ANALISIS BAHAN AJAR ISU-ISU KRITIS DALAM PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PERSPEKTIF PEDAGOGIK KRITIS Tabrani. ZA

 

ANALISIS BAHAN AJAR

KEGIATAN BELAJAR:  1  /  2  /  3 /  4

Judul Modul

Struktur Keilmuan PAI

Judul Kegiatan Belajar (KB)

ISU-ISU KRITIS DALAM PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PERSPEKTIF PEDAGOGIK KRITIS Tabrani. ZA

Bahan ajar yang dianalisis

* Artikel 1 KB 3

No

Butir Pertanyaan

Respon/jawaban

1.

Tuliskan minimal 3 (tiga) konsep beserta deskripsinya yang Anda temukan di dalam bahan ajar;

 

1.      Dalam konteks akademik pedagogik kritis disebut dengan “the new sociology of education” atau “critical theory of education”. Menurut Henry Giroux Pedagogik kritis memiliki pandangan dasar bahwa education is politics. Dalam pengertian, semua aktivitas pendidikan pada dasarnya bersifat politis dan punya konsekuensi dan kualitas politis. Dalam konteks kebijakan pendidikan misalnya, selalu membawa implikasi terhadap terakomodasinya kepentingan satu kelompok dan terpinggirkannya kepentingan kelompok yang lain. Dalam konteks pedagogis, cara guru/ mengajar dan pilihan pengetahuan yang diajarkan, semuanya memiliki implikasi politis. Cara guru mengajar memiliki kontribusi dalam membentuk peserta didik menjadi active atau passive beings. Jika guru bertindak sebagai narrative teacher, maka kemungkinan besar peserta didik akan menjadi passive beings. Sebab guru akan mendominasi kelas dengan sedikit memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Jadilah proses pembelajaran sebagai imposisi dan orang yang berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak berpengetahuan. Pengetahuan dianggap instan, dan bukan merupakan konstruksi bersama antara guru dan murid, dosen dan mahasiswa.

 

2.      Pandangan dasar kedua pedagogik kritis adalah pendidikan merupakan media untuk membangun kesadaran kritis peserta didik. Kesadaran kritis membantu individu untuk tidak terjebak kepada apa yang disebut Herbert Marcuse, false consciousness, yaitu state of mind yang menerima bentuk masyarakat yang ada sebagai bentuk ideal, normal, dan tak terelakkan. Jika realitas dipahami sebagai sesuatu yang on going process dan tidak pernah sampai pada tahap kesempurnaan, maka proses konstruksi dan rekonstruksi harus selalu dilakukan tanpa pernah berhenti. Dengan bahasa lain, proses demitologisasi terhadap realitas merupakan aktivitas yang dilakukan secara kontinu agar tidak terjebak ke dalam perangkap false consciousness

 

3.    Pandangan dasar ketiga pedagogik kritis adalah menjadikan institusi pendidikan sebagai productive force, bukan sebagal reproductive force, sebagaimana yang dikonseptualisasi Samuel Bowles dan Hebert Gintis. Ada perbedaan yang signifikan antara pendidikan sebagai productive dan reproductive force. Pendidikan sebagai productive force berarti pendidikan itu memiliki peran dan tanggung jawab dalam proses mobilitas sosial. Pendidikan memiliki peran dalam mengubah struktur sosial di mana melalui pendidikan individu mampu mentransendensi posisi kelas sosialnya ketika dewasa. Sebaliknya, pendidikan sebagai reproductive force berarti menjadikan institusi pendidikan semata-mata untuk melanggengkan struktur sosial yang ada.

2.

Lakukan kontekstualisasi atas pemaparan materi dalam bahan ajar dengan realitas sosial;

 

Untuk mengembangkan isu-isu kritis dalam pendidikan Islam melalui perspektif pedagogik kritis perlu diperhatikan lebih serius. Literatur-literatur yang berkaitan dengan pendidikan Islam dari dulu hingga sekarang cenderung didominasi oleh pendekatan normatif, dengan sedikit banyak mengabaikan diskursif praktisnya di tingkat historis-empiris. Hingga saat ini pun gagasan dari konsep pendidikan Islam yang diusung oleh pemikir pendidikan Islam kontemporer, seperti Naquib al-Attas, Hasan Langgulung, HM Arifin, dan Arifin H. Mazayyin dan lain-lain tidak menyentuh masalah riil yang berkaitan dengan persoalan kemanusiaan. Tidak ada upaya untuk menarik ke bumi konsep-konsep normatif, ideal, dan abstrak, ke tingkat empiris-sosiologis.

