ANALISA BAHAN AJAR SUMBER AKHLAK DAN IMPLEMENTASINY
NAMA :,
S.Pd.I
KELAS :
PPG PAI B
MODUL :
AQIDAH AKHLAK
KEGIATAN BELAJAR : 2. SUMBER AKHLAK DAN
IMPLEMENTASINYA
ANALISIS BAHAN AJAR : VIDEO
1.
Tulis 5 konsep bahan ajar BK 2 dan deskripsinya
a.
Pengertian Tawakkal
Tawakal (bahasa Arab: توكُل) atau tawakkul berarti
mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama Islam, tawakal berarti berserah diri
sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan,
atau menanti akibat dari suatu keadaan.
Kata tawakal berasal dari bahasa Arab yaitu tawakkul
yang memiliki arti berserah dan bersabar. Sementara menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia atau KBBI, pengertian tawakal adalah sikap berserah atas kehendak
Allah, dengan sepenuh harus percaya kepada Allah terhadap penderitaan,
percobaan, dan apapun yang terjadi di dunia ini.
Sementara, menurut ulama Imam Al Ghazali
mendefinisikan pengertian tawakal sebagai penyandaran diri kepada Allah SWT
sebagai satu-satunya al-wakiil (tempat bersandar) dalam menghadapi setiap
kepentingan, bersandar kepada-nya saat menghadapi kesukaran, teguh hati ketika
ditimpa bencana, dengan jiwa yang tenang dan hati yang tentram.
Sedangkan, menurut Imam Ahmad bin Hambal, pengertian
tawakal adalah perbuatan yang dilakukan oleh hati bukan sesuatu yang diucapkan
oleh lisan. Bukan juga sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Tawakal juga
bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan. Menurut Imam Ahmad bin Hambal,
tawakal bukan hanya berdia diri tanpa usaha, bukan juga kepasrahan tanpa upaya.
Kemudian, menurut Ibnu Qoyim Al Jauzi, pengertian
tawakal adalah amalan dan ubudiyah (penghambaan) hati dengan menyandarkan
segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya
kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirimu.
Tawakal merupakan bagian ajaran Islam yang sangat
penting. Tawakal menjadi satu sikap terpuji yang dianjurkan untuk dimiliki
setiap umat muslim. Tawakal harus datang dari dalam hati. Tidak hanysa keluar
dari ucapan atau lisan saja.
Pengertian tawakal adalah berserah diri kepada Allah.
Dalam agama Islam, pengertian tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada
Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat
dari suatu keadaan.
Sikap tawakal menjadi salah satu penilaian tingkat
keimanan seorang muslim. Sebab tak bisa dipungkiri di berbagai situasi,
bertawakal mungkin jadi hal yang terasa berat dilakukan. Karena sebagai manusia
biasa, masih banyak hal yang tanpa disadari membuat kita tergantung pada orang
lain. Meski dalam lubuk hati terdalam, seorang muslim tentu meyakini bahwa
Allah SWT adalah Sang Maha Kuasa.
Tawakkal adalah suatu sikap mental seorang yang
merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah, karena di dalam
tauhid ia diajari agar meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan
segala-galanya, pengetahuanNya Maha Luas, Dia yang menguasai dan mengatur alam
semesta ini. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk menyerahkan segala
persoalannya kepada Allah. Hatinya tenang dan tenteram serta tidak ada rasa
curiga, karena Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana.
Sementara orang, ada yang salah paham dalam melakukan
tawakkal. Dia enggan berusaha dan bekerja, tetapi hanya menunggu. Orang semacam
ini mempunyai pemikiran, tidak perlu belajar, jika Allah menghendaki pandai
tentu menjadi orang pandai. Atau tidak perlu bekerja, jika Allah menghendaki
menjadi orang kaya tentulah kaya, dan seterusnya.
Semua itu sama saja dengan seorang yang sedang lapar
perutnya, sekalipun ada berbagai makanan, tetapi ia berpikir bahwa jika Allah
menghendaki ia kenyang, tentulah kenyang. Jika pendapat ini dpegang teguh pasti
akan menyengsarakan diri sendiri.
Menurut ajaran Islam, tawakkal itu adalah tumpuan
terakhir dalam suatu usaha atau perjuangan. Jadi arti tawakkal yang sebenarnya
-- menurut ajaran Islam -- ialah menyerah diri kepada Allah swt setelah
berusaha keras dalam berikhtiar dan bekerja sesuai dengan kemampuan dalam
mengikuti sunnah Allah yang Dia tetapkan.
