Resume SKI KB 1 PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN ISLAM PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN
PENDALAMAN MATERI
(Lembar Kerja Resume Modul)
A. Judul Modul : SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM (SKI)
B. Kegiatan Belajar : PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN ISLAM PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN
C. Refleksi
| No | Butir | Respon |
| 1 | Konsep | 1. Perkemmbangan Kebudayaan Islam pada Masa Abu Bakar Ash-Shiddiiq Kepemiimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq (11-13 H/632-634 M) Perang Riddah = perang Melawan kemurtadan Kebijakan dan startegi Abu Bakar Shiddiq 1. Memerangi Orang Murtad / Nabi palsu 2. Perluasan wilayah baru / futuhat 3. Pembukuan al-Qur’an 2. Perkemmbangan Pendidikan pada Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq Pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiiq, ilmu tidak berkembang maju karena disibukkan dengan masalah-masalah sepertii menumpas nabi palsu, gerakan kaum murtad, gerakan kaum munafik, dan memerangii yang enggan berzakat. Sekalipun demikian, banyak pula kemajuan yang dicapai pada masa ini yaitu ; memperbaiki sosial ekonomi, pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an dan memperluas wiilayah Islam sampai ke Irak, Persia dan Suriah. Pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq lembaga pendidikan kuttab mencapai tingkat kemajuan yang berarti. 3. Kontribusi Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Peradaban Islam a) Memberangkatkann Pasukan Usamah bin Zaid ke Kawasan Syam b) Mengembalikan Kaum Musliimin pada Ajaran Islam yang Benar dan Memberantas Para Nabi Palsu c) Mengumpulkan Al-Qur’an dalam Satu Mushaf d) Mengiriim Pasukan ke Irak dan Syam 4. Perkembangan Kebudayaan Islam pada Masa Umar bin Khattab Pada tahun 622, Umar bin Khattab ikut bersama Nabi Muhammad Saw serta para pengikutnya berhiijrah ke Yatsrib (Madinah). Umar bin Khattab juga terlibat dalam Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khaibar serta penyerangan ke Syria. Umar bin Khattab dianggap sebagaii orang yang disegani oleh kaum muslimin pada masa itu selain karena reputasinya pada masa lalu yang sudah terkenal sejak masa memeluk Islam. 5. Dia dibunuh oleh seeorang budak dari Persia bernama Abu Lu’lu’ah. Saat terluka parah, dari pembaringannya ia mengangkat syura (komisi pemilih) yang akan memilih penerus pemerintahannya.. Untuk menentukan penggantinya, Umar bin Khattab tidak menempuh jalan yang diilakukan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Tapi ia justru menunjuk enam orang sahabat dan meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang di antaranya menjadi khalifah. Enam orang ttersebut adalah Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa`ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin `Auf. Seetelah Umar wafat, tim ini bermusyawarah dan menunjuk Utsman bin Affan sebagai khalifah. 6. Kepemimpinan Umar bin Khattab Ciri kepemimpinan Umar bin Khattab :
7. Metode Dakwah pada Masa Umar bin Khattab a) Pengembangan Wilayah Islam b) Mengeluarkan Undang-undang c) Membagi Wilayah Pemerintahan 8. Perkembangan Pendidikan Masa Umar bin Khattab Khaliifah pada saat itu mengadakan penyuluhan (pendidikan) di kota Madinah. Ia juga menerapkan pendidikan di masjid dan mengangkat guru dari sahabat-sahabat untuk tiap-tiap daerah ditaklukan. Para sahabat tersebut bukan hanya bertugas mengajarkan Al-Qur’an tetapi juga Fiqih dan lainnya, adapun tenaga pengajar sebagian besar para sahabat yang senior antara lain Abdurarrahman bin Ghanam di (Suriah). Hasan bin Abi Jabalah di (Mesir). Pelaksanaaan pendidikan di masa Khalifah Umar bin Khattab lebih maju sebab selama Umar bin Khattab memeriintah Negara dalam keadaan stabil dan aman ini disebabkan di samping diiterapkan di mesjid sebagai pusat pendidikan, juga telah terbentuknya pusat-pusat Islam di berbagai daerah dengan materi yang dikembangkan baik ilmu bahasa menulis dan pokok ilmu-ilmu lainnya. 