LK-11: Penyusunan Proposal PTK

 

LK-11: Penyusunan Proposal PTK

 

 

 

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MATERI MENGHINDARI  AKHLAK MAHMUMAZ MELALUI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING

SISWA KELAS X SMK SPP NEGERI MERANGIN

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

DISUSUN OLEH

 

 

 

 

ABDULLAH, S.P.d.I

GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

 

 

PENDIDIKAN PROFESI GURU DALAM JABATAN

TAHUN 2024


KATA PENGANTA

 


 

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah yang telah memberikan rahmat dan karunianya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyusun Proposal Penelitian Tindakan kelas (PTK) dengan judul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Materi Menghindari  Akhlak Mahmumaz Melalui Model Pembelajaran Cooperative Learning Siswa Kelas X SMK SPP Negeri Merangin

”. Salawat dan salam penulis sanjungkan keharibaan Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari alam jahiliyah ke alam yang penuh ilmu pengetahuan.

Penulis telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang ada agar berhasil sebagai mana mestinya, namun penulis menyadari sepenuhnya bahwa terselesainya penulisan Proposal Penyusunan Penelitan Tindakan Kelas (PTK) ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang selalu membimbing dan mengarahkan penulis. Oleh sebab itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT dan penghargaan setinggi-tingginya kepada kedua orang tua penulis yang telah memberikan dukungan, saran, motivasi dan kepercayaan yang begitu besar kepada penulis.

Disamping itu penulis juga menyadari akan segala kekurangan dan ketidak sempurnaan,baik dari segi penulisan maupun dari cara penyajiannya. Oleh karena itu penulis dengan senang hati menerima kritikan dan saran demi memperbaiki ini di masa yang akan datang.

Penulis berharap mudah-mudahan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca pada umumnya. Akhir kata saya ucapkan Wassalamu’alaikum Wr,Wb.

 

Bangko,            2024

Penulis

ABDULLAH


DAFTAR ISI

 

halaman

KATA  PENGANTAR........................................................................................... 2

DAFTAR ISI........................................................................................................... 3

BAB I             : PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah............................................................. 4

B.     Pembatas Dan Rumusan Masalah............................................ 9

C.     Tujuan Penelitian...................................................................... 10

D.    Manfaat Penelitian................................................................... 10

BAB II           : KERANGKA TEORI

A.    Landasan Teori........................................................................ 12

B.     Penelitian Terdahulu................................................................ 22

C.     Hipotesis Penelitian (jika ada)................................................. 22

BAB III          : METODE PENELITIAN

A.    Jenis penelitian......................................................................... 24

B.     Variable penelitian................................................................... 25

C.     Populasi dan sampel................................................................ 26

D.    Instrument Penelitian.............................................................. 26

E.     Jenis, Sumber dan Teknik Pengumpulan Data........................ 27

F.     Teknik Analisa Dan Pengujian................................................ 29

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 32


BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan hal penting yang diperlukan bagi setiap manusia untuk memperoleh pengetahuan, wawasan serta meningkatkan martabat dalam kehidupan. Sistem pendidikan di Indonesia ternyata telah mengalami banyak Perubahan, yang mana itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha pembaharuan dalam pendidikan. Akibat pengaruh itu pendidikan semakin mengalami kemajuan. Sejalan dengan kemajuan tersebut, pendidikan di sekolah-sekolah telah menunjukan perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan itu terjadi karena adanya pembaharuan tersebut, sehingga di dalam pengajaran pun guru ingin selalu menemukan metode dan peralatan baru yang dapat memberikan semangat belajar bagi semua peserta didik.

Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang ada di tiap-tiap lembaga pendidikan harus menggunakan model pembelajaran yang tepat, seperti pembahasan materi menghindari Akhlak Mahmumaz banyak peserta didik yang belum menguasai betul dengan makna menghindari Akhlak Mahmumaz yang telah diajarkan disekolah

Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa pembaharuan dalam sistem pendidikan yang mencakup seluruh komponen yang ada. Pembangunan di bidang pendidikan barulah ada artinya apabila dalam pendidikan dapat di manfaatkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan bangsa Indonesia yang sedang membangun bangsa yang berbudi luhur.

Pendidikan dapat dimaknai sebagai proses mengubah tingkah laku anak didik agar menjadi manusia dewasa yang mampu hidup mandiri dan sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan alam sekitar dimana individu itu berada. Pendidikan tidak  hanya  mencakup  pengembangan  intelektual saja, akan tetapi lebih


ditekankan pada proses pembinaan kepribadian anak didik secara menyeluruh, sehingga anak menjadi lebih dewasa.

Dilihat dari sudut proses bahwa pendidikan adalah proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya dan yang akan menimbulkan perubahan pada dirinya yang memungkinkan sehingga berfungsi sesuai dengan kompetensinya dalam kehidupan masyarakat. Dilihat dari sudut pengertian atau definisi dengan demikian pendidikan itu ialah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga,masyarakat dan pemerintahan melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah. Usaha sadar tersebut dilakukan dalam bentuk pembelajaran dimana ada pendidik yang melayani para siswanya melakukan kegiatan belajar, dan pendidik menilai atau mengukur tingkat keberhasilan belajar siswa tersebut dengan prosedur yang ditentukan.1

Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan Pendidikan Nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian,, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan social. Sejalan dengan itu Pendidikan Nasonal akan mampu mewujudkan manusia- manusia pembangunan dan membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

Paradigma lama dunia pendidikan mengenai proses belajar-mengajar bersumber pada teori Tabula rasa Jhon locke. Mengatakan bahwa pikiran seseorang anak seperti kertas kosong yang putih bersih dan siap menunggu coretan- coretan gurunya. Dengan kata lain otak seorang anak ibarat botol kosong yang siap di isi dengan segala ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan guru.2 Guru juga di tuntut agar bisa meningkatkan hasil belajar siswa, agar senantiasa bisa menginflementasikan secara maksimal di kehidupan sehari- hari.

 

 


1 Syaiful, S. Konsep dan Makna Pembelajaran. (Bandung: Alfabeta,2013 ). 35

2Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2019),54


Hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu. Secara sederhana, yang dimaksud hasil belajar siswa adalah kemampuan siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relative menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, biasanya guru menetapkan tujuan-tujuan belajar.

