Analisis Bahan Ajar Struktur Keilmuan PAI video

 

ANALISIS BAHAN AJAR

 

Judul   Modul                          : STRUKTUR KEILMUAN PAI

Judul   Kegiatan Belajar (KB): 1 ILMU DALAM  ISLAM

Bahan ajar yang di analsisi      : video

No.Butir Pertanyaan  Respon/jawaban

 

1. Tuliskan minimal 3 (tiga) konsep beserta deskripsinya yang Anda temukan di dalam bahan ajar;

 

1. Lembaga Pendidikan Agama Islam (LPAI)

- Lembaga Pendidikan Agama Islam (LPAI) pertama kalinya disebut Al Arqam yang didirikan oleh Muhamamd Saw. Pada tahun 1 Hijriyah.

- Materi LPAI Rasulullah mengajarkan tata cara baca tulis al-Quran materi tentang berdagang (ekonomi), tentang cara menghadapi musuh (politik/tatanegara), tentang bagaimana menggunakan alat untuk berperang (teknologi), dan materi tentang bagaimana melakukan bergaulan dengan sesama manusia baik seagama maupun tidak seagama (sosiologi/psikologi)

- Tujuan danTugas LPAI adalah membimbing, mengarahkan, membina, dan memberdayakan semua potensi yang ada di dalam tubuh manusia agar mampu menyelesaikan semua problem kehidupan sosialnya.

Ada tiga potensi atau kecerdasan yang ada di dalam diri manusia yaitu :

-          KecerdasanIntelektual (IQ,) 

-          KecerdasanEmosional (EQ)

-          Kecerdasan Spiritual   (SQ)

 

2. Pendidikan Agama Islam

-  Secara umum epistimologi terdiri dari dua kata yaitu epestem yang berarti pengetahuan dan logos yang bermakna ilmu.Menurut bahasa Inggris epistimologi berarti theory of knowledge (teori tentang pengetahuan) sedangkan dalam bahasa Arab disebut dengan istilah nazhariyyat al ma’rifah (teori tentang pengetahuan) Untuk mencapai derajat atau kemuliaan secara optimal di sisi Allah Swt. Umat Islam haruslah berilmu.

-  Pendidikan Islam adalah materi yang berkaitan dengan pengetahuan, etika manusia dalam menghadapi problem kehidupan di dunia dan akherat. Pendidikan agama Islam adalah memuat materi yang mengajarkan tentang tata cara bagaimana agar manusia mampu mencapai kebahagiaan di dunia dan akherat.

Firman Allah swt yang “ artinya: “Niscaya Allah akan meninggikan orang orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Q. S. Al-Mujadalah (58): 11)

Ilmuwan muslim berpendapat tentang pentingnya belajar atau mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai berikut:

-          m IbnAbd al Barr: seseorang akan menjadi pandai(‘alim) selagi dia belajar  (muta’allim), Jika tidak belajar jadi orang bodoh”

-          m Imam Malik: “Orang yang memiliki ilmu pengetahuan harus terus belajar dan mengajarkan ilmunya jika tidak hidupnya akan sia -sia.

-          Abdullah Ibn al Mubarak: “belajar itu seumur hidup”

-          Abu Amribn ‘Ala: “seseorang harus belajar sampai kehidupan ini menjadi baik karena berkat kemajuan ilmu pengetahuan.

3. Tujuan pendidikan agama Islam 

Tujuan Pendidikan Agama Islam sangat luas dan memiliki makna sangat mendalam. Tujuan utamanya untuk melahirkan profil manusia yang ideal (baik) dan memiliki adab.Oleh sebab itu, tujuan pendidikan agama Islam tidak cukup hanya bersifat fisik dan non fisik, tetapi lebih dari itu adalah untuk penanaman kesadaran hakikat manusia untuk menyadari darimana dia diciptakan, untuk apa dia dihidupkan dan dengan bagaimana dia mencapai kebahagiaan.

Obyek kajian Pendidikan Islam adalah apa yang dilihat/ dirasakan (empiris), apa yang dapat di rasio dan apa yang diyakini. Obyek pendidikan Islam minimal ada tiga hal yaitu akal, empiris dan keyakinan.

4. Metode pendidikan agama Islam 

Metode pendidikan Agama Islam ada tiga macam yaitu;

1) Metode bayani, yaitu metode berfikir atau pengembangan ilmu yang bersifat tekstualis.

2) Metode Irfani, yaitu cara berfikir atau pengembangan ilmu pengetahuan yang didasarkan kepada intuisi atau spiritual. 

3) Burhani yaitu cara pengembangan ilmu pengetahuan yang didasarkan kepada kekuatan akal pikiran atau rasional. 

Pendidikan Agama Islam akan melahirkan lulusan yang optimal jika metode pengembangan ilmu tersebut dilakukan secara optimal dan dilakukan secara komprehensif, artinya ketiga metode tersebut haraus dilakukan secara komplemnter atau saling melengkapi. Jika hanya menggunakan cara fikir bayani, maka akan melahirkan manusia yang normative atau tekstualis, jika hanya menggunakan metode irfani, maka bukan tidak mungkin akan melahiran sosok manusia yang fatalistik dan jika hanya menggunakan metode burhani bukan tidak mungkin akan melahirkan manusia yang sekuler.Idealisme pendidikan Islam harus menggunakan ketig acara yang dilakukan secara proporsional dan optimal

 

4.Problem Pendidian Agama Islam

-  problem epistimologi atau dikotomi secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan lambatnya kinerja ilmu keislaman dalam melakukan respon problem kehidupan masyarakat.

- Implikasinya ada kesan ilmu- ilmu pendidikan agama Islam hanya melahirkan wacana dan wacana “dari ilmu ke ilmu” atau science to science. Ilmu Pendidikan Agama Islam belum mampu melahirkan karya yang mampu memberikan kontribusi nyata dalam kehidupan masyarakat. Belum mampu memiliki para digma dari ilmu kemasyarakat (Science to society). Islam seakan belum berdaya jika dihadap kanpada berbagai problem kebangsaan, seperti bagaimana Islam menjawab tantangan kebangsaan seperti maraknya korupsi, maraknya dekadensi moral di tengah masyarakat, mudahnya terjadi tawuran antar kelompok.

- Problem lain yang dialami oleh umat Islam adalah problem kultural yaitu belum adanya kesadaran yang dapat dilaksanakan secara optimal. 

Manusia setidaknya memiliki tiga kesadaran, yaitu

(a) kesadaran untuk mengetahui

(b) kesadaran untuk meyakini dan

(c) kesadaran untuk melaksanakan atau menjalankan.

 

 

2. Lakukan kontekstualisasi atas pemaparan materi dalam bahan ajar dengan realitas sosial;

Kontekstualisai pendidikan agama Islam dalam budaya relegius pada lembaga-lembaga pendidikan umum yang bukan hal baru lagi, dalam implementasinya tentu harus diawali dariperubahansistempendidikan agama islam yang meliputiseluruhelemen yang terlibat dalam sistem pendidikan tersebut, mulai dari kalangan masyarakat, pemerintah dan sekolah , terutama Guru PAI yang  merupakan instrument terpenting dalam proses pembelajaran PAI pembiasaan budaya religious juga merupakan faktor penunjang untuk menentukan sikap dan perkembangan diri siswa untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

3. Refleksikan hasil kontekstualisasi materi bahan ajar dalam pembelajaran bermakna.

Refleksi hasil kontekstualisasi menunjukan bahwa problematika pendidikan agama Islam dalam budaya religious di sekolah umum sudah teratasi dan berjalan dengan baik dengan adanya pembiasaan akhlak dengan menggunakan penerapan budaya religious secara rutinitas di sekolah seperti senyum, salam,  sapa, berjabat tangan dengan guru, berdoa bersama sebelum jam belajar dimulai, Tadarus Al Qur’an, sholat zhuhur berjamaah, acara ROHIS setiap Jum’at dll.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lembar Kerja (LK) 6 : Penyusunan Rencana Aksi

TUGAS REFLEKSI MODUL PEDAGOGIK