Analisis Bahan Ajar PAI KONTEMPORER Jurnal Berjudul Pendidikan Agama Islam Penangkal Radikalisme (Sri Mulya Nurhakiky1 , Muhammad Naelul Mubarok2 1Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Indonesia 2Fakultas Tarbiyah Institut PTIQ Jakarta, Indonesia 1 nurhakiky14@gmail.com )
ANALISIS BAHAN AJAR
KEGIATAN BELAJAR : 2
|
Judul Modul |
PAI KONTEMPORER |
|
|
Judul Kegiatan Belajar (KB) |
Jurnal Berjudul Pendidikan
Agama Islam Penangkal Radikalisme (Sri Mulya Nurhakiky1 ,
Muhammad Naelul Mubarok2 1Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Indonesia
2Fakultas Tarbiyah Institut PTIQ Jakarta,
Indonesia 1 nurhakiky14@gmail.com
) |
|
|
Bahan ajar yang dianalisis |
Jurnal/Artikel 2 |
|
|
No |
Butir Pertanyaan |
Respon/jawaban |
|
1 |
Tuliskan minimal 3 (tiga) konsep beserta deskripsinya yang Anda temukan
di dalam bahan ajar; |
a.
Konsep dan Deskripsi 1.
Radikalisme Islam adalah gerakan islam yang
berpandangan kolot dan sering menggunakan kekerasan dalam mengajarkan serta
mempertahankan keyakinan mereka. Mereka adalah kelompok Islam yang kurang
lunak terhadap kondisi kehidupan religiusitas di Indonesia yang ingin
menjadikan syariat Islam sebagai hukum di Indonesia. Mereka mendakwahkan
maksud dan tujuannya kepada masyarakat sekitar untuk mendukung keinginannya dalam
mewujudkan pemerintahan Islam di Indonesia, seperti seperti Hizbut Tahrir,
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Ikhwanul Muslimin, Jamaah
Islamiah dan lain-lain. 2.
Paham atau pemikiran radikalisme di Indonesia
smakin luas melalui aktifitas pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri,
terutama dikawasan Timur Tengah yang menelan
bulat-bulat pemahaman-pemahaman yang mereka dapatkan dan memaksakan
untuk diaplikasikan ke dalamsebuah sistem kehidupan masyarakat Indonesia yang
amat berbeda dengan kehidupan di timur tengah tempet mereka belajar. Namun
dikarenakan maraknya aksi-aksi radikalisme yang terjadi dalam beberapa kurun
waktu ini lebih cenderung ke dalam isu-isu ideologi keagamaan, maka
seolah-olah agama adalah sarang radikalisme. 3.
Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan
terencana untuk menyiapkan siswa guna memahami ajaran Islam secara menyeluruh
dengan cara membina, mengasuh dan mengajar sebagai aktivitas asasi dan
sebagai profesi dalam masyarakat. 4.
(BNPT) Suhardi Alius pernah menegaskan
potensi yang disusupi paham radikal dan teror. Sebagai contoh, pertama pondok pesantren sebagai
lembaga pendidikan agama Islam tertua di Indonesia berulang kali dikaitkan
dengan isu radikalisme dan terorisme. Padahal, pondok pesantren yang
jumlahnya mencapai 28.000 di nusantara, sama sekali tidak mengajarkan Islam
radikal dan Islam teror, melainkan pendidikan Islam yang rahmatan lil alamin.
Kedua, mengokohkan peran institusi
pendidikan Islam pondok pesantren sebagai benteng menanggulangi radikalisme
dan terorisme di Indonesia. Sebab, dengan pengajaran agama Islam di pondok
pesantren tersebut dapat menghapus fenomena radikalisme maupun terorisme atas
nama agama. 5.
Sasaran empuk para teroris adalah anak-anak
muda yang sedang berusaha mencari jati diri. Anak muda yang menjadi sasaran
adalah anak-anak SMP dan SMA yang sedang tahap pembentukan kepribadian.
Sarana yang efektif digunakan oleh kelompok radikal adalah ruang digital yang
kini digemari oleh anak-anak muda masa kini, seperti media sosial, yang pada
kadar tertentu sulit untuk menemukan batas kepantasan kurang lebih 43,5 juta
anak dan remaja usia 10-19 tahun di Indonesia adalah pengguna internet.