Anak yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional. Untuk mengetahui apakah hasil belajar yang dicapai telah sesuai dengan tujuan yang dikehendaki dapat diketahui melalui evaluasi. Karena Banyak faktor yang mempengaruhi dalam menentukan keberhasilan belajar Selain itu, dengan dilakukannya evaluasi atau penilaian ini dapat dijadikan feedback atau tindak lanjut, atau bahkan cara untuk mengukur tingkt penguasaan siswa. Kemajuan tingkat penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan. Dengan demikian, penilaian hasil belajar siswa mencakup segala hal yang dipelajari di sekolah, baik itu menyangkut pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diberikan kepada siswa.3

Selain siswa memiliki bakat bawaan, lingkungan belajar juga ikut menentukan hasil, maka proses hasil pembelajaran tersirat adanya satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara peserta didik (siswa), pendidik ( guru), dan sarana prasarana yang mendukung. Penguasaan siswa terhadap suatu materi pembelajaran yang rendah yang hanya mencapai 58,88 dalam bidang mata pelajaran Pendidikan agama Islam yang seharusnya mencapai nilai KKM yaitu 75. dalam proses pembelajaran cenderung peserta didik tidak terlalu dilibatkan. Padahal peran aktif siswa sangat dibutuhkan dalam semua mata pelajaran. Oleh karena itu diperlukan suatu model pembelajaran yang tepat dalam suatu proses pembelajaran di lembaga- lembaga pendidikan formal. Karena dalam prakteknya pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang terjadi disekolah-sekolah saat ini lebih menekankan

 


3 Susanto, A, Teori Belajar Pembelajaran Di Sekolah Dasar.( Jakarta: Kencana 2013),73


pada metode mengajar secara informatif yaitu guru menjelaskan atau ceramah dan siswa mendengarkan atau mencatat.

Satu cara yang diterapkan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa selama di kelas adalah penerapan model pembelajaran, dalam proses belajar mengajar. Model pembelajaran adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas

Penerapan model pembelajaran yang bervariasi sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa karena dengan menggunakan model pembelajaran. Pusat pembelajaran bukan lagi terletak pada guru melainkan pusat pembelajaran pada siswa. Siswa bukan lagi sebagai objek dalam pembelajaran namun sebagai subjek pembelajaran. Model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh seorang guru dalam melatih peserta didik dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial dengan temannya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan model pembelajaran guru akan dapat mengembangkan keterampilan intelektual, sosial, dan personal siswa.

Pembelajaran yang melibatkan siswa akan menjadikan pembelajaran lebih bermakna sehingga diharapkan materi dapat tersampaikan dengan maksimal. Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelas kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar (Sugiyanto, 2010: 37). Slavin (2008) mengemukakan bahwa belajar kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang di dalamnya siswa belajar dan bekerja melalui kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri atas empat sampai enam orang, dengan struktur kelempok heterogen. Dalam belajar kooperatif siswa dimungkinkan terlibat secara aktif pada proses pembelajaran sehingga memberikan dampak positif terhadap kualitas interaksi dan komunikasi yang berkualitas. Secara rinci karakteristik pembelajaran kooperatif adalah: (1) cara siswa bekerja dalam kelompok kooperatif untuk menuntaskan materi pembelajaran; (2) kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah; (3) bila memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin  yang  berbeda-beda  dan;

(4) penghargaan lebih berorientasi kelompok daripada individu. Dalam menyelesaikan  tugas  kelompok  setiap  anggota  saling  bekerja  sama  secara


kolaboratif dan membantu untuk memahami suatu materi, memeriksa dan memperbaiki pekerjaan teman serta kegiatan lainnya, dengan tujuan mencapai hasil belajar yang tinggi.

Ditekankan pemahaman pada siswa, bahwa tugas belum selesai apabila salah satu anggota kelompok belum menguasai dan memahami materi pembelajaran. Selain hal tersebut, pembelajaran kooperatif memungkinkan timbulnya komunikasi dan interaksi yang lebih berkualitas antar siswa dalam kelompok maupun antara siswa dengan siswa antar kelompok. Pada pembelajaran kooperatif ini guru berfungsi sebagai motivator, fasilisator dan moderator. Pada pembelajaran kooperatif setiap siswa ditempatkan pada setiap peran yang sama untuk mencapai tujuan belajar, penguasaan materi pelajaran dan keberhasilan belajar, yang dipandang tidak semata-mata dapat ditentukan oleh guru, tetapi merupakan tanggung jawab bersama, sehingga mendorong tumbuh dan berkembangnya rasa bekerjasama dan saling membutuhkan diantara siswa.

Model pembelajaran kooperatif terdapat beberapa macam teknik, salah satu teknik tersebut adalah teknik kooperatif tipe jigsaw. pembelajaran cooperative learning tipe jigsaw adalah model pembelajaran dengan menggunakan pengkelompokkan /tim kecil yaitu yang terdiri antara empat, enam, bahkan sampai delapan orang yang mempunyai latar belakang yang berbeda. Dan sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok dan setiap kelompok akan memperoleh  penghargaan,  jika  kelompok  dapat menunjukkan  prestasi yang persyaratkan4 Menurut Isjoni (2009:77) pembelajaran kooperatif tipe jigsaw salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal.5 Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif learning tipe jigsaw dalam proses belajar pelajaran agama Islam menjadi lebih menarik dan siswa dapat menyukai pembelajaran Agama Islam dan dapat dengan mudah memahami isi materi di sampaikan oleh guru sehingga hasil belajar siswa akan meningkat. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti di SMK SPP Negeri Merangin terhadap pembelajaran Agama Islam yang belum optimal. Siswa hanya mendengarkan  dan  mencatat  penjelasan  dari  guru.  Siswa  cenderung pasif,

4 TA’DIB, Vol. XVI, No. 02, Edisi Nopember 2011. Hal 212

5 Jurnal As-Salam Vol.1(1). 2016:96-102 Nur Ainun Lubis dan HasrulHarahap | 98


meskipun ada materi yang belum jelas baginya. Hal itu terjadi karena sebagian siswa tidak memperhatikan saat pembelajaran. Pembelajaran masih bersifat teacher centered bukan student centered. Guru juga belum menerapkan berbagai model pembelajaran. Alasan utamanya karena dengan metode konvensional yang biasa digunakan oleh guru selama ini, akan mempermudah dalam proses pembelajaran. Penerapan model pembelajaran yang belum optimal mengakibatkan siswa menjadi bosan. Siswa hanya diberikan buku teks pelajaran yang berisi bermacam- macam materi untuk dipelajari tanpa menggunakan metode dan model pembelajaran yang merangsang siswa aktif dan tertarik untuk mengikuti pelajaran, terutama pada mata pelajaran Agama Islam yang cakupan materinya sangat luas. Sehingga dari nilai kriteria ketuntasan minimal ( KKM) yaitu 75, hanya beberapa % siswa yang dapat mencapai nilai KKM.

Penerapan teknik model pembelajaran kooperatif learning tipe jigsaw akan lebih mengaktifkan siswa dalam pembelajaran sehingga membuat pembelajaran lebih bermakna karena adanya keterlibatan siswa secara aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Melalui model pembelajaran ini siswa juga akan terlatih untuk mengungkapkan gagasan, pendapat dan kritikan terhadap orang lain. Sehingga diharapkan mampu mengoptimalkan hasil belajar siswa. Berdasarkan keterangan dan kondisi siswa di atas, maka peneliti merasa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul“Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Materi Menghindari  Akhlak Mahmumaz Melalui Model Pembelajaran Cooperative Learning Siswa Kelas X SMK SPP Negeri Merangin

 

B.  Pembatasan Dan Rumusan Masalah

       Pembatas Masa

Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah :

1.       Model Pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran cooperative learning tipe jigsaw dalam Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Materi Menghindari Akhlak Mahmumaz


2.        Pembelajaran pada pokok bahasan materi Menghindari Akhlak Mahmumaz

 

-         Rumusan Masalah

Berdasarkan rumusan pembatas masalah di atas, maka permasalahan yang terkait dengan penelitian ini dapat disajikan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

1.        Apakah penggunaan model pembelajaran cooperative learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam bahan ajar Materi Menghindari Akhlak Mahmumaz Kelas X SMK SPP Merangin ?

2.            Bagaimana pelaksanaan model pembelajaran cooperative learning tipe jigsaw dalam upaya meningkatkan prestasi belajar Pendidikan agama islam siswa dengan bahan ajar Materi Menghindari Akhlak Mahmumaz ?

 

C.   Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah :

1.        Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar Pendidikan agama Islam bahan ajar materi Menghindari Akhlak Mahmumaz Kelas X SMK SPP Negeri Merangin

2.                   Untuk mengetahui pelaksanaan model pembelajaran cooperative learning tipe jigsaw dalam meningkatkan hasil belajar bahan ajar materi Menghindari Akhlak Mahmumaz Kelas X SMK SPP Negeri Merangin

 

D.     Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yang hendak dicapai, maka penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat atau kegunaan dalam pendidikan, baik secara lansung maupun tidak langsung. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.    Bagi siswa, siswa akan lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru, serta menimbulkan minat dan motivasi belajar peserta didik.


2.       Bagi guru, guru lebih termotivasi untuk terus belajar serta membekali diri dengan berbagai aspek keilmuan yang berkenaan dengan aspek kependidikan.

3.      Bagi Lembaga Pendidikan atau sekolah, dapat meningkatkan mutu Pendidikan dan tercapainya standar kelulusan.


BAB II

KERANGKA TEORI

 

A.       LANDASAN TEORI

1.    Prestasi belajar

a.         Pengertian prestasi belajar

Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu prilaku.Pada saat orang belajar,maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Skinner, seperti yang di kutip Barlow dalam bukunya Education Psyhology: The teaching-learning process, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progesif. Sedangkan jika di lihat dari sudut ilmu mendidik menurut M.Ngalim Purwanto, belajar berarti perbaikan dalam tingkah laku dan kecakapan- kecakapan dan tingkah laku yang baru. jadi belajar adalah perubahan tingkah laku pembelajaran yang relatif permanen yang di dapat dari pengalaman belajar siswa serta praktek yang di dapat di dalam setiap pembelajaran di sekoalah serta lingkungan sekitar di mana siswa itu tinggal.

Kata “prestasi” berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi “prestasi”yang berati “hasil usaha.” Prestasi menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia adalah hasil yang telah di capai, dilakukan, dan dikerjakan. Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun secara kelompok. Prestasi tidak mugkin di capai atau di hasilkan oleh seseorang selama ia tidak melakukan kegiatan dengan sunguh-sunguh atau dengan perjuangan yang gigih. Untuk mendapatkan prestasi sangat diperlukan pengorbanan.Karena dalam mencapai prestasi banyak rintangan dan hambatan yang menghadang. Menurut Poerwodarminto Mila Ratnawati, Pretasi belajar diartikan sebagai perstasi yang di capi oleh seorang siswa pada jangka waktu tertentu dan di catat dalam buku rapor sekolah. Setelah mengetahui pengertian tentang prestasi dan belajar, maka penulis memadukan pengertian tersebut  yaitu  pengertian  prestasi  dan


belajar. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai atau yang diperoleh yang berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap pengalaman dan pelatihan yang telah dilalui oleh individu dan akhirnya mengakibatkan adanya perubahan dalam diri individu tersebut. Adapun prestasi belajar pendidikan agama Islam adalah apa yang telah dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar, namun pencapaian hasil belajar tersebut yang merujuk pada aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Oleh karena itu,ketiga aspek di atas juga harus menjadi indikator prestasi belajar. Artinya, prestasi belajar pendidikan agama Islam harus mencakup aspek- aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Dalam proses belajar mengajar kita perlu memperhatikan faktor- faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, agar dalam prosesnya dapat berjalan dengan lancar dan mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhui prestasi belajar siswa dapat di bedakan menjadi tiga macam, yaitu:

a.       Faktor internal

Faktor ini berasal dari dalam diri siswa sendiri yang meliputi dua aspek, yaitu: aspek fisiologis (yang bersifat jasmani), dan aspek psikologis (yang bersifat rohaniah).

1.  Aspek fisiologi

2.  aspek psikologis

3.  intelegensi siswa

4.  sikap siswa

5.  bakat siswa

6.  minat siswa

7.  motivasi siswa

b.        Faktor Eksternal

Faktor   ini    berasal    dari    luar    diri    siswa.   Secara    garis besar fackor ekstrnal dapat di bagi menjadi dua, yaitu:43

1.  lingkungan sosial

2.  lingkungan non sosial


 

c.       Factor pendekatan belajar

Pendekatan belajar dapat dipahami sebagai cara atau strategi yang digunakan siswa untuk menunjang keefektifan dan efeseinsi dalam proses pembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan. belajar tertentu. Disamping faktor internal dan eksternal, Pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses belajar siswa. Diantara pendekatan belajar yang harus diperhatikan adalah pengorganisasian siswa, diantaranya adalah: a) Pembelajaran secara individual, yaitu kegiatan mengajar guru yang menitik beratkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu. b) Pembelajaran secara kelompok, yaitu pembelajaran dengan cara membentuk kelompok kecil. c) Pembelajaran secara klasikal, yaitu pembelajaran yang merupakan kemampuan guru yang utama, karena pengajaran kasikal merupakan kegiatan mengajar yang tergolong efesien.

 

d.      Belajar

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Belajar bisa mengasikan dan bisa juga menjenuhkan ,tergantung guru menyikapinya dalam peroses belajar. dan pembelajaran di kelas. Dalam peroses pembelajaranlah seorang guru harus dapat menciptakan suasana yang menyenangkan

, Dalam hal ini guru diharapkan mengunakan metode-metode belajar, agar siswa mendapatkan prestasi belajar di dalam kelas dengan baik.

2.    Pengertian Model pembelajaran cooperative learning

a.    Model pembelajaran

Model pembelajaran adalah kerangka kerja yang memberikan gambaran sistematis untuk melaksanakan pembelajaran agar membantu


belajar siswa dalam tujuan tertentu yang ingin dicapai. Menurut pendapat suprihatiningrum (2013 halm 145) yang menyatakan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur pembelajaran dengan sistematis untuk mengelola pengalaman belajar siswa agar tujuan belajar tertentu yang diinginkan bisa tercapai. Jadi ciri khusus dari model pembelajaran adalah adanya pola atau rencana sistematis dalam proses pembelajaran.

a).       Ciri-ciri model pembelajaran

Menurut hamiyah dan Jauhar (2014, halm 58) ciri-ciri model pembelajaran yaitu:

1.      Berdasarkan teori Pendidikan dan teori belajar tertentu

2.      Mempunyai misi atau tujuan Pendidikan tertentu

3.      Dapat    dijadikan     pendoman    untuk    perbaikan      kegiatan pembelajaran di kelas

4.        Memiliki perangkat bagian model

5.      Memiliki      dampak     sebagai      akibat     penerapan      model pembelajaran baik langsung maupun tidak langsung

b).     Fungsi model pembelajaran

Fungsi model pembelajaran adalah pedoman dalam perangcangan hingga pelaksanaan pembelajaran.

Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Trianto (2015, hal 53) yang mengemukakan bahwa fungsi model pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi perancang pengajar dan para guru dalam melaksanakan pembelajaran. Oleh karena itu pemilihan model pembelajaran sifat materi yang akan dibelajarkan, tujuan (kompetensi) yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut serta tingkat kemampuan peserta didik3.

c).   Macam-macam model pembelajaran

Menurut Hamdayama (2016, halm. 132-182) macam- macam model pembelajaran adalah sebagai berikut :

1.      Model pembelajaran inquiry

2.      Model pembelajaran kontekstual


3.      Model pembelajaran ekspositori

4.      Model pembelajaran berbasis masalah (PBL)

5.      Model pembelajaran kooperatif (cooperative learning)

6.      Model pembelajaran kelas rangkap

7.      Model pembelajaran tugas terstruktur

8.      Model pembelajaran portopolio

9.      Model pembelajaran tematik.6

 

3.    Model pembelajaran kooperatif

Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan Kerjasama peserta didik dalam kegiatan belajar. Seperti dikemukakan Huda 2015, hal 32) pembelajaran cooperative mengacu pada metode pembelajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil dan saling membantu dalam belajar. Melengkapi penjelasan di atas, menurut Rusman (2018, hal 202) pembelajaran cooperative atau cooperative learning merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Artinya kelompok belajar yang disusun haruslah beragam dan tidak pandang bulu7. Menurut2. pembangunan kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri individu siswa. Keterampilan berarti kemampuan menggunakan fikiran, nalar dan perbuatan dan secara efektif dan efesien untuk mencapai suatu hasil tertentu termasuk kreatifitasnya. Kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif learniang adalah

a.      Kelebihan

Pembelajaran kooperatif mampu meningkatkan keterampilan kognitif dan afektif siswa secara bersamaan. Selain itu, sadker (dam huda, 2015, hal 66) menjabarkan bahwa beberapa manfaat dan kelebihan dari pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:

 

 


6 Hamdayama, Jumanta. (2016) Metodologi pengajaran. Jakarta. Bumi aksara

7Huda, Miftahul. (2015). Model-model pengajaran dan pembelajaran: isu-isu metodis dan paradigmatic. Yogyakarta: Pustaka Pelajar


1.                  Siswa yang di ajari dengan dan dalam struktur-struktur kooperatif akan memperoleh hasil pembelajaran yang tinggi

2.               Peserta didik yang berpartisipasi dalam pembelajaran kooperatif akan memiliki sikap harga diri yang lebih tinggi dan motivasi yang lebih besar untuk belajar

3.                Melalui pembelajaran kooperatif, siswa menjadi lebih peduli pada teman-temannya, dan di antara mereka akan terbangun rasa ketergantungan yang positif (interdependesi positif) untuk proses belajar mereka nanti.

4.                        Melalui pembelajaran kooperatif meningkatkan rasa penerimaan siswa terhadap temman-temannya yang berasal dari latar belakang dan etnik yang berbeda-beda.

b.       Kekurangan cooperative learning

1.                 Ditakutkan ada beberapa siswa yang tidak bertanggung jawab secara personal pada tugas kelompoknya hanya akan mengekor pada apa saja yang telah dilakukan oleh teman-teman satu kelompoknya Kondisi dimana beberapa anggota yang dianggap kurang mampu cenderung dia abaikan oleh rekan lainnya yang lebih mampu.

2.        Titakutkan siswa hanya focus pada salah satu bagian materi yang ada dikelompoknya saja sedangkan materi untuk kelompok lain

3.        Kooperatif learning tipe jigsaw

 

 

Pemebelajaran kooperatif tife jigsaw merupakan model pembelajaran yang membagi siswa kedalam beberapa kelompok lalu secara sistematis memecah Kembali kelompok tersebut untuk berdiskusi dengan anggota kelompok lain dalam suatu bagian materi dan kelompok khusus untuk kemudian Kembali ke kekelompok awal dan menyampaikan hasil diskusinya dengan kelompok khusus tadi. Artinya, anggota kelompok awal memiliki tanggung jawab masing-masing atas penguasaan bagian materi tertentu dengan cara mencari tahu dan mendiskusikannya Bersama anggota-anggota kelompok bayangan supaya dapat mengajarkannya pada kelompok awal. Jadi dapat disimpulkan bahwa jigsaw adalah salah satu


tipe model pembelajaran kooperatif yang mengambil pola alternatif dari pembelajaran kelompok yang membuat peserta didik bekerja sama dalam suasana ketrgantungan satu sama lain yang positif untuk mempelajari materi yang diberikan secara efektif sembari melatih dan menguatkan karakter dan soft skill. Adapun sintaks model pembelajar jigsaw menurut Rusman (2018, halm 220) Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah sebagai berikut:

1.      Siswa dikelompokkan dengan anggota sekitar 4 orang

2.       Tiap siswa dalam kelompok diberi materi dan tugas yang berbedatiap kelompok ahli mempersentasikan hasil diskusi

3.       Anggota dari kelompok yang berbeda dengan penugasan yang sama membentuk kelompok baru 9 kelompok ahli)

4.       Setelah kelompok ahli berdiskusi, tiap anggota Kembali ke kelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok tentang materi yang mereka kuasai

5.      Tiap kelompok ahli mempersentasikan hasil diskusi

6.      Pembahasan

7.      Penutup

 

3. Materi Menghindari Akhlak Madzmumah dan Membiasakan

Akhlak Mahmudah.

Materi PAI yang dipelajari oleh kelas X adalah materi menghindari akhlak madzmumah dan membiasakan akhlak mahmudah yang memiliki Capaian Pembelajaran (CP) antara lain:

1) Peserta didik menjelaskan manfaat menghindari akhlak madzmumah yaitu sikap tempramental.

2) Menjelaskan suatu karya yang mengandung konten manfaat menghindari sikap madzmumah yaitu sikap tempramental.

3) Menjabarkan bahwa akhlak madzmumah yaitu sikap temperamental adalah larangan dan akhlak mahmudah yaitu perilaku kontrol diri adalah perintah agama

4) Mencontohkan dengan membiasakan diri untuk menghindari akhlak madzmumah yaitu menjauhi sikap temperamental dan menampilkan akhlak mahmudah yaitu perilaku kontrol diri dalam kehidupan sehari-hari.22

Adapun tujuan mempelajari materi menghindari akhlak madzmumah dan membiasakan akhlak mahmudah, antara lain:

1)      Agar peserta didik dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan sikap temperamental (ghadhab) dan perilaku kontrol diri serta ayatyang menjelaskannyaKitab Allah adalah kumpulan wahyu allah swt yang disampaikan kepada para rasul-Nya untuk di ajarkan kepada umat manusia sebagai petunjuk dan pedoman hidup. Iman kepada kitab Allah Swt berarti percaya dan yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah Swt telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para Rasul- Nya. Ajaran yang terdapat di dalam kitab tersebut disampaikan kepada umat manusia sebagai pedoman hidup agar dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

2)      Agar peserta didik dapat menjabarkan manfaat menghindari sikap temperamental (ghadhab) dan menumbuhkan sikap kontrol diri.

3)       Agar peserta didik dapat menjelaskan paparan tentang cara menghindari perilaku temperamental (ghadhab) dan menumbuhkan sikap kontrol diri.

4)      Agar peserta didik dapat mencontohkan tata cara menjauhi sikap temperamental (ghadhab) dan bersikap kontrol diri dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut adalah materi tentang menghindari akhlak madzmumah dan membiasakan akhlak mahmudah sebagai berikut: Setiap manusia terlahir dengan fitrah dan sifat masing-masing. Di sekitar kita, orang yang mudah tersinggung dan mudah marah sering disebut dengan temperamental yaitu kondisi di mana amarah seseorang dapat meningkat dengan cepat dan apabila kondisi seperti itu dibiarkan terus-menerus. Sifat temperamental yang tidak dikendalikan dan tidak diupayakan untuk dirubah ibarat menyimpan bom waktu, karena akan berpotensi untuk mendatangkan masalah dari waktu ke waktu. Oleh karena itulah baik dalam Al-Qur`an maupun hadis banyak sekali dalil yang melarang seorang mukmin untuk memiliki sifat pemarah dan temperamental, karena akan mendatangkan kerugian baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain, pada kehidupan di dunia hingga kehidupan di akhirat. Sehingga seorang mukmin harus bekerja

keras untuk menahan amarahnya agar terhindar dari hal-hal yang merugikan, Sebaliknya seorang mukmin harus mampu menjaga dan mengontrol dirinya. Godaan setan untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama, datang silih berganti menguji keimanan dan kemampuan kita untuk mengendalikan diri setiap hari. Apabila kita tidak mampu mengontrol diri, dan mengikuti bisikan dan godaan untuk melakukan hal-hal yang terlarang tersebut, maka tentu saja kita akan terjerumus ke dalamnya, namun apabila kita mampu mengontrol diri dengan baik maka kita akan terhindar dari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.24

1)       Menghindarkan Diri dari Sifat Temperamental (Ghadhab) Sifat Temperamental (Ghadhab) Temperamental atau sifat mudah marah dalam bahasa Arab berasal dari kata ghadhab, dari kata dasar ghadhiba– yaghdhibu–ghadhaban. Menurut istilah, ghadhab berarti sifat seseorang yang mudah marah karena tidak senang dengan perlakuan atau perbuatan orang lain. Sifat amarah, selalu mendorong manusia untuk bertingkah laku buruk. Menurut Sayyid Muhammad Nuh dalam kitab „Afatun „ala at-Thariq marah adalah perubahan emosional yang menimbulkan penyerangan dan  penyiksaan guna melampiaskan dan mengobati apa yang ada di dalam hati.

Seorang muslim harus senantiasa bersabar dan berusaha menahan amarahnya. Imam Al-Ghazali mengatakan, bahwa orang yang bersabar adalah orang yang sanggup bertahan menghadapi rasa sakit serta sanggup memikul beban atas sesuatu yang tidak disukainya. Rasulullah Saw. bersabda sebagai berikut: عه أبً هزٌزة رضً هللا عىه ان رسول هللا صلى هللا علٍه وسلم قال: لٍس الشدٌد با الصزعة ,اوما الشدٌد الذي ٌملك وفسه عىد الغضب )متفق علٍه( Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang kuat, bukanlah orang yang menang berkelahi, namun orang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika ia sedang marah”. (H.R. Bukhari dan Muslim) Marah (ghadhab) adalah situasi yang normal dan manusiawi karena ia merupakan sifat yang melekat pada tabiat seseorang. Namun seorang mukmin harus berusaha mengendalikan sifat marah tersebut dan berlatih dengan cara menjauhi sebab-sebab yang dapat menimbulkan kemarahan. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui dan mengenali hal-hal yang dapat menyebabkan kemarahan.

Secara umum, penyebab kemarahan terdiri dari dua faktor yaitu

: a) Faktor Fisik (Jasmaniah)

Kehidupan manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasmaniah (fisik) dan rohaniah (psikis). Keduanya harus mendapatkan pors

perhatian yang seimbang. Dalam hal yang berkaitan dengan penyebab kemarahan, kondisi fisik seseorang secara jasmaniah harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh agar kita mampu mengantisipasi dan mengelolanya sehingga dapat menghindarkan diri dari kemarahan yang sulit untuk kita kendalikan.

b) Faktor Psikis (Rohaniah) Faktor psikis yang dapat menyebabkan sifat temperamental atau mudah marah sangat erat kaitannya dengan karakter dan kepribadian seseorang. Sifat temperamental atau ghadhab dalam pandangan Islam merupakan refleksi dari sifat setan yang keji. Ia akan memperdaya manusia melalui kemarahannya. Dalam keadaan marah, seseorang akan sangat mudah melakukan perbuatan-perbuatan keji yang lain karena ketidakmampuan mengendalikan amarahnya.

 Setiap orang memiliki temperamen yang berbeda-beda, sehingga sesunguhnya sifat temperamental merupakan sifat hati yang harus dikelola agar setiap kemarahan tersebut tidak bersifat destruktif atau merusak. Berikut ini merupakan tingkatan sifat temperamental (ghadhab) dalam kehidupan yaitu:

a)      Golongan Marah Berlebihan (Ifrath) Yaitu golongan yang mengalami kesulitan dalam mengendalikan sifat pemarah, lalu

bersikap berlebihan sehingga kehilangan kendali terhadap akal sehatnya. Seringkali golongan ini akan berteriak dan membentak dengan suara yang kasar dan adakalanya sampai terjadi pemukulan dan amukan hingga menyebabkan terjadinya pertumpahan darah. Marah yang tidak dapat dikendalikan juga dapat membentuk perasaan dendam, benci dan dengki sehingga mendorong seseorang untuk melakukan pembalasan terhadap orang yang menjadi sumber kemarahannya.

 b) Golongan yang Tidak Memiliki Sifat Marah (Tafrith) Yaitu golongan yang tidak bisa marah. Merupakan kebalikaan dari golongan ifrath. Golongan ini sama sekali tidak akan menunjukkan sikap marah terhadap apa pun yang terjadi di sekitarnya. Pada golongan orang yang seperti ini, menghadapi urusan agama yang dihina maupun diinjak-injak oleh golongan lain pun, mereka akan bersikap acuh, tidak peduli dan tidak memiliki hasrat untuk melakukan pembelaan terhadap kebenaran. Sedangkan Rasulullah Saw. yang merupakan manusia yang paling tawadlu pun, akan tetap marah dan mempertahankan agamanya serta menentang musuh-musuhnya bila mana diperlukan.

 c) Golongan yang Mampu Berlaku Adil dan Proporsional (I‟tidal) Yaitu golongan moderat yang berada di antara ifrath dan tafrith. Mereka tidak akan kehilangan sifat pemarah sama sekali tetapi akan marah hanya pada saat-saat tertentu dengan kemarahan yang proporsional. Sifat marah yang proporsional adalah marah yang timbul karena sesuatu melanggar larangan Allah Swt. dan dalam rangka membela agama Islam dan umatnya

 

 

.B. PENELITIAN TERDAHULU

1.                           Ilhamsyah (2013) yang berjudul : “Pengaruh Perhatian Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas V MI Arridha Jakarta Barat” Berdasarkan data yang didapat dan kemudian dianalisis disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari factor perhatian guru terhadap prestasi belajar siswa dengan tingkat korelasi yang cukup dengan nilai. Hal ini menginformasikan kepada guru agar selalu menciptakan suasana yang harmonis dengan memberikan perhatian kepada siswa didiknya, menciptakan hubungan kasih sayang serta sedapat mungkin menyediakan fasilitas dan sarana belajar yang mencukupi bagi siswa didiknya, sehingga tercipta suasana kondusif.

2.               Tuti Alawiyah (2014) yang berjudul : “Pengaruh Metode Mengajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Bidang Studi Fiqih kelas IV di MIN Pegadungan Kalideres Jakarta Barat” Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan

: Pengaruh metode mengajar terhadap prestasi belajar siswa pada bidang studi fiqih di MIN Pegadungan Kalideres Jakarta Barat dapat dikatakan cukup baik. Hal ini dapat dillihat pada hasil perhitungan product moment berdasarkan jawaban siswa yaitu 0,57. Dari hasil perhitungan product moment diperoleh hasil 0,57. Dengan memperhatikan besarnya rxy yang dihasilkan yang berada pada rentang di bawah 0,70 berarti korelasi antara variable x dan variable y dapat dikatakan sedang atau cukup baik, jadi tingkat korelasi antara metode mengajar dengan prestasi belajar siswa cukup berpengaruh dan signifi

 

C. HIPOTESIS PENELITIAN

Penelitian ini direncanakan dua siklus dan setiap siklus dengan prosedur pelaksanaan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Melalui prosedur tersebut dapat diamati tentang pengetahuan materi menyakini kitab-kitab Allah


melalui media pembelajaran cooperative learning pada siswa kelas X SMK SPP Negeri Merangin sehingga himpotesis tindakan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah:

1.        Terjadi peningkatan aktifitas belajar siswa dalam materi Menghindari Akhlak Mahmumaz setelah menggunakan model pembelajaran cooperative learning

2.        Terdapat peningktan prestasi belajar Pendidikan agama islam siswa bahan ajar menyakini kitab-kitab Allah mencintai al-qur’an setelah menggunakan model pembelajaran cooperative learning


BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

 

A.      Jenis Penelitian

Penelitian yang digunakan adalah penelitaian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus.Penelitian tindakan kelas pada dasarnya merupakan pengembangan dari penelitian tindakan (action research).Metode penelitian ini dilaksanakan berdasarkan penelitian tindakan kelas Classrom action research merupakan bentuk suatu penelitian yang bersifat reflektif dan kolaboratif tindakan-tindakan tertentu guna mencapai perbaikan dan peningkatan kemampuan profesionalisme guru dalam pembelajaran dikelas.1

Menurut Hamzah B. Uno dkk penelitian tindakan kelas ini adalah

“penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, dan hasil belajar siswa meningkat.”2 Oleh karena itu PTK secara singkat dapat didefinisikan sebagai bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki atau meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara lebih propesional.

Empat langkah penting dalam penelitian tindakan kelas yaitu:” merencanakan (planning), melaksanakan (acting), mengamati (observing) dan merefleksi (reflecting)”.


Langkah penelitian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.        Perencanaan

Rencana tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan hasil belajar sebagai solusi.

2.      Tindakan

Usaha yang dilakukan oleh guru atau peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang diinginkan

3.        Obsevasi

a.                   Mengamati keaktifan siswa melalui lembar observasi dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan agama islam bahan ajar Menghindari Akhlak Mahmumaz melalui model pembelajaran cooperative learning dan kemampuan hasil belajar siswa melalui tes.

b.                  Menganalisis kemampuan guru dalam pelajaran Pendidikan agama islam bahan ajar Menghindari Akhlak Mahmumaz melalui lembar observasi.

4.      Refleksi

Peneliti mengkaji, melihat dan mengevaluasi atas hasil dari tindakan. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti bersama guru dapat melakukan revisi perbaikan terhadap rencana awal.4

 

B.       Variabel Penelitian

Variable penelitian menggunakan variable bebas. Variabel penelitian ini juga disebut sebagai istilah variable stimulus atau pengaruh, yang mana mengalami perubahan yang disebabkan karena variable ini. Adapun variable yang akan peneliti lakukan dalam penelitian Tindakan kelas (PTK) adalah menganalisis hasil belajar peserta didik dalam menguasai materi Menghindari Akhlak Mahmumaz.

Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap, untuk mendapatkan data yang relevan dengan masalah yang diteliti, maka dalam hal ini penelitian yang terhitung mulai dari persiapan kelapangan sampai selesai penelitian yaitu selama 1 bulan. Adapun mengenai lama penelitian tindakannya yaitu 2 siklus yang dilakukan selama 4 minggu (1 bulan). Penelitian ini akan dilaksanakan pada 17 Juli s/d 16 Agustus 2024


Adapun lokasi dalam penelitian ini bertempat di SMK SPP Negeri Merangin yang merupakan lembaga pendidikan yang terletak di kecamatan Batam Masumai Kabupaten Merangin.

C.    Populasi Dan Sampel

Adapun jumlah populasi dalam penelitian Tindakan kelas ini adalah siswa- siswi kelas X semester ganjil di SMK SPP Negeri Merangin dengan jumlah 25 siswa yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Alasan dipilihnya kelas ini karena di SMK SPP Negeri Merangin yaitu:

1.      Rendahnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan agama Islam.

2.        Kurangnya pendekatan yang tepat dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan agama Islam bahan ajar Menghindari Akhlak Mahmumaz

3.      Metode yang digunakan guru kuarang bervariatif sehingga menimbulkan kemalasan dalam belajar yang berakibat rendahnya hasil belajar yang didapat siswa.

4.   Kurangnya keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, sehingga siswa hanya mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru.

 

D.    Instrument Penelitian

Instrument penelitian adalah metode yang dipakai untuk mengukur dan mengumpulkan data pada karya ilmiah. Instrument penelitian sangat penting karena dapat mempengaruhi validitas data yang digunakan dalam penelitian.

 

 

 

No

 

 

 

Kegiatan

Menit

5

10

15

20

25

0

5

40

45

50

60

65

75

80

85

90

95

100

105

110

115

120

1

pendahuluan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

egiatan inti

 

 

 

 

 

 

3

penutup

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


E.     Jenis, Sumber dan Teknik pengumpulan Data

1.      Jenis

Ada dua jenis data pada umumnya yaitu data kuantitatif dan data kualitatif yang akan dijelaskan di bawah ini, penulis lebih mempokuskan pada data kuantitatif dalam melakukan analisis ini.

-         Data kuantitatif

Data kuantitatif merupakan data atau informasi yang di dapatkan dalam bentuk angka. Dalam bentuk angka ini maka data kuantitatif dapat diproses menggunakan rumus matematika atau dapat juga dianalisis dengan system statistic.

-         Data kualitatif

Data kualitatif merupakan data yang berbentuk kata-kata atau verbal. Cara memperoleh data kualitatif dapat dilakukan melalui wawancara.

2.      Sumber Data

Dalam pengumpulan sumber data, peneliti melakukan pengumpulan sumber data dalam wujud data primer dan data sekunder.

-         Data primer

Data Primer ialah jenis dan sumber data penelitian yang di peroleh secara langsung dari sumber pertama (tidak melalui perantara),baik individu maupun kelompok. Jadi data yang di dapatkan secara langsung.Data primer secara khusus di lakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Penulis mengumpulkan data primer dengan metode survey dan juga metode observasi. Metode survey ialah metode yang pengumpulan data primer yang menggunakan pertanyaan lisan dan tertulis. Penulis melakukan wawancara kepada pemilik usaha woodshouse untuk mendapatkan data atau informasi yang di butuhkan. Kemudian penulis juga melakukan pengumpulan data dengan metode observasi. Metode observasi ialah metode pengumpulan data primer dengan melakukan pengamatan terhadap aktivitas dan kejadian tertentu yang terjadi

-         Data sekunder

Data Sekunder merupakan sumber data suatu penelitian yang di peroleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (di peroleh atau


dicatat oleh pihak lain). Data sekunder itu berupa bukti,catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip atau data dokumenter

3.      Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian adalah sebagai berikut :

-     Tes

Tes merupakan suatu cara untuk melakukan penilaian yang berbentuk tugas-tugas yang harus dikerjakan untuk mendapatkan data tentang nilai hasil belajar siswa yang dapat dibandingkan dengan yang dicapai kawan- kawannya atau nilai standar yang ditetapkan, dan aspek yang paling dilihat.

dalam hal ini Wina Sanjaya memberikan penjelasan tentang tes adalah “instrumen pengumpulan data untuk mengukur kemampuan siswa dalam aspek kognitif, atau penguasaan tingkat materi pembelajaran.”7 Pada penelitin pra siklus peneliti mengunakan hasil test UTS (ujian tengah semester), sedangkan untuk penilaian pada tahap siklus I dan siklus II peneliti mengunakan tes tulis sebagai alat penilaian.

-         Observasi

Observasi merupakan suatu kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan mengunakan seluruh alat indra. Nana Syaodih sukmadinata menjelaskan observasi adalah “Suatu tehnik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung.”9Observasi digunakan untuk mencatat atau memantau setiap kegiatan yang dilakukan siswa dan guru di dalam pembelajaran fiqih karena dari pemantauan ini dapat ditemukan kelemahan berbagai kelemahan sehingga dapat ditindak lanjuti untuk diperbaiki pada siklus berikutnya.

-         Wawancara

Wawancara adalah “Teknik pengumpulan data dengan menggunakan bahasa lisan kepada subyek yang diteliti secara tatap  muka  ataupun melalui media tertentu.”10Wawancara menurut Wina Sanjaya, merupakan tehnik pengumpulan data secara tatap muka atau melalui media tertentu. Pada


penelitian ini peneliti mewawancarai guru bidang fiqih untuk mndaatkan informasi mengenai hasil siswa dalam belajar fiqih.

-  Dokumentasi

Dokumentasi adalah pengumpulan data-data mengenai hal-hal yang berupa catatan, arsip dan lain-lain.Teknik ini untuk mendukung dalam mendapatkan data-data yang lebih akurat yang tentunya yang berkaitan dengan penelitian ini.Untuk penelitian tindakan kelas ini, peneliti mengambil dokumentasi berupa foto atau gambar pada saat penelitian tindakan kelas berlangsung.

F.     Teknik Analisis dan pengujian Hipotesis

a.    Teknik analisis

Data yang telah diperoleh dan dikumpulkan kemudian akan dianalisis. Adapun langkah-langkah yang ditempuh untuk menganalisis data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:

1.      Tes

Adapanya tes dilakukan untuk mengetahui presentasi ketuntasan belajar siswa dalam suatu kelas melalui penilaian berikut ini:

P = f x 100

N

Keterangan : P : presentasi

F : jumlah siswa yang mencapai ketuntasan N: jumlah seluruh siswa

Adapun untuk mengetahui nilai-nilai rata-rata siswa dilakukan melalui penilaian berikut ini

X=∑ˣ                               Keterangan:

x : Nilai rata-rata siswa

∑ : j umlah nilai siswa N : Jumlah nilai siswa


Standar ketuntasaan belajar siswa ditentukan dari hasil persentase penguasaan siswa pada kompetensi dasar dalam suatu materi tertentu kriteria ketuntasan belajar setiap kompetensi dasar berkisar anatara 0- 100%.

 

2.        Observasi

Adanya observasi untuk mengetahui kaeaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran fiqih dan untuk mengetahui kemampuan guru dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menggunakan metode demotrasi (%) = n/N x 100%

Keterangan:

%        = Presentasi keaktifan siswa n

= Jumlah skor yang diperoleh N          = Jumlah skor maksimal

Perhitungan presentasi kinerja guru dalam menjelaskan materi fiqih menggunakan metode demontrasi sebagai berikut:

Presentasi (%) = n/N x 100%

%        = Presentasi keaktifan siswa n

= Jumlah skor yang diperoleh N          = Jumlah skor maksimal

Perhitungan presentasi kinerja guru dalam menjelaskan materi fiqih menggunakan metode demontrasi sebagai berikut:

Keterangan:

%        = Presentasi keaktifan siswa n

= Jumlah skor yang diperoleh N          = Jumlah skor maksimal

 

Tabel keaktifan siswa dan kinerja guru

 

No

Nilai

Kritetia

1

< 25%

Kurang

2

26% - 50%

Sedang


 

3

26% -75%

Baik

4

75%

Baik sekali

 

 

b.     Pengujian hipotesis

Penelitian ini dilakukan dua siklus dan setiap siklus dengan prosedur pelaksanaan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Melalui prosedur tersebut dapat diamati tentang pengetahuan materi Menghindari Akhlak Mahmumaz melalui media pembelajaran cooperative learning pada siswa klas X SMK SPP Negeri Merangin, sehingga himpotesis tindakan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah:

1.            Terjadi peningkatan aktifitas belajar siswa dalam materi Menghindari Akhlak Mahmumaz setelah menggunakan model pembelajaran cooperative learning

2.            Terdapat peningktan prestasi belajar Pendidikan agama islam siswa bahan ajar Menghindari Akhlak Mahmumaz setelah menggunakan model pembelajaran cooperative learning


.


DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Ahsan, S.Ag, M.kom. 2017. Pendidikan agama islam dan budi pekerti, Jakarta: Kemendikbud.

Syaiful, S. 2013 Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Susanto, A, 2013. Teori Belajar Pembelajaran Di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana.

TA’DIB, Vol. XVI, No. 02, Edisi Nopember 2011.

Jurnal As-Salam Vol.1(1). 2016:96-102 Nur Ainun Lubis dan Hasrul Harahap Suprihatiningrum, jamil 2013. Strategi pembelajaran Yogyakarta : Ar-ruzz media Muhibin syah. 2003. Psikologi Belajar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, cet. II

M. Ngalim Purwanto. 2007 Psikologi Pendidikan Jakarta: PT. 32 Remaja Rosda Karya, Cet. 23.

Zainal Arifin. 2013. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, Cet. V.

Hasan Basri. 2015. Pradikma Baru system pembelajaran. Bandung:cv pustaka setia.

M. Ngalim Purwanto.2013. Psikologi Pendidikan (Jakarta : PT. 32Remaja Rosda Karya, Cet. 23, 2007) h. 89

Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, Bandung: PT Remaja Rosda Karya, Cet. V.

Dimyati dan Mudjiono.2009. Belajarar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Hamiyah. N. Jauhar M. 2014. Strategi model pembelajaran. Yogyakarta: Aswaja Presindo

Trianto. 2015. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT bumi Askara Hamdayama, Jumanta. 2016. Metodologi pengajaran. Jakarta. Bumi aksara. Huda, Miftahul. 2015. Model-model pengajaran dan pembelajaran: isu-isu metodis dan paradigmatic. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

https://serupa.id/model-pembelajaran-jigsaw/

Sartika ( 1812011000096) Watermark.pdf


 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lembar Kerja (LK) 6 : Penyusunan Rencana Aksi

TUGAS REFLEKSI MODUL PEDAGOGIK