analisis Bahan Ajar AL-QUR’AN, TAFSIR, DAN TA’WIL DALAM PERSPEKTIF SAYYID ABU AL-A’LA AL-MAUDUDI
ANALISIS BAHAN AJAR
Nama Mahasiswa : ABDULLAH
Kelompok Mapel : PPG PAI 15
Judul Modul : quran Hadist
Judul Masalah :
AL-QUR’AN, TAFSIR, DAN TA’WIL DALAM PERSPEKTIF
SAYYID ABU AL-A’LA AL-MAUDUDI”
|
No |
Komponen |
Deskripsi |
|
1. |
Identifikasi Masalah (berbasis masalah yang ditemukan di lapangan) |
. .Pengertain Al-Qur’an Secara harfiah Al-qu’an berarti
bacaan yang sempurna. Secara istilah Al-qur’an berarti firman Allah yang
bersifat mu’jizat yang diturunkan kepada nabi dan rasul melalui malaikat
Jibril 2.Karakterisitik Ayat Al-Quran a. Ayat -ayat Muhkamat Al Muhkam
secara Bahasa berarti sesuatu yang pasti, rapi, dikuasai, tertutup dan bijak.
Secara Bahasa ayat muhkamat adalah ayat yang memiliki makna terukur, tertutup
dari kemungkinan makna lain, menegaskan dengan kuat satu ketentuan yang
pasti. b. Ayat- Ayat Mutasyabihat Secara
Harfiah mutasyabihat berasal dari kata syabaha yang berarti serupa. Ayat -
ayat mutasyabihat adalah ayat ayat yang maknanya tidak atau belum jelas
memastikannya tidak ditemukan dalil yang kuat. Para Ulama menyebutkan bahwa
ayat ayat mutasyabihat secara ringkas dengan ungkapan hanya Allah yang
mengetahui maknanya secara pasti. 3. Pengertian Tafsir Menurut Bahasa kata tafsir diambil
dari kata fassara-tafsir yang berarti menjelaskan Menurut Al-Kilabi tafsir
adalah menjelaskan Al-Qur;an ,menerangkan maknanya dan menjelaskan apa yang
dikehendaki dengan nasnya atau isyarat dan tujuannya. Dari beberapa definisi
, menafsirkan al qur’an berarti upaya mengungkapkan maksud dari al qur’an
baik ayat- perayat, surat – per surat maupun tema – per tema yang dapat
digali dari susunan bahasanya dan lafaz lafaz yang digunakan serta seluk beluk
yang berkaitan dengan nya. Seluk beluk yang dimaksud adalah terkait dengan
Ulumul Qu’an yang meliputi asbabun Nuzul. Komponen Pendukung Tafsir
Seseorang yang akan menafsirkan Al-Quran harus harus memenuhi kompetensi
standar diantaranya yaitu, ilmu bahsa arab, sejarah , Ilmu Hadist, dan
sebagainya tertama ilmu Al-Qur’an 4. Contoh Penafsiran Qiraah sebenarnya tidak hanya berkutat
dalam perbedaan bacaan Al-Qur’an dari segi dialek saja. Namun terdapat juga
perbedaan-perbedaan qiraah yang mempengaruhi terhadap perbedaan makna lafaz,
sehingga menjadi penting memahaminya bagi seorang mufassir. Di antara manfaat
memahami perbedaan qiraah yang mempengaruhi terhadap makna adalah dapat
mengetahui adanya dua hukum yang berbeda 5. Takwil a. Pengertian Ta’wil Ta’wil menurut bahasa berasal dari
kata awwalayuawwilu-ta’wil yang memiliki makna al-ruju’ atau al-’aud yang
berarti kembali. Al-Qur’an menggunakan kata ini sebanyak 16 kali dalam tujuh
surat dan 15 ayat (Izzan, 2009: 243). Kata takwil biasa digunakan dalam
menjelaskan maksud dari sebuah peristiwa atau kisah. Misalnya, pada kisah
Nabi Yusuf as ayat 100 saat menjelaskan peristiwa tunduknya keluarga dan
saudarasaudaranya kepada Yusuf dinyatakan dengan kalimat “hadza ta’wilu
ru’yaya min qabl qad ja’ala rabbi haqqan” (Ini adalah takwil mimpiku
sebelumnya, sungguh Tuhan telah menjadikan mimpiku menjadi kenyataan).
Demikian juga pada surat al-Kahfi ayat 78 tentang kisah seorang hamba Allah
yang diberi ilmu dari sisi-Nya mengatakan kepada Nabi Musa as dengan kalimat
“sa’unabbi’uka bita’wili malam tastathi’ alayhi sabran” (Aku akan menjelaskan
takwil sesuatu yang engkau tidak dapat bersikap sabar terhadapnya). b. Ketentuan Takwil Takwil berbeda dengan tafsir
sekalipun keduanya menjelaskan maksud dari sebuah pernyataan dalam Al-Qur’an.
Tafsir pada praktiknya menjelaskan makna ekspilisit tekstual dan terikat
dengan pemahaman bahasa sementara takwil mengungkap makna secara implisit
dinamis, dan terikat dengan konteks yang beragam. |
|
2. |
Lakukan evaluasi dan refleksi atas pemaparan materi pada Bahan
Ajar. Setelah mempelajari materi
Al-Qur’an dan Metode Memahaminya yang mencakup tafsir, takwil dan
terjemah, Melalui pembelajaran ini kita dapat mengetahui bahwa:
“Kebenaran Al-Qur’an bersifat mutlak, sementara kebenaran tafsir, takwil dan
terjemah bersifat relatif karena berdasarkan pikiran manusia. Jika demikian, maka begitupun
dengan Pendidikan Agama Islam harus mengajarkan keterbukaan pada beragam
perbedaan pemahaman. Pendidikan Agama Islam harus dapat menyajikan doktrin
dan dogma yang bersifat teologis dengan menggunakan pendekatan
antroposentris, sehingga doktrin tersebut dapat disikapi secara dinamis dalam
ruang sejarah manusia. |
Lakukan evaluasi dan refleksi atas pemaparan materi pada Bahan
Ajar. Setelah mempelajari materi
Al-Qur’an dan Metode Memahaminya yang mencakup tafsir, takwil dan
terjemah, Melalui pembelajaran ini kita dapat mengetahui bahwa:
“Kebenaran Al-Qur’an bersifat mutlak, sementara kebenaran tafsir, takwil dan
terjemah bersifat relatif karena berdasarkan pikiran manusia. Jika demikian, maka begitupun
dengan Pendidikan Agama Islam harus mengajarkan keterbukaan pada beragam
perbedaan pemahaman. Pendidikan Agama Islam harus dapat menyajikan doktrin
dan dogma yang bersifat teologis dengan menggunakan pendekatan
antroposentris, sehingga doktrin tersebut dapat disikapi secara dinamis dalam
ruang sejarah manusia. |
|
3. |
Merefleksikan
hasil kontekstualisasi materi bahan ajar dalam pembelajaran bermakna |
Dengan
demikian maka Pendidikan Agama Islam juga harus mengajarkan keterbukaan
pada beragam perbedaan pemahaman dan pemikiran setiap manusia . Pendidikan
Agama Islam harus dapat menyajikan doktrin dan dogma yang bersifat teologis
dengan menggunakan pendekatan antroposentris, sehingga doktrin tersebut dapat
disikapi secara dinamis dalam ruang sejarah manusia. Seperti halnya al-Qur’an
yang dibaca sebagai insiprasi peradaban, maka PAI harus dapat menginspirasi
siswa untuk membangun peradaban yang damai, maju, bermartabat dan sejahtera. |
Komentar
Posting Komentar