ ُه ْم


و َل يُ َز ِكي ِه ْم


 

 

Terjemah Arti: "Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih."(Q.S Ali Imran/3:77)

a.       Keutamaan Menepati Janji

Ø  Tergolong dalam manusia berakal.

Ø  Termasuk golongan Nabi Muhammad SAW.

Ø  Termasuk golongan orang-orang bertaqwa.

Ø  Bukan golongan orang munafik.

Ø  Menempati surga Firdaus.


 

 

b.      Hikmah Berperilaku Menepati Janji


Gambar 3 Indahnya menepati janji


 

 

Ø  Dapat dipercaya orang.

Ø  Mendapat nilai religius.

Ø  Mendapatkan keberkahan kehidupan.

Ø  Mendapatkan nilai-nilai kehidupan.

 

 

c.       Contoh penerapan prilaku menepati janji

 

 


A. Sekolah

Ø  Belajar dengan tekun

Ø  Tidak pernah terlambat ke sekolah B. Keluarga

Ø  Menghormati ayah dan ibu

Ø  Membantu orangtua setelah berjanji C. Masyarakat

Ø  Menggunakan hak pilih pada saat pemilu

Ø  Mengikuti aksi bela negara


Gambar 4 menepati janji hebat


 

 

BAB III METODE PENELITIAN

A.     Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan memperbaiki mutu pembelajaran di kelas. Hasil penelitian ini kemudian dibuat laporan sesuai dengan kondisi nyata yang dilakukan peneliti dikelasnya. Adapun pelaksanaan penelitian ini sekurang-kurangnya dilakukan minimal 2 siklus. Dengan tiga kali pertemuan ditiap siklusnya. Hasil refleksi dari siklus 1 sangat menentukan bentuk siklus berikutnya, karena hasil refleksi harus digunakan sebagai bahan masukan untuk perencanaan siklus berikutnya.

B.      Setting Penelitian

Setting penelitian merupakan lokasi dimana penelitian dilakukan, dan waktu adalah mengenai kapan dan berapa lama waktu yang digunakan untuk penelitian dari awal hingga akhir.

Tempat:

Penelitian dilakukan di SMPN 1 Merangin

 Waktu

Waktu pelaksanan penelitian 23 Februari 2021, semester genap tahun pelajaran 2020/2021.

C.     Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah peserta didik di kelas IX SMPN 1 Merangin, jumlah peserta didik tahun pelajaran 2021-2022 sebanyak 24 peserta didik yang tediri dari laki-laki 11 dan perempuan 13.

 

D.     Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

Observasi guru pada KBM, data diperoleh dari lembar observasi guru pada KBM yang diisi oleh guru sejawat yang bertindak sebagai observer dengan cara mengamati peneliti yang bertindak sebagai guru yang mengajar di kelas dengan mencheklist setiap aspek yang dinilai pada setiap pertemuan.


 

 

1.      Observasi aktivitas peserta didik belajar PAI, data diperoleh dari lembar observasi aktivitas belajar PAI peserta didik yang diisi oleh guru bidang studi yang bertindak sebagai observer dengan mencheklist setiap aktivitas yang dinilai pada setiap pertemuan.

2.      Dokumentasi, dokumentasi diperoleh dengan cara mengambil gambar segala bentuk aktivitas peserta didik pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

Data yang sudah terkumpul, kemudian didiskusikan dan dianalisis oleh peneliti dan guru bidang studi untuk perencanaan tindakan pada siklus berikutnya.

E.      Teknik Analisis Data

Adapun teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian adalah sebagai berikut:

1.  Data Tes

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) bidang studi Pendidikan Agama Islam kelas IX SMPN 1 Merangin  adalah 78. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pada siklus I dan siklus II, serta peningkatan presentasi belajar maka digunakan rumus sebagai berikut:


a.         Rata-rata Nilai

Ket:

x = Nilai peserta didik.

N = Jumlah peserta didik.35

 

b.         Persentase Ketuntasan Belajar

 


 

Ket:

KB = Persentase Ketuntasan Belajar.


 

 

F = Jumlah Peserta didik yang mendapat nilai diatas 78 N = Jumlah Seluruh Peserta didik.

Adapun acuan yang digunakan untuk mengetahui kriteria hasil belajar adalah sebagai berikut :

Tabel 1

Indikator hasil belajar peserta didik

 

Rentang

Nilai

Keterangan

85-100

A

Sangat baik

70-84

B

Baik

55-69

C

Cukup Baik

40-54

D

Kurang Baik

Table 1 Indikator Hasil Belajar Peserta Didik

 

2.  Data Observasi

Data observasi yang diperoleh digunakan untuk merefleksi tindakan yang telah dilakukan dan diolah secara deskriptif dengan menghitung:

 

Skor Pengamatan Setiap Aspek Yang Diamati pada lembar observasi guru dan peserta didik:

Tabel 2 Indikator Hasil Observasi

 

No

Kriteria

1

Baik (B)

2

Cukup (C)

3

Kurang(K)


 

Keterangan penilaian:


Table 2 Indikator Hasil Observasi


1.     Baik bila mendapatkan nilai 81 sampai dengan 100

2.     Cukup bila mendapatkan nilai 61 sampai dengan 80

3.     Kurang baik bila mendapatkan nilai kurang dari 61.


 

 

 

 

3. Dokumentasi

Adalah ditunjukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi foto-foto, data yang relevan, guru-guru, peserta didik serta benda-benda atau alat-alat yang dapat menjadi penunjang penelitian.

F.      Rancangan Siklus Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) mencoba untuk memperbaiki proses belajar mengajar di dalam kelas tersebut.

Menurut Suharsimi Arikunto “Penelitian tindakan kelas atau lebih dikenal dengan Action Research adalah sebuah kegiatan penelitian yang dilakukan di kelas Penelitian tindakan kelas berkembang dari penelitian tindakan. Oleh karena

itu, untuk memahami pengertian PTK perlu kita telusuri pengertian penelitian tindakan. Menurut Kemmis, penelitian tindakan adalah suatu bentukpenelitian reflektif dan kolektif yang dilakukan oleh peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran praktik sosial mereka.

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas (PTK) yaitu suatu penelitian yang dikembangkan berdasarkan permasalahan yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar di kelas. Dengan demikian, prosedur langkah-langkah pelaksanaan penelitian ini akan mengikuti prinsip-prinsip dasar penelitian tindakan yang telah umum dilakukan. Pada penelitian tindakan kelas ini terdiri dari empat rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang, pada penelitian ini peneliti menggunakan dua siklus. Prosedur penelitian ini tersebut terdiri dari empat tahap kegiatan setiap siklus, yaitu:

1.  Perencanaan (planning)

Dalam tahap ini peneliti merencanakan dengan merumuskan pertanyaan apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan dilakukan.

2.  Tindakan (acting)


 

 

Pada tahap ini peneliti melaksanakan apa yang telah direncanakan pada tahap perencanaan.

3.  Pengamatan (observing)

Peneliti melakukan pengamatan pada peserta didik selama proses belajar mengajar berlangsung dengan lembar observasi.

4.  Refleksi (reflection)

Pada tahap ini peneliti beserta guru menganalisis data yang telah diperoleh dari kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Hal ini kemudian dianalisis dan akan digunakan untuk merencanakan tindakan selanjutnya.

 

Secara rinci prosedur penelitian untuk setiap siklus dapat diuraikan sebagai berikut :

Siklus I

a.  Tahap Perencanaan Tindakan

1).  Menyiapkan program pembelajaran berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL).

2).  Menentukan materi yang akan diajarkan untuk setiap pertemuan.

3).  Membuat instrumen-instrumen penelitian, yaitu lembar observasi guru pada KBM, lembar observasi aktivitas belajar Pendidikan Agama Islam, , lembar kerja peserta didik peserta didik (LKPD) serta lembar soal pada akhir siklus ini.

b.  Tahap Pelaksanaan Tindakan

1).   Guru memberikan penjelasan mengenai materi dan langkah- langkah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) kepada peserta didik


 

 

2).   Guru melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi dengan menggunakan LKPD

3).   Guru memonitor kegiatan-kegiatan peserta didik pada saat proses pembelajaran

4).        Pada akhir pembelajaran guru dan peserta didik bersama-sama menyimpulkan materi pelajaran

5).   Guru memberikan Postest kepada peserta didik

6).   Guru memberikan tugas kepada peserta didik pada materi yang akan dibahas selanjutnya

c.  Tahap observasi

1). Observer (guru bidang studi) mencatat secara detail aktivitas guru dan peserta didik di kelas pada format observasi.

d.  Tahap Refleksi

Pada tahap ini guru bidang studi PAI melakukan refleksi. Refleksi dilakukan untuk mengkaji dan memproses data yang didapat saat dilakukan pengamatan atau observasi tindakan. Kemudian hasil refleksi digunakan untuk perbaikan pada tahap perencanaan siklus II


 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

 

A.     Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian ini berlokasi di SMP Negeri 1 Merangin. Sekolah ini terletak di jalan UPT. Pimping RT.01 Kecamatan Tanjung Palas Utara. Tenaga pengajar berjumlah 11 orang dan jumlah seluruh kelas di SMP Negeri 1 sebanyak 5 kelas. Jumlah seluruh peserta didik pada tahun ajaran 2020/2021 sebanyak 122 peserta didik. Khusus kelas IX yang diberi tindakan peserta didiknya berjumlah 24 orang serta dari pihak sekolah sebagai observator selama penelitian berlangsung adalah bapak Habibah, S. Pd. I. Selaku guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.

B.      Hasil Penelitian

Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Siklus pertama terdiri dari tiga kali pertemuan, siklus kedua juga terdiri dari tiga kali pertemuan. Pada setiap siklus dilakukan tes awal dan tes akhir untuk mengetahui kemampuan peserta didik atau hasil belajar peserta didik, kemudian dianalisis untuk mengetahui sejauh mana peningkatan hasil belajar peserta didik per siklus.

Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah hasil observasi, hasil belajar peserta didik. Hasil penelitian pada setiap siklus dapat diuraikan sebagai berikut:

1.      Siklus Pertama

Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar dilakukan post test kepada seluruh peserta didik untuk kemudian dibandingkan dengan nilai dasar yang sudah didapat berdasakan hasil pretest yang dilakukan pada awal siklus. Pada siklus ini nilai rerata pretest peserta didik adalah 36,25% dan setelah dilakukan post test nilai reratanya naik menjadi 67,910%, untuk nilai peningkatan hasil belajar peserta didik terlampir di halaman 40 pada lampiran 5. Akan tetapi, walaupun mengalami kenaikan guru harus tetap melakukan perbaikan pada siklus selanjutnya. Karena hasil yang didapat belum memenuhi standar yaitu 78 sesuai dengan KKM sekolah tersebut.


 

 

2.      Siklus II

Selanjutnya pada akhir tindakan, guru memberikan post test untuk mengukur kemampuan kognitif peserta didik selama kurang lebih 40 menit. Hasil rerata post test pada materi Jujur dan Menepati Janji ini adalah 83,75% dan ini dapat dilihat pada lampiran 11 dihalaman 44. Karena pada siklus ini nilai rerata peningkatan hasil belajar peserta didik telah mengalami peningkatan sehingga tidak perlu melanjutkan tindakan ke siklus berikutnya

 

C.     PEMBAHASAN

Model pembelajaran Problem Based Learning adalah suatu pembelajaran yang mengelompokkan peserta didik ke dalam beberapa kelompok

Suprihatiningrum (2014:215) Pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari lima langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan peserta didik dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja peserta didik. Yaitu; Mengorientasi peserta didik pada masalah, Mengorganisasi peserta didik untuk belajar, Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, Mengembangkan dan menyajikan hasil karya dan Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Data kondisi awal dalam penelitian tindakan kelas ini diperoleh setelah peneliti melakukan observasi dan tes pada pratindakan. Kemudian dari hasil pratindakan diketahui beberapa permasalahan dalam pembelajaran PAI Pada materi Jujur dan Menepati Janji di kelas IX, permasalahan yang harus segera diatasi adalah masih rendahnya hasil belajar peserta didik dengan rata-rata kelas 50,65.

Dari data pratindakan tersebut, kemudian dilaksanakan tindakan dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning pada siklus I dan siklus

II. Berikut merupakan deskripsi hasil penelitian yang didapatkan peneliti selama melaksanakan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning

Deskripsi Siklus I dan Siklus II


 

 

Setelah menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning, pada hasil belajar peserta didik kelas IX dapat diketahui hasil belajar peserta didik yang dapat digambarkan pada tabel berikut ini :

Tabel 3. Hasil Belajar Peserta didik Setiap Siklus

 

Tahap

Nilai Rata-rata Hasil Belajar Peserta didik

Pratindakan

50,65

Siklus I

67,91

Siklus II

83,75

Table 3 Hasil Belajar Peserta didik setiap siklus

 

Berdasarkan tabel 2 tersebut, dapat terlihat bahwa terdapat peningkatan rata-rata nilai hasil belajar mulai dari pratindakan, siklus I, hingga siklus II. Pada pratindakan, nilai rata-rata peserta didik hanya mencapai 50,65 hal ini masih jauh dibawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditentukan di SMP Negeri 1 Tanjung Palas Utara yaitu 78. Kemudian, dilaksanakan penelitian tindakan kelas dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning pada siklus I yang menunjukkan peningkatan hasil belajar peserta didik menjadi 67,91, hal ini sebenarnya belum mencapai indikator capaian penelitian yaitu >78 akhirnya peneliti bersama dengan guru kolaborator merasa perlu melanjutkan pelaksanaan siklus II, dari siklus II diketahui bahwa rata-rata hasil belajar peserta didik meningkat menjadi 83,75.

Adanya peningkatan rata-rata hasil belajar peserta didik juga didukung dengan adanya peningkatan jumlah peserta didik yang mengalami ketuntasan hasil belajar. Dari 24 peserta didik, pada saat pratindakan yang mengalami ketuntasan hasil belajar hanya berjumlah 7 peserta didik dengan presentase 31,7%, kemudian pada siklus I jumlah peserta didik yang mengalami ketuntasan hasil belajar meningkat menjadi 10 peserta didik dengan presentase 41,7%, dan pada siklus II jumlah peserta didik yang mengalami ketuntasan belajar meningkat

kembali menjadi 19 peserta didik dengan presentase 79,1%.

Dari keseluruhan tahap penelitian, mulai dari pratindakan, siklus I hingga siklus II dilaksanakan evaluasi belajar secara bertahap. Pada saat melakukan pratindakan, dilaksanakan evaluasi belajar peserta didik dengan rata-rata hasil


 

 

belajar peserta didik 50,65. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I, hasil belajar peserta didik menunjukkan kenaikan dengan rata- rata kelas 76,91. Hasil ini belum mencapai target yang telah ditetapkan yaitu skor rata-rata peserta didik >78, dan hasil ini belum maksimal dan perlu dilaksanakan tindakan pada siklus II untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Kemudian rata-rata hasil belajar peserta didik pada siklus II akhirnya meningkat menjadi 83,75. Hasil ini telah mencapai target skor yang ditetapkan yaitu >78.

Adanya pembentukan kelompok secara heterogen dan keterlibatan peserta didik dalam menganalisis masalah dan mencari solusi permasalahan membantu peserta didik untuk lebih memahami materi yang sedang dibahas, sebab mereka dapat aktif membaca, mencari berbagai informasi guna memperdalam materi dan berdiskusi dengan teman sebaya. Dalam kegiatan diskusi yang dibuat secara heterogen ini, terdapat perbedaan kemampuan kognitif peserta didik pada tiap kelompok sehingga peserta didik yang lebih pintar dapat membantu peserta didik dalam kelompoknya untuk memahami materi yang sedang dipelajari.

Meskipun secara keseluruhan ketuntasan hasil belajar peserta didik dan nilai rata-rata kelas IX mengalami peningkatan, tetapi apabila dilihat melalui hasil belajar yang diperoleh setiap peserta didik, menunjukkan bahwa tidak semua peserta didik mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Berdasarkan perhitungan hasil belajar dari pratindakan, siklus I dan siklus II, dari 24 peserta didik kelas IX terdapat 4 peserta didik yang turun pada siklus I dan naik pada siklus II dan 3 peserta didik yang mengalami kenaikan hasil belajar pada siklus I namun menurun pada siklus II.

Adanya peserta didik yang mengalami peningkatan dan penurunan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor. Karakteristik setiap peserta didik yang yang berbeda-beda mengakibatkan perbedaan hasil yang diperoleh dari setiap peserta didik juga berbeda. Bisa diamati bahwa adanya hasil belajar peserta didik yang turun tersebut, dikarenakan peserta didik yang bersangkutan kurang tertarik dalam pelaksanaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), mereka terlihat kurang antusias saat kegiatan diskusi dan kurang fokus pada penjelasan dari guru. Oleh sebab itu, dalam pembelajaran di kelas, guru dapat menggunakan model


 

 

pembelajaran lain yang lebih variatif dan inovatif untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Dari penelitian yang dilakukan peneliti bersama guru kolaborator dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) tersebut, terlihat bahwa pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL) yang telah diterapkan mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan seperti yang diutarakan Sanjaya di atas. Kelebihan tersebut diantaranya, peserta didik dapat memahami isi pembelajaran dengan baik karena mereka selalu terpacu untuk membaca materi dan PBL dapat membantu peserta didik mengembangkan pengetahuannya serta dapat digunakan sebagai evaluasi diri terhadap hasil maupun proses belajar, terbukti dengan adanya peningkatan hasil belajar selama tindakan. Adapun kelemahannya adalah konsumsi waktu, sebab model pembelajaran ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Penelitian Tindakan Kelas dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) ini sesuai dengan teori belajar konstruktivisme,PBL mendorong peserta didik mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui permasalahan nyata yang membutuhkan suatu pemecahan masalah. Dari beberapa teori konstruktivisme, yang paling sesuai dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan adalah teori konstruktivisme menurut Vygotski, sebab ketika peserta didik terlibat dalam kegiatan diskusi yang dilaksanakan pada tiap siklusnya, mereka akan saling bertukar pendapat dan informasi, sehingga konsep dari materi tersebut dapat ditemukan peserta didik. Konstruktivisme Vygotski memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif antar individual dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh setiap individu. Ini berarti bahwa konstruktivisme Vygotski lebih menekankan pada penerapan teknik saling tukar pendapat dan gagasan antar individu dalam kegiatan kelompok sehingga peserta didik dapat menemukan konsep secara mandiri, seperti halnya yang dilakukan peserta didik kelas IX pada kegiatan diskusi.

Dari hasil tindakan, pengamatan dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi Jujur dan menepati Janji kelas


 

 

IX SMP Negeri 1 Merangin pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti tahun ajaran 2020/2021.


 

 

BAB V PENUTUP

A.     Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik lebih paham tentang materi Jujur dan Menepati Janji yang diterapkan melalui model Problem Based Learning (PBL) sehingga berakibat pada peningkatan hasil belajar peserta didik, terbukti dengan nilai rata-rata kelas IX yang mengalami peningkatan tiap siklusnya. Pada tahap pratindakan, nilai rata-rata hasil belajar peserta didik yang diperoleh adalah 50,65, kemudian pada siklus I mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata hasil belajar 67,91, dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 83,75. Hasil ini telah mencapai target skor yang ditetapkan yaitu >78. Meskipun secara keseluruhan ketuntasan hasil belajar peserta didik mengalami kenaikan, namun ada beberapa peserta didik yang mengalami penurunan.

Jumlah peserta didik yang mengalami peningkatan tiap siklusnya adalah 10 peserta didik atau sebesar 71,05%. Sementara jumlah peserta didik yang mengalami penurunan pada siklus I dan meningkat kembali pada siklus II sebanyak 4 peserta didik atau 10,52%. Sedangkan jumlah peserta didik yang mengalami peningkatan pada siklus I dan menurun pada siklus II sebanyak 3 peserta didik atau 18,42%. Dengan demikian, penggunaan satu model pembelajaran saja tidak dapat mengoptimalkan hasil belajar peserta didik secara keseluruhan. Untuk itu, guru perlu memnggunakan model pembelajaran yang lain agar pembelajaran di kelas lebih bervariatif.

B.      Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan di kelas IX SMP Negeri 1 Merangin tahun ajaran 2020/2021, peneliti menyampaikan saran sebagai berikut :

1.            Bagi Guru

a.  Guru diharapkan mampu menerapkan variasi model pembelajaran dalam proses mengajar di kelas, sehingga peserta didik tidak mengalami kejenuhan dengan satu model saja secara terus-menerus.


 

 

b.  Guru hendaknya mampu memanajemen waktu dan mengelola kelas dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga tahap- tahap pengajaran yang sudah direncanakan dapat berjalan dengan efektif sesuai dengan yang diharapkan dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik..

2.            Bagi Peserta didik

a.  Peserta didik hendaknya tidak terpaku pada satu sumber belajar yaitu buku paket, tetapi peserta didik juga berusaha untuk mencari sumber belajar yang lain misalnya internet untuk menambah wawasan.

b.  Peserta didik hendaknya lebih bersungguh-sungguh dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas dan fokus pada penjelasan guru serta aktif pada kegiatan diskusi kelompok.

3.            Bagi Sekolah

a.  Sekolah hendaknya membuat kebijakan kepada guru untuk melakukan PTK agar guru selalu termotivasi dalam menciptakan perbaikan secara berkesinambungan dalam proses pembelajaran di kelas.


 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Nurhayati.Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (problem based Instruction) dalam pembelajaran matematika di SMU. dalam Jurnal Pendidikan dan kebudayaan Jakarta, Februari2004 Tahun ke-10, No.05

Arif Jouhar Tontowi, 2019. Penelitian Kuantitatif dan Analisis Data Menggunakan SEM. Surabaya : Puistaka Radja.

Arikunto, Suharsimi, 2008. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara..

Dimyanti dan Mujiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT.Rineka Cipta

Dimyati, Mudjiono, 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Asdi Mahasatya.

Departemen Agama RI, AI-Qur 'an dan Terjemahnya, Semarang: PT Tanjung Mas Inti, 2005.

Ni, Made. (2008). Penerapan Model Problem Base Learning untuk Meningkatkan Partisipasi Belajar dan Hasil Belajar Teori Akuntansi Mahasiswa Jurusan Ekonomi Undiksha. Laporan Penelitian. Hlm. 74- 84.

Oemar Hamalik, (2013). Kurikulum Dan Pembelajaran, Jakarta : BumiAksara.

Rusman. 2012.Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers Rusmono.(2014).Strategi Pembelajaran dengan ProblemBased Learning

itu perlu. Bogor : Penerbit Ghalia Indone Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta : Menteri Pendidikan Nasional. Diakses Sudjana, Nana. (2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung:

PT Remaja Rosdakarya.

Suharsimi Arikunto dkk. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi

Aksara

Sumarji, “Penerapan Pembelajaran Model Problem Based Learning Untuk

Meningkatkan Motivasi Dan Kemampuan Pemecahan Masalah Ilmu Statika Dan Tegangan Di Smk”.Tesis S1. 2009. Universitas Malang


 

 

LAMPIRAN-LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 RPP



 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

LAMPIRAN 2 INSTRUMEN TES KOGNITIF

Lembar Penilaian Pengetahuan Petunjuk:

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan tepat!

1.     Jelaskan manfaat dari sifat jujur!

2.     Bagaimana menurut pendapat kalian apabila ada teman yang tidak membayar setelah selesai makan di kantin?

3.     Apa yang dimaksud dengan perilaku menepati janji?

4.     Jelaskan hikmah perilaku jujur dan menepati janji?

5.     Jelaskan hubungan antara perilaku jujur dan menepati janji dengan

Q.S Al-Ahzab ayat 70 dan Q.S Ali Imran ayat 77

6.     Simpulkanlah hikmah dari perilaku jujur dan menepati janji dalam kehidupan sehari-hari!

No.

K

D

IPK

SOAL

Kunci Jawaban

Skor

1.

3.5

Menjelaskan pengertian jujur dan menepati janji

Jelaskan pengertian dari sifat jujur!

Jujur adalah kesesuaian antara perkataan dan

perbuatan

10

2.

Bagaimana menurut pendapat kalian apabila ada teman yang tidak membayar setelah selesai makan di

kantin?

Kebijakan guru

20


 

 

 

 

.

 

 

Apa yang dimaksud dengan perilaku menepati janji?

Menepati janji berarti berusaha untuk memenuhi semua yang telah dijanjikan kepada orang lain di masa yang akan

datang.

10

 

.

Menjelas

kan hikmah perilaku jujur dan menepati janji

Jelaskan hikmah perilaku jujur dan menepati janji?

a.    Orang yang jujur dan menepati janji, akan terbebas dari tuntutan baik        di dunia maupun di akhirat. Karena Setiap janji akan diminta pertanggu

ng

20


 

 

 

 

 

 

 

jawabanny a.

b.      Orang

yang jujur dan menepati janji, akan terhindar dari     sifat munafik.

Sebab, perilaku orang yang munafik salah satunya adalah tidak jujur dan ingkar janji

c.       Orang yang jujur dan menepati janji, akan dipercaya orang lain. Kepercaya an    adalah modal

utama

 


 

 

 

 

 

 

 

dalam meraih kebaikan di      dunia maupun di

akhirat.

 

 

.

Menjelaskan hubungan antara perilaku jujur dan menepati janji dengan dalil naqli

7. Jelaskan hubungan antara perilaku jujur dan menepati janji dengan Q.S Al- Ahzab ayat 70 dan Q.S Ali

Imran ayat 77

Kebijakan guru

20

 

.

Menjelaskan hikmah perilaku jujur dan menepati janji

Simpulkanlah hikmah dari perilaku jujur dan menepati janji dalam kehidupan sehari-hari!

Hidup menjadi tenang, mendapat kepercayaan dari orang lain, terhindar

dari dosa.

20

 


 

Kategori:

 

 

Hasil akhir

Kategori

80 % 100 %

Sangat baik


 

 

 


70 % 79 %

Baik

60 % 69 %

Cukup baik

< 60 %

Kurang baik


 

 

LAMPIRAN 3 NILAI POSTES siklus 1

Jumat Tanggal 29 Januari 2021

 

 

No

 

Nama Siswa

 

KKM

 

Nilai

 

Keterangan

Tuntas

Tidak

Tuntas

1

Alfian Pratama

78

60

 

 

2

Alif

78

60

 

ü

3

DANI RUDI PUTRA

78

60

 

 

4

Fernanda Ari Putra Haikal

78

50

 

 

5

Hamzah Setianto

78

80

ü

 

6

INDAH UNTARI

78

70

 

 

7

Lilik Malinda

78

80

ü

 

8

Lulu Ida Mamukha

78

80

ü

 

9

Mahruf Alfarizi

78

80

ü

 

10

Muhamad Irwanto

78

80

ü

 

11

Naisya Aulia Rahayu S

78

50

 

ü

12

Natasya Putri Pira Santi

78

90

ü

 

13

Nur Hikmah Yusuf

78

100

ü

 

14

Okta Dwiana Candra

78

40

 

ü

15

Rakanda Al Faruzi

78

40

 

ü

16

Ramadhan Wira Subagyo

78

80

ü

 

17

Rifa Ariya

78

70

 

ü

18

Said Dwi Wardana

78

80

ü

 

19

Sarah Dwi Natasya

78

60

 

ü

20

Selpianti Parura

78

60

 

ü

21

Selvi Engellia

78

50

 

ü

22

Syaiyah

78

60

 

ü


 

 

 

23

TINA LESTIANA

78

80

ü

 

24

Yeni Safitri

78

70

 

ü

 

Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pada siklus I dan siklus II, serta peningkatan presentasi belajar maka digunakan rumus sebagai berikut:

Rata-rata Nilai

 


Ket:

 

x = Nilai siswa. N = Jumlah siswa.

Persentase Ketuntasan Belajar

 


 

Ket:

 

 

KB = Persentase Ketuntasan Belajar.

F = Jumlah Siswa yang mendapat nilai diatas 78 N = Jumlah Seluruh Siswa

 

Hasil Pengamatan

Adapun hasil belajar siswa yang diperoleh setelah dilakukan evaluasi pada akhir pelajaran dapat dilihat pada tabel berikut ini :


 

 

LAMPIRAN 4 Tabel 2 Data Hasil Belajar Siswa (dari Hasil tes Tertulis Pada Akhir Pelajaran) Siklus I

 

No.

Nilai

Jumlah

Persentase

1.

 

 

2.

> 78

 

 

< 78

10 siswa

 

 

14 siswa

41,7 %

 

 

58,3%

Jumlah

24 siswa

100 %

Dari tabel ini dapat dilihat 10 siswa (41,7%) yang telah mencapai ketuntasan belajar dan masih terdapat 11 siswa (58,3 %) yang belum mencapai ketuntasan belajar.


 

 

LAMPIRAN 5 NILAI POSTES Siklus 2

Jumat Tanggal 5 Februari 2021

 

 

 

o

 

N

 

 

Siswa

 

Nama

 

 

M

 

KK

 

 

i

 

Nila

 

Keterangan

 

s

Tunta

 

 

s

Tidak Tunta

1

Alfian

Pratama

78

80

ü

 

2

Alif

78

80

ü

 

3

DANI

RUDI PUTRA

78

70

 

ü

4

Fernanda

Ari Putra Haikal

78

70

 

ü

5

Hamzah

Setianto

78

90

ü

 

6

INDAH

UNTARI

78

80

ü

 

7

Lilik

Malinda

78

100

ü

 

8

Lulu    Ida

Mamukha

78

100

ü

 

9

Mahruf

Alfarizi

78

90

ü

 

10

Muhamad

Irwanto

78

80

ü

 

11

Naisya

Aulia Rahayu S

78

70

 

ü

12

Natasya

Putri Pira Santi

78

100

ü

 


 

 

 

13

Nur

Hikmah Yusuf

78

100

ü

 

14

Okta

Dwiana Candra

78

60

 

ü

15

Rakanda

Al Faruzi

78

60

 

ü

16

Ramadha

n Wira Subagyo

78

100

ü

 

17

Rifa

Ariya

78

90

ü

 

18

Said Dwi

Wardana

78

100

ü

 

19

Sarah

Dwi Natasya

78

90

ü

 

20

Selpianti

Parura

78

80

ü

 

21

Selvi

Engellia

78

80

ü

 

22

Syaiyah

78

80

ü

 

23

TINA

LESTIANA

78

80

ü

 

24

Yeni

Safitri

78

80

ü

 

 

Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pada siklus I dan siklus II, serta peningkatan presentasi belajar maka digunakan rumus sebagai berikut:

a.         Rata-rata Nilai

 


Ket:


 

 

x = Nilai siswa. N = Jumlah siswa.

b.         Persentase Ketuntasan Belajar

 


 

Ket:

 

 

KB = Persentase Ketuntasan Belajar.

F = Jumlah Siswa yang mendapat nilai diatas 78

N = Jumlah Seluruh Siswa

Hasil Pengamatan

 

 

Adapun hasil belajar siswa yang diperoleh setelah dilakukan evaluasi pada akhir pelajaran dapat dilihat pada tabel berikut ini :


 

 

LAMPIRAN 6 Tabel 3 Data Hasil Belajar Siswa (dari Hasil tes Tertulis Pada Akhir Pelajaran) Siklus II

 

 

 

 

No.

 

Nilai

 

Jumlah

 

Persentase

1.

 

 

2.

> 78

 

 

< 78

19 siswa

 

 

5 siswa

79,1 %

 

 

20,9%

Jumlah

24 siswa

100 %

Dari tabel ini dapat dilihat 19 siswa (79,1%) yang telah mencapai ketuntasan belajar dan masih terdapat 9 siswa (20,9 %) yang belum mencapai ketuntasan belajar.


 

 

LAMPIRAN 7 LEMBAR OBSERVASI GURU SIKLUS I



 

 

 


 

 

 


 

 


LAMPIRAN 8 LEMBAR OBSERVASI PESERTA DIDIK SIKLUS 1


 

 

 


 

 

LAMPIRAN 9 LEMBAR OBSERVASI GURU SIKLUS II

 



 

 

 


 

 

 


 

 

LAMPIRAN 10 LEMBAR OBSERVASI PESERTA DIDIK

SIKLUS II



 

 

 


 

 

LAMPIRAN 11 FOTO DOKUMENTASI KEGIATAN

 

PENDAHULUAN

 

 

BERDOA

MENGABSEN

 

 

MEMBERIKAN MOTIVASI

MENYAMPAIKAN KD DAN

TUJUAN PEMBELAJARAN

KEGIATAN INTI

 

 

SISWA MENGAMATI VIDEO

MEMBAGI KELOMPOK DENGAN

BERMAIN GAME YANG PAKEM

 

 


 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lembar Kerja (LK) 6 : Penyusunan Rencana Aksi

TUGAS REFLEKSI MODUL PEDAGOGIK