Pendidikan Islam perlu menyeimbangkan antara aspek religius-normatif dan historisitas peserta didik. Praktek pendidikan Islam sebaiknya juga menekankan pengembangan kesadaran kritis peserta didik sehingga mampu mengenali, memahami, dan mentransformasi realitas eksistensial mereka dan mampu mengatasi situasi-batas (limit-situation)dan aksi-batas (limit action) mereka. Situasi-batas adalah situasi sosial yang menghambat atau kurang memberikan ruang bagi peserta didik untuk berkembang dan memaksimalkan potensi kemanusiaan mereka. Aksibatas adalah keterbatasan peserta didik untuk melakukan tindakan-tindakan dalam rangka melampaui situasi-batas mereka. Proses edukasi dan pedagogi dalam pendidikan Islam adalah proses untuk membantu peserta didik mentransendensi situasi-batas dan aksi-batas mereka. Dalam rangka mengimbangi kecenderungannya yang normatif, filsafat dasar pendidikan kritis tentang manusia tampaknya relevan untuk dicangkokkan ke dalam teori pendidikan Islam. Manusia, selain berdimensi religius-normatif, seharusnya juga dipandang sebagai (a) makhluk yang diyakini punya kapasitas untuk berkembang dan berubah karena punya potensi untuk belajar, dan dibekali dengan kapasitas berpikir dan self-reflection; (b) makhluk praksis yang hidup secara otentik hanya ketika terlibat dalam transformasi dunia; dan (c) makhluk yang tidak sempurna dan punya panggilan ontologis dan historis untuk menjadi manusia yang lebih sempurna

3.

Refleksikan hasil kontekstualisasi materi bahan ajar dalam pembelajaran bermakna.

 

Keterkaitan isi bahan ajar dengan nilai Pembelajaran Bermakna dapat dilihat dari kemajemukan masyarakat Indonesia. Kemajemukan masyarakat Indonesia kadang-kadang kerap menimbulkan konflik-konflik, ini adalah satu faktor pengembangan kurikulum, yang disebut kurikulum berbasis multikultural. Kurikulum berbasis multikultural memiliki tujuan menciptakan lulusan yang terdidik cerdas untuk melangsungkan kehidupan dalam keragaman. Landasan filosofis dan psikologis pengembangan kurikulum berbasis multukultural adalah upaya membentuk kurikulum pendidikan berdasarkan pemikiran filsafat dan perkembangan psikis manusia.

Salah satu problematika yang dapat menimbulkan konflik-konflik adalah kurangnya pemahaman dan pengetahuan antar perbedaan dalam sasama. oleg sebab itu solusi yang baik dalam mengatasi kemajemukan tersebut adalah dengan adanya pendidikan Islam berbasis inklusif yang merupakan sebuah alternative bagi problem masyarakat Indonesia yang majemuk. Melalui pembangunan paradigma pendidikan agama Islam berbasis inklusif dalam kehidupan sosial, beragama, multikultur ini merupakan kondisi yang harus diperjuangkan supaya tercipta penghormatan terhadap hak-hak dasar manusia, sehingga hal tersebut menjadi epistemology serta term penting yang menyentuh wacana keagamaan, sosial maupun politik berdasarkan pada sumber-sumber ajaran Islam yang utama, yaitu ada 3:

1)      Nilai keadilan

2)      Nilai persamaan

3)      nilai demokrasi

Nilai-nilai tersebut merupakan cerminan dan sikap membangun paradigm pendidikan agama Islam berbasis inklusif dalam kehidupan sosial, beragama multikultur. maka lulusan lembaga-lembaga pendidikan dan sarjana-sarjana alumni perguruan tinggi diharapkan mampu bersaing dan bersanding secara positif dan konstruktif demi pengembangan diri mereka.

 

 

Bangko, 4 November 2024

Mahasiswa

 

 

()

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lembar Kerja (LK) 6 : Penyusunan Rencana Aksi

TUGAS REFLEKSI MODUL PEDAGOGIK