Misalnya,
seseorang yang meletakkan sepeda di muka rumah, setelah dikunci rapat, barulah
ia bertawakkal. Pada zaman Rasulullah
saw ada seorang sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lebih dahulu.
Ketika ditanya, mengapa tidak diikat, ia menjawab, "Saya telah benar-benar
bertawakkal kepada Allah". Nabi saw yang tidak membenarkan jawaban
tersebut berkata, "Ikatlah dan setelah itu bolehlah engkau
bertawakkal."
b.
Perbedaan mengangkat Allah sebagai
wakil dan manusia sebagai wakil
Manusia memiliki peran yang sangat penting untuk
mengatur, mengurus, dan merawat bumi ini dengan baik. Sebagai wakil di bumi
milik Allah SWT kehidupan manusia tidak hanya terkait dengan penyembahan
terhadap Allah SWT saja melainkan Allah SWT pun mengatur dengan sempurna
bagaimana kinerja dan pola perilaku manusia di bumi ini agar kelak manusia
dapat menjaga keutuhan dan keselamatan dunia sebagaimana Nabi Adam AS menjadi
khalifah pertama di dunia ini.
Al-Quran telah menjelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat
30 “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku
hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau
hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan
kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh,
Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna, karena
manusia memiliki akal sehat yang digunakan untuk berpikir. Hal ini yang
mempengaruhi kita sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang berakal untuk bisa
mengelola bumi ini dengan baik. Al-Qur'an telah menjelaskan dalam
Al-Baqarah:30, "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata,
"Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah
di sana, sedangkan kami bertasbik memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia
berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Allah mengangkat manusia sebagai khalifah bertujuan
untuk menguji manusia dan memberinya penghormatan. Kekhalifahan merupakan
wewenang yang diberikan Allah kepada Adam dan anak cucunya untuk direalisasikan
di bumi ini. Manusia diberi 3 tugas oleh Allah SWT, yaitu:
1)
Dalam Islam, setidaknya terdapat tiga tujuan
penciptaan manusia. QS. Adz-Dzariyat:56 menerangkan tujuan pertama. "Dan
Aku (Allah) tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku." Sifat menghamba tidak boleh ditujukan kepada siapapun
selain Allah Ta'ala.
2)
Manusia menyandang fungsi pemimpin. Manusia
dapat memanfaatkan segala yang tumbuh di atas bumi untuk kelangsungan
hidupnya.
3)
Berdakwah. Dakwah yang dilakukan dapat melalui
lisan, dan perbuatan. Sasarannya dimulai dari diri sendiri, keluarga, karib
kerabat, dan komunitas setempat. Dakwah yang dijalankan tidak boleh dengan
paksaan atau penghakiman. Dengan menarik simpati, orang-orang akan tertarik
untuk mendalami agama ini.
Manusia sebagai wakil Allah terbatas kemampuannya.
Serta apapun yang dilakukannya jikalau Allah belum berkehendak, maka semuanya
tidak bisa terjadi. Ini berarti Allahlah Yang Maha Tahu, Allahlah Yang Maha
Berkehendak atas segala sesuatu serta usahanya diserahkan secara penuh tanggung
jawab kepada manusia. Allah sebagai wakil, manusia perlu berikhtiar seterusnya
serahkan kepada Allah SWT.
c.
Implementasi Tawakkal dalam kehidupan
sehari-hari
Sebagai seorang muslim, pasti sudah memahami mengenai
perilaku tawakal dalam . Sikap berserah diri kepada Allah SWT setelah melakukan
usaha atau ikhtiar dengan semampu diri kita kemudian menerima dengan ikhlas
segala ketentuan Allah SWT terhadapnya disebut sebagai tawakal.
Seseorang yang bersikap tawakal akan selalu bersyukur
kepada Allah jika mendapat keberhasilan atau kesuksesan atas usahanya. Hal ini
karena dirinya menyadari bahwa kesuksesan tersebut merupakan atas izin Allah
SWT.
Sebaliknya, jika ia mengalami kegagalan, orang yang
tawakal akan merasa ridha dan ikhlas menerima keadaan tanpa merasa putus asa
dan terlarut dalam kesedihan dikarenakan telah sadar bahwa semua keputusan
Allah pasti yang terbaik.
v
Contoh Perilaku Tawakal dalam Kehidupan
Sehari-hari
Berikut ini beberapa perilaku tawakal yang bisa kita
terapkan dalam kehidupan sehari-hari :
1)
Selalu bersyukur jika mendapatkan nikmat dari
Allah swt, dan bersabar apabila mendapatkan musibah.