Artinya dunia digital sudah menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Pada titik
ini kebenaran tampak kabur ditengah riuhnya wacana yang terus dilempar
keruang publik bak buih ditengah hamparan samudera yang luas. 6.
Pendidikan Islam yang berada dipunggung guru
bagai pedang bermata dua, di satu sisi bisa menangkal radikalisme, di sisi
yang lain justru bisa melahirkan radikalisme agama. Untuk mencegah lahirnya
radikalisme ini, perlunya merombak total carapandang terhadap agama Islam. Di
sinilah peran guru sebagai pendidik menduduki posisi kunci. Karena di tangan
merekalah, anak didik bisa dibentuk cara pandangnya pada agama dengan
kacamata cinta. Ajarkan pada anak kecil nama Jamaliyyah bukan Jalaliyyah.
Pendidikan agama Islam harus moderat, ini agama cinta kasih. Jadilah figur
pendidik yang modal utamanya adalah kasih sayang kepada siswa. Ajarkan bahwa
Islam itu adalah kasih sayang Allah Swt sebagai ramatan lil ‘alamin. 7.
Dalam Islam, ajaran tentang toleransi bisa
diaplikasikan lewat beberapa cara, di antaranya: Pertama, berpegang pada
prinsip kalimatun sawa (commomplatform) untuk pergaulan antar umat beragama
dan berbagai kepentingan masyarakat yang plural, Kedua, menumbuhkan pemahaman
keagamaan yang integratif, egaliter, inklusif, dan plural dengan melakukan
penguatan metodologi terhadap kajian-kajian Islam, dan Ketiga, mentradisikan
musyawarah dan berdiskusi. b.
evaluasi dan refleksi Ø Radikalisme lebih banyak
disebabkan oleh adanya faham atau pemikiran yang sempit terhadap suatu
fenomena. Oleh sebab itu jika radikalisme ingin dieliminir bahkan dihilangkan
harus diawali dari pembinaan atau bimbingan cara pandang atau cara fikir terhadap
suatu fenomena. Nur Syam (2009) dalam buku Tantangan Multikulturalisme
Indonesia memiliki analisis yang cukup menarik bahwa untuk melahirkan cara
pandang yang tepat perlu belajar dari ideologi ahlussumahwal jamaah atau NU
yang dicirikan dengan empat hal; 1. Pertama, tawasuth (moderat)
mengambil jalan tengah yang lebih bijaksana 2. Kedua, tawazun
(keseimbangan). Doktrin ini mengajarkan bahwa manusia dalam memandang suatu
realitas tidak boleh bersifat ektrem baik kekiri atupun ke kanan. Artinya
manusia yang baik tidak terlalu berlebihan pada saat senang atau benci kepada
sesuatu 3. Ketiga, i’tidal (keadilan).
Doktrin ini mengajarkan bahwa diantara sesama manusia harus saling memebrikan
kepercayaan dan kepercayaan yang dibangun harus memberikan peran secara
proporsional. 4. Keempat, tatharruf
(universsalisme). Doktrin ini mengajarkan setiap manusia agar lebih
mengedepankan pemahaman Islam yang bersifat universal (global) 2.Kelebihan dan kekurangan a.
Kelebihan Ø Modul Kegiatan Belajar I
disajikan secara rinci, sehingga mudah untuk memahami maksud dan tujuannya. Ø Dalam
Jurnal Pendidikan Agama Islam Penangkal Radikalisme dan Jurnal Deradikalisasi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Model Keberagamaan Inklusif
Dikalangan Siswa SMA memberikan pengetahuan lebih tentang adanya radikalisme
di lingkungan Sekolah dan bagaimana tugas guru dalam menangkal radikalisme. b.
Kekurangan Ø Ayat-ayat Al qur’an atau
Surat nya tidak tertulis lengkap Ø Menurut
saya pada kedua jurnal tersebut belum memuat contoh penerapan Pendidikan
Agama Islam di Sekolah sebagai penangkal radikalisme secara nyata. |
|
2 |
Lakukan kontekstualisasi atas pemaparan materi dalam bahan ajar dengan
realitas sosial; |
Kaitkan isi Bahan Ajar dengan realitas sosial -
Radikalisme lebih banyak disebabkan oleh adanya faham atau
pemikiran yang sempit terhadap suatu fenomena. Oleh sebab itu jika
radikalisme ingin dieliminir bahkan dihilangkan harus diawali dari pembinaan
atau bimbingan cara pandang atau cara fikir terhadap suatu fenomena. Secara
garis besar dari nilai-nilai yang telah dipaparkan di atas berpusat pada
penguatan keshalehan vertikal (Hablumminallah), dan keshalehan horizontal
(hablumminannas). Hal ini lah yang
harus menjadi perhatian kita sebagai Guru PAI harus benar-benar menjaga
dengan baik siswa-siswi khususnya di lingkungan sekolah kita masing-masing
agar terhindar dari paham radikalisme. |
|
3 |
Refleksikan hasil konstektualisasi materi bahan ajar dalam pembelajaran
bermakna. |
1. a. Yang dilakukan Amrozy Cs sangat tidak benar,
itu sudah bentuk kejahatan teroris / radikal. Selain bertentangan dengan
hukum yang berlaku di Indonesia, juga bertentangan dengan ajaran Islam. Bunuh
diri atau intihar adalah tindakan yang dilarang oleh agama.Dalam (Q.S.
an-Nisa [4] ayat 29) dijelaskan “Dan janganlah kamu membunuh dirimu dalam
keadaan panik atau marah. Allah Swt berfirman: “Dan janganlah kalian membunuh
diri kalian, sesungguhnya Allah Maha menyayangi kalian.” (QS. an-Nisa’ [4]:
29) Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang bunuh diri dengan menggunakan
suatu alat/cara di dunia, maka dia akan disiksa dengan cara itu pada hari
kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim). b. Dalam
melakukan Amar Ma’ruf Nahyi Mungkar baiknya dilakukan sesuai ajaran Islam,
dimana Islam mengajarkan untuk cinta kasih dan damai. Sikap saling menghargai
pendapat yang berbeda, membangun suasana saling mengenal antar sesama,
memahami keragaman sebagai sunnatullah, mengetahui pentingnya musyawarah,
dialog antar agama, dan membangun kesadaran bahwa keragaman dapat dijadikan
sebagai titik temu (kalimatun sawa) untuk persatuan dan kerukunan, mewujudkan
harmonisasi kehidupan umat beragama melalui pendidikan wawasan kebangsaan,
dan menanamkan nilai Pancasila dalam membangun toleransi dan persaudaraan
antar sesama anak bangsa. Referensi: -
Modul
PAI Kontemporer_KB1 tentang Radikalisme -
Modul
PAI Kontemporer_KB4 tentang Moderasi Beragama 1. Jafar
selalu memakai Celana Cingkrang, karena menurut pendapatnya sebagaimana
diajarkan Guru ngajinya, Isbal (menjulurkan pakaian melebihi mata kaki)
adalah terlarang dan terancam masuk neraka bagi pemakainya. Maka Celana
Cingkrang adalah suatu keharusan bagi Laki-laki yang memakai Celana. a. Bagaimana
Menurut Anda Sikap dan Tindakan yang dilakukan Jafar? Menurut saya sikap jafar adalah mengedepankan sikap
tasamuh yaitu toleransi terhadap keyakinan yang dilakukan gurunya, karena ini
termasuk ranah khilafiah yang
sudah dibahas oleh ulama. Sehingga tindakan yang dilakukan adalah tetap
menghormati guru selama guru tidak memaksakan pemahamanya tersebut. b. Apa
yang seharusnya dilakukan Oleh Jafar? Yang harus dilakukan jafar adalah berdiskusi dengan ustad
secara ilmiah dengan mengedepankan rasa toleransi dengan semangat mencari
ilmu. Karena secara tekstual memang mengacam para lelaki yang isbal, namun
ada beberapa hadis yang menerangkan bahwa hal itu jika dilakukan dengan
sombong, jika tidak maka hukumnya makruh.
Dari hal itu disini perlu adanya sikap menghargai dan tidak boleh
saling mencela dan arena ini maslah khilafiyah maka kita harus berprisip
sesuai hadis nabi yaitu إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ، فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ، فَلَهُ أَجْرٌ Artinya : “Apabila seorang hakim menghukumi suatu
masalah lalu dia berijtihad kemudian dia benar, maka dia mendapat dua pahala.
Apabilia dia menghukumi suatu masalah lalu berijtihad dan dia salah, maka dia
mendapatkan satu pahala.”[HR. Muslim : 1716 dari Amer bin Al-Ash].
https://www.islampos.com/salah-dalam-ijtihad-dapat-satu-pahala-175535/ |
Komentar
Posting Komentar