9. Perkembangan Kebudayaan Islam pada Masa Utsman bin Affan Utsman menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah betul-betul mapan dan terstruktur. Utsman bbin Affan adalah khalifah pertama yang melakukan perluasan masjid al-Haram (Mekah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan haji. ia mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya, membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid, membangun pertanian, menaklukkan Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf. Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti gubernur wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan menggantikannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Namun hal ini banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah. 10. Kepemimpinan Utsman bin Affan a) Bidang Politik dalam Negeri Lembaga pemerintahan dalam negeri pada masa Utsman bin Affan terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu: · Pembantu (Wazir/ Muawin) · Pemerintahan daerah/gubernur. b) Hukum · Menjaga teks-teks pada masa Nabi Muhammad dalam bidang hukum · Meletakkan sistem hukum baru untuk memperkuat pondasi negara Islam · Hakim-hakim pada masa khalifah Utsman bin Affan c) Baitul Mal (Keuangan) d) Militer e) Majelis Syuro Majelis Syuro adalah orang-orang yang mewakili kaum muslimin dalam menyampaikan pendapat sebagai bahan pertimbangan khalifah. Orang non muslim juga diperbolehkan menjadi anggota majelis syuro untuk menyampaikan pengaduan tentang kezaliman para penguasa ataupenyimpangan dalam pelaksanaan hukum Islam. Majelis syura dibagi menjadi tiga, yaitu ; dewan penasehat, dewan penasehat umum, dan dewan penasehat tinggi dan umum. f) Bidang Politik Luar Negeri g) Bidang Ekonomi h) Bidang Sosial i) Bidang Agama 11. Metode Dakwah pada Masa Utsman bin Affan a) Perluasan Wilayah b) Standarisasi Al-Qur’an c) Pembangunan Fisik 12. Perkembangan Pendidikan pada Masa Utsman bin Affan Di daerah-daerah yang baru diajarkan ilmu-ilmu keislaman yang mereka miliki dan dapatkan langsung dari Rasulullah Saw. Kebijakan ini besar sekali manfaatnya bagi pelaksanaan pendidikan Islam di daerah-daerah yang baru. Pada masa Utsman bin Affan menjadi khalifah, ilmu pengetahuan klasik Islam dibagi menjadi dua macam, yaitu ‘ulum an-naqliyah, yang bersumber pada Alquran atau dalil Naql (disebut juga `ulum al-syari`ah, dan `ulum al-`aqliyah (`ulum al-`ajam). 13. Kontribusi Utsman bin Affan dalam Peradaban Islam a) Menyalin mushaf b) Membangun sebuah bendungan yang besarI c) Bidang sastra (Khithabah/prosa) d) Bidang arsitektur (Pendirian mesjid) 14. Perkembangan Kebudayaan Islam pada Masa Ali bin Abi Thalib Beberapa kebijakan Ali mengakibatkan timbulnya perlawanan dari para gubernur. Di Damaskus, Mu'awiyah yang didukung oleh sejumlah mantan pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan. Sehingga terjadilah pertempuran yang dikenal dengan nama perang shiffin. Perang ini diakhiri dengan tahkim (arbitrase), tapi tahkim ternyata tidak menyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga yang Khawarij. 15. Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib Pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib wilayah kekuasaan Islam telah sampai Sungai Efrat, Tigris, dan Amu Dariyah, bahkan sampai ke Indus. Akibat luasnya wilayah kekuasaan Islam dan banyaknya masyarakat yang bukan berasal dari kalangan bangsa Arab, banyak ditemukan kesalahan dalam membaca teks Al-Qur'an atau Hadist sebagai sumber hukum Islam. Khalifah Ali bin Abi Thalib memerintahkan Abu al-Aswad al-Duali untuk mengarang pokok-pokok Ilmu Nahwu (Qawaid Nahwiyah). Adapun tipe-tipe kepemimpinan Ali bin Abi Thalib a) Demokratis b) Karismatik c) Milliteristik 16. Metode Dakwah pada Masa Ali bin Abi Thalib Dalam melakukan dakwah, Ali bin Abi Thalib melakukan dakwah bil hikmah, dakwah mauizatul hasanah dan juga dakwah bi al mujadalah. 17. Perkembangan Pendidikan pada Masa Ali bin Abi Thalib Dalam periode Khulafaurrasyidin masih didominasi oleh ilmu-ilmu naqliyah. Ilmu Hadis belum dikenal pada masa ini, namun pengetahuan tentang hadis sudah berkembang luas di kalangan umat Islam. Ilmu Nahwu berkembang di Basrah dan Kufah, Ali bin Abi Thalib adalah pembina dan penyusun pertama dasar-dasar ilmu nahwu. Pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib, penulisan huruf hijaiyyah belum dilengkapi dengan tanda baca, seperti kasrah, fathah, dhammah, tasydid dan lainnya. Nilai pendidikan Islam yang bisa kita ambil dari kepemimpinan khalifah Ali bin Abi Thalib yaitu bertanggung jawab, berani, sederhana, dan adil. Kepemimpinan khalifah Ali Bin Abi Thalib ini banyak pemberontakan dan tidak stabilnya pemerintahannya. Akan tetapi khalifah Ali bin Abi Thalib tetap memberikan pendidikan, dikarenakan pendidikan Agama Islam itu sangatlah penting. Pendidikan Agama Islam pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib tidak jauh berbeda dengan pada masa khalifah sebelumnya, yakni ; mempelajari Al-Qur’an dan tafsirnya, Hadits dan pengumpulannya, Fiqh (tasyri’) dan selalu berupaya dalam menerapkan pendidikan tauhid, akhlak, dan ibadah, karena pendidikan tersebut merupakan dasar ataupun pokok dari ajaran Agama Islam |
| 2 | Daftaar Materi pada KB yang sulit dipahami | 1. Pengertian dan penerapan desentralisasi administrasi. 2. Peristiwa Tahkim (arbitrase), 3. Perang Shiffin |
| 3 | daftarr materi yang sering miiskonsepsi | Beberapa ijtihad Umar pada saat itu adalah keputusan bahwa muallaf tidak mendapatkan zakat, padahal di salah satu ayat dikemukakan bahwa mereka berhak mendapatkan zakat. Akan tetapi Umar bin Khattab berpendapat bahwa hal ini juga dilakukan Rasulullah Saw. pada masa Islam masih lemah. Pada kasus lain adalah tentang pemotongan tangan bagi pencuri. Pada beberapa kasus ternyata Umar bin Khattab tidak melaksanakan hukuman ini, terutama pada masa musim kemarau yang berkepanjangan pada tahun 18 H, dimana mereka hampir kehabisan bekal makanan. Selain itu dalam beberapa kisah dikatakan bahwa dua orang budak telah terbukti mencuri unta, akan tetapi Umar bin Khattab tidak menjatuhinya hukum potong tangan karena alasan bahwa mereka mencuri karena kelaparan, sebagai gantinya beliau membebankan ganti harga dua kali lipat dengan barang yang mereka curi. Ijtihad Umar yang berbasis atas keberanian intelektual, selanjutnya berpengaruh kepada dua mazhab besar dalam memutuskan hukum, yakni ahl ra’yi yang berbasis di Baghdad dan ahl hadis yang berbasis di Madinah. Keberanian Umar ini menjadikannya sebagai contoh dan imam tauladan bagi para penganut mazhab ahl ra’yi, yang kemudian pada tingkat yang lebih besar dipimpin oleh Abu Hanifah, sementara ahl hadis lebih mencontoh Abdullah putra Umar bin Khattab, yang selanjutnya dipimpin oleh Imam Malik di Madinah. |
Komentar
Posting Komentar