2)
Selalu berdoa dan menyerahkan diri atas apa yang
kita usahakan sebelumnya.
3)
Selalu berprasangka baik terhadap Allah SWT atas
kejadian atau apa yang kita terima.
4)
Tidak berkeluh kesah dan gelisah ketika berusaha
dan berikhtiar.
5)
Menyerahkan segala sesuatu hal terhadap Allah
SWT setelah berusaha keras.
6)
Selalu berusaha dan berikhtiar dengan maksimal,
selanjutnya bertawakal kepada Allah swt.
7)
Tidak mudah berputus asa dalam berusaha.
8)
Menerima semua ketentuan Allah swt dengan rasa
ikhlas dan ridha.
9)
Ketika kita meninggalkan rumah, kita bertawakal
kepada Allah SWT atas rumah yang kita tinggalkan.
10)
Ketika kita mendapatkan suatu masalah, kita
berserah diri kepada Allah SWT dan agar
segera mendapatkan solusi dari masalah yang kita alami.
11)
Berusaha memperoleh sesuatu yang dapat
memberikan manfaat kepada orang lain.
12)
Sebelum dan setelah kita ujian, diiringi dengan
berdoa dan menyerahkan semua kepada Allah SWT.
13)
Ketika kita berobat ke rumah sakit, kita
berserah diri dan memohon kepada Allah agar diberi kesembuhan.
Manfaat tawakal yang pertama ialah mendapatkan
kemudahan kehidupan di dunia dan akhirat. Sikap berserah diri usai berusaha
maksimal.
Meski terkadang bukan hal mudah, diperlukan keikhlasan
yang kuat, berusaha untuk tidak berprasangka buruk terhadap Allah SWT.
Bahkan Allah telah menjamin kemudahan bagi setiap
hamba yang bertawakal, sebesar apapun cobaan yang tengah menimpa. Hal ini
seperti yang tercantum dalam ayat kitab suci Alquran berikut:
"Barang
siapa yang bertawakal kepada allah niscaya dia akan membukakan jalan keluarnya
dan dia memberikan rejekinya dari arah yang tidak disangka sangka. dan barang
siapa yang bertawakal kepadanya kepada allah niscaya allah akan mencukupkan
keperluannya. Sesungguhnya allah melaksanakan tugasnya, sungguh dia telah
mengadakan ketentuan bagi setiap." (QS Ath-Thalaq ayat 1-2).
d.
Konsep “kerjasama” Allah SWT dengan
manusia
Dalam menjalani hidup ini, semua manusia pasti ingin
menggapai kesuksesan. Manusia dianugerahi oleh Allah swt. naluri yang
menjadikannya gemar memperoleh manfaat dan menghindari mudharat. Beribadah dan
melaksanakan tugas sebagai khalifah adalah tujuan penciptaan manusia, sedangkan
ibadah tidak dapat terlaksana dengan baik bila kebutuhan manusia tidak
tercukupi. Oleh sebab itu, pemenuhan kebutuhan duniawi merupakan sebuah
kewajiban. Akan tetapi, pemenuhan kebutuhan dunia untuk mencapai sukses itu
dapat dijalankan bersamaan dengan menggapai kesuksesan akhirat.
Kesuksesan hidup tidak hanya diukur oleh capaian
duniawi semata, seperti berderetnya gelar akademik, menterengnya karier, atau
melimpahnya penghasilan. Kesuksesan sejati diraih jika seluruh capaian itu
memberi manfaat bagi orang lain sehingga mengalirkan pahala jariah, dan kelak,
saat menutup usia dalam keadaan husnul khatimah. Hal ini penting dipahami agar
umur yang Allah berikan kepada manusia tidak sia-sia, tetapi justru memberikan
banyak kebermanfaatan bagi diri sendiri dan sesama.
Sifat dan Perilaku yang Disukai Allah dalam
bentuk kerjasama Allah dengan manusia
Dalam menjalani hidup, manusia harus menjadikan Allah
sebagai tujuan dengan senantiasa mengharap ridha-Nya dan menjadikan surga
sebagai cita-cita. Demikian juga hendaknya memandang kesuksesan. Untuk
memperoleh kesuksesan dunia dan akhirat, tentu kita harus senantiasa
mendekatkan diri pada Allah swt. dan menjadi orang yang disukai-Nya. Berikut
ini uraian tentang macam sifat atau perilaku manusia yang disukai oleh Allah
swt. berdasarkan dalil dalam al-Qur’an.
