Analisis Bahan Ajar Studi Komparatif Pemikiran H. Husin Qaderi dan H. M. Zurkani Jahja Tentang Konsep Al Asma Al Husna yang Menunjukkan Perbuatan Allah (Penulis: Nor Ainah dan M. Zainal Abidin

 

ANALISIS BAHAN AJAR KEGIATAN BELAJAR:

Dosen : Dr. Tuti Indriyani. S.Ag, M.Pd.I

Nama Siswa:, S.Pd.I

Judul Modul

MENYIUSUN SOAL BERORIENTASI  HOTS BAGI PARA GURU SMA

Judul Kegiatan Belajar (KB)

Studi Komparatif Pemikiran H. Husin Qaderi dan H. M. Zurkani Jahja Tentang Konsep Al Asma Al Husna yang Menunjukkan Perbuatan Allah (Penulis: Nor Ainah dan M. Zainal Abidin

Bahan ajar yang dianalsis

Artikel 2

No

Butir Pertanyaan

Respon/jawaban

1.

Tuliskan minimal 3 (tiga) konsep beserta deskripsinya yang Anda temukan di dalam bahan ajar;

1.    Perbandingan pemikiran al asma al husna. Pada pemikiran klasifikasi H. Husin Qaderi dan H. M. Zurkani Jahja dilihat dari segi makna nama, keduanya hampri memiliki tujuan yang sama. Bedanya, hanya pada segi penjelasan maknanya saja. H. Husein Qaderi hanya memberikan sekadar pengertian dari makna nama tersebut hingga tujuannyapun sederhana, agar manusia mengetahui dan meyakini nama yang ada pada al-Asmaul Husna dan selanjutnya menjelaskan faedah membaca nama tersebut. Sedangkan pada H.M. Zurkani Jahja memberikan pengertian sekaligus penjelasan secara panjang lebar tentang makna nama pada al-asma al-Husna serta memberikan analisis tentang implikasi moral dan spiritual makna nama tersebut.

2.    Dilihat dari sumber yang digunakan, kedua tokoh ini dapat digolongkan kedalam aliran Asy’ariyah yang dikembangkan oleh al-Ghazali, H. Husin Qaderi dan H. M. Zurkani Jahja sama-sama menggunakan al-Asma al-Husna sebagai pendekatan dalam mengenal Allah Swt, namun dari segi metodologi keduanya berbeda dalam menyampaikan al-Asma al-Husna. Disini H. M. Zurkani Jahja mengambil metodologi al-Ghazali yaitu metode tekstual, metode rasional dan sufistik, sedangkan H. Husin Qaderi menggunakan metode sufistik pada penekanan aspek amaliyah dzikir.

3.    Pandangan H. Husin Qaderi tentan al-Asma al-Husna yang menunjukkan perbuatan Allah Swt lebih dominan kepada aspek amaliyah praktid, hal ini sesuai dengan pendekatan tasawuf yang ia dapatkan dari bebrapa gurunya yaitu dengan cara berdzikir dan berdoa dirasa dapat memperbaiki spiritual dari dalam diri manusia serta sebagai senjata orang-orang mukmin.

4.    Pandangan H. M. Zurkani Jahja tentang al-Asma al-Husna yang menunjukkan perbuatan Allah lebih kepada penjelasan tentang implikasi moral tang dapat diambil oleh masyarakat agar mudah dipahami, karena menulis al-Asma al-Husna ini awalnya disebuah tabloit yang kemudian dibukukan, pemikiran H. M. Zurkani Jahja ini sesuai dengan al-Ghazali yang menjadi figur utamanya dalam menjelaskan al-Asma al-Husna, sedangkan tujuan pemikiran H. M. Zurkani Jahja ialah menginginkan masyarakat dapat memiliki sifat seperti yang terdapat pada Allah sebatas kemampuannya.

5.    Perbandingan pandangan kedua tokoh ini tentang al-Asma al-Husna yang menunjukkan perbuatan Allah terdapat persamaan dan perbedaan yang terletak pada pandangan klasifikasi al-Asma al-Husna yang menunjukkan perbuatan Allah terhadap makhluk dari segi makna nama.

 

2

Lakukan kontekstualisasi atas pemaparan materi dalam bahan ajar dengan realitas sosial;

 

Kontekstualisasi atas pemaparan materi dalam bahan ajar dengan realitas sosial adalah:

1.    Setiap manusia sebenarnya mempunyai fitrah yang sama, hanya saja lingkungannya yang dapat membentuk karakter seseorang dan juga menjadikan manusia itu berbeda dari fitrah semula. Sehingga manusia diberi potensi oleh Allah Swt untuk berkembang dan menuju titik tertentu sesuai dengan karsa dan aturan Tuhan. Salah satu cara pengenalan manusia terhadap Allah ialah penghayatan makna dan pengetahuan peran al-Asma al-Husna.

2.    Pada umumnya masyarakat muslim Kalimantan Selatan penganut teologi Asy’ariyah yang bercorak Sanusiyah, karena masyarakat lebih banyak mengenal Allah Swt melalui sifat-sifat-Nya yang wajib, mustahil dan jaiz, sedangkan pengenalan Allah melalui al-Asma al-Husna jarang ditemukan.

3.    Tidak hanya masyarakat muslim di Kalimantan Selatan, nyatanya masyrakat muslim Indonesia hanya sebatas membaca Nadhom al-Asma al-Husna tanpa ada penghayatan dan implikasi al-Asma al-Husna dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga masih saja berbuat tidak baik karena belum adanya penghayatan dari membaca Nadzom al-Asma al-Husna.

Masyarakat yang menjadi sasaran dakwah H. Husin Qaderi memang saat itu memerlukan dzikir dan doa untuk ketenangan diri agar selalu dekat dengan Allah.

3

1.     Merefleksikan hasil kontekstualisasi materi bahan ajar dalam pembelajaran bermakna.

 

Refleksi hasil kontekstualisasi materi bahan ajar dalam pembelajaran adalah:

1.        Sebaiknya perlu adanya implikasi moral dan spiritual dari setiap nama Allah atau al-Asma al-Husna dan berusaha menunjukkan bagaimana cara meneladani nama atau sifat Tuhan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila dikaitkan dengan modul KB 1 sub materi al-Asma al-Husna yaitu ar Rahman dengan pemikiran H. Husen Qaderi ar rahman yaitu wujud kasih sayang akan hamba-Nya di dalam dunia. Apabila berdzikir dengan menyebut Ya Rahman sebanyak 100 kali setelah selesai salat lima waktu, maka akan hilang segala kelupaan yang ada pada dirinya. Sedangkan menurut H. M. Zurkani Jahja ar Rahman artinya Maha Pengasih, tidak pilih kasih.

 

                                                                                                                Merangin, 8 November 2024

                                                                                                                Nama Mahasiswa

 

                                                                                               

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lembar Kerja (LK) 6 : Penyusunan Rencana Aksi

TUGAS REFLEKSI MODUL PEDAGOGIK