Al-Muhsinin
Kata al-muhsinin adalah bentuk jamak dari kata muhsin
yang terambil dari kata ahsana-ihsana. Rasulullah saw. menjelaskan makna ihsan
sebagai berikut:
“Engkau menyembah Allah, seakan-akan melihat-Nya dan
bila itu tidak tercapai maka yakinlah bahwa Dia melihatmu” (HR Muslim). Dengan
demikian, perintah ihsan bermakna perintah melakukan segala aktivitas positif,
seakan-akan Anda melihat Allah atau paling tidak selalu merasa dilihat dan
diawasi oleh-Nya.
Al-Muttaqin
Takwa dapat diartikan sebagai perbuatan menghindari
ancaman dan siksaan dari Allah swt. dengan jalan melaksanakan perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya. Takwa selalu menuntun seseorang untuk senantiasa
berhati-hati dalam berperilaku. Shihab (2013) menjelaskan bahwa terkait dengan
ketakwaan, Allah memberikan dua macam perintah yang tercantum dalam Al-Qur’an,
yaitu perintah takwini dan perintah taklifi. Perintah takwini, yakni perintah
Allah terhadap objek agar menjadi sesuai dengan apa yang diperintahkan-Nya. Ia
biasa digambarkan oleh firman-Nya dengan “Kun fayakun”. Hal ini tercantum dalam
beberapa dalil dalam al-Qur’an, antara lain QS. Fushshilat:11 dan QS.
Al-Anbiya’:69. Kedua dalil tersebut menunjukkan betapa kuasa Allah atas apa pun
yang Ia kehendaki akan terjadi dengan segera.
Kedua, perintah taklifi, yaitu perintah Allah terhadap
makhluk yang dibebani tugas keagamaan (manusia dewasa dan jin) untuk melakukan
hal-hal tertentu. Hal ini dapat berupa ibadah murni, seperti shalat, puasa,
maupun aktivitas lainnya yang bukan berbentuk ibadah murni, seperti bekerja
untuk mencari nafkah, menikah, dan lain-lain (Shihab, 2013). Dalam konteks
berinteraksi dengan sesama manusia, terdapat sebuah pepatah terkenal, yaitu
“Sebanyak Anda menerima, sebanyak itu pula hendaknya Anda memberi.” Namun
demikian, Allah tidak menuntut hal tersebut. Allah, Sang Maha Pemurah
menurunkan firman-Nya dalam QS. At-Taghabun:16 yang artinya
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut
kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik
untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka
mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Menurut Shihab (2013), jika kita hendak membicarakan
prioritas dalam konteks ketakwaan, dapat diasumsikan dengan ilustrasi berikut
ini: prioritas ketakwaan bagi penguasa adalah berlaku adil; bagi pengusaha
adalah jujur; bagi guru/dosen adalah ketulusan mengajar dan meneliti; bagi si
kaya adalah ketulusan bersedekah dan membantu; bagi si miskin adalah
kesungguhan bekerja dan menghindari minta-minta. Mereka yang bertakwa itulah
yang memperoleh janji-Nya dalam QS. At-thalaq:2-3 yang menjelaskan bahwa Allah
akan memberikan rezeki dan jalan keluar atas setiap permasalahan bagi hamba-Nya
yang bertakwa dan tawakal kepada-Nya.
Al-Muqsithin
Kata al-Muqsithin adalah bentuk jamak dari kata
muqsith, yang diambil dari kata awasatha yang biasa dipersamakan maknanya
dengan berlaku adil. Menariknya, tidak ditemukan bunyi pernyataan al-Qur’an
yang menyatakan bahwa Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil dengan kata
‘adl/adil, tetapi ditemukan perintah menegakkan al-qisth, yakni dalam beberapa
firman-Nya: QS. Al-Maidah:8; QS. An-Nisa’:3; QS. AL-Hujurat:9.
Al-Mutathahhirin
Kata al-mutathahhirin dapat diartikan sebagai kesucian
dan keterhindaran dari kotoran/noda. Salah satu pernyataan al-Qur’an bahwa
Allah menyukai al-mutathahhirin ditemukan dalam QS. Al-Baqarah:222 yang menjelaskan
tentang larangan seorang suami mencampuri istri yang sedang haid. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri.
At-Tawwabin
At-tawwabin berarti kembali ke posisi semula. Manusia
dilahirkan dalam keadaan suci. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, setan
akan terus berusaha merayu manusia. Oleh sebab itu, hendaknya manusia yang
berdosa segera bertaubat agar kembali suci. Allah swt., Sang Maha Pengampun
sangat menyukai hamba-Nya yang bertaubat atas kesalahan-kesalahannya dan tidak
mempersulit. Dalil yang menjelaskan tentang at-tawwabin tercantum dalam firman
Allah swt., di antaranya QS. Al-Baqarah:37, QS. An-Nisa’:31, QS. An-Nisa’:17.
Ash-Shabirin
As-shabirin berarti sabar. Seorang yang sabar akan
menahan dri, dan untuk itu memerlukan kekukuhan jiwa dan mental baja agar dapat
mencapai ketinggian yang diharapkannya (Shihab, 2013). Mustaqim (2013) juga
berpendapat bahwa sabar berusaha keras untuk mencapai tujuan, menahan diri dari
rasa malas dan lelah. Banyak firman Allah dalam al-Qur’an yang berisi perintah
kepada manusia untuk bersabar. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh
Shihab (2013), dua kali al-Qur’an berpesan agar menjadikan shalat/permohonan
kepada Allah dan sabar sebagai sarana untuk memperoleh segala yang dikehendaki
(QS. Al-Baqarah:45, 153). Sabar selalu pahit awalnya, tapi manis akhirnya (QS.
Ali Imran:186). Dengan kesabaran dan ketakwaan akan turun bantuan Ilahi guna
menghadapi segala macam tantangan (QS. Ali Imran:120). Allah memerintahkan
sabar dalam menghadapi yang tidak disenangi maupun yang disenangi.
Al-Mutawakkilin
Al-mutawakilin dapat diartikan mewakilkan. Perintah
tawakal kepada Allah dalam al-Qur’an ditemukan sebanyak sebelas kali (Shihab,
2013). Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa dalam setiap aktivitas kehidupan
kita, seorang Muslim dituntut untuk berusaha sambil berdoa dan setelah itu ia
dituntut untuk berserah diri kepada Allah. Ketika manusia telah berusaha keras
kemudian menyerahkan semuanya pada Allah, manusia harus yakin bahwa apa pun
ketetapan Allah merupakan pilihan terbaik untuknya, sesuai dengan firman-Nya
dalam QS. Al-Baqarah:216.
Dalam berusaha dan berserah kepada Allah,
tentu manusia tidak boleh hanya duduk diam menunggu jawaban ataupun keajaiban.
Manusia perlu terus berdoa mendekatkan diri kepada Allah swt. agar benar-benar
diberikan yang baik menurut kita (sesuai keinginan) dan baik menurut Allah swt.
Anshor (2017) menyampaikan hal-hal yang bisa dilakukan untuk meminta kepada
Allah, yaitu (a) memperbanyak shadaqah, (b) bangun untuk shalat tahajud, dan
(c) memperbanyak silaturahmi. Selain tiga daya pengungkit rezeki tersebut,
tentu masih banyak amalan lainnya. Jika dikerjakan secara istiqamah, insya
Allah, Allah akan mempermudah segala urusan dan pencapaian cita-cita makhluk-Nya.
Kerja Sama dan
Network
Dalam QS. Ash-Shaf:4, Allah berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya
Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur
seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
Ayat di atas menunjukkan perlunya kebersamaan,
network, dan koordinasi. Ciri khas ajaran Islam adalah kebersamaan dalam segala
aktivitas positif, baik dalam melaksanakan ibadah ritual maupun dalam
melaksanakan aneka aktivitas, itu sebabnya, shalat berjamaahn lebih diutamakan
daripada shalat sendirian. Di sisi lain, kebersamaan itu tidak harus menjadikan
semua pihak melakukan satu pekerjaan yang sama, melainkan perlu pembagian kerja
yang diatur dalam satu network yang baik.
Akhlak Mulia
Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Shihab (2013),
dinyatakan bahwa ada empat sifat khusus yang disebut oleh QS. Al-Maidah:54 yang
menjadi sebab tercurahnya cinta Allah kepada manusia, yaitu (a) bersikap lemah
lembut terhadap orang-orang mukmin, (b) mulia/memiliki harga diri dan bersikap
tegas terhadap yang kafir, (c) berjihad di jalan Allah, dan (d) tidak takut
kepada celaan pencela.
Al-Ittiba’
Ali Imran: 31 dan 32 memberi gambaran yang sangat umum
menyangkut siapa atau perbuatan apa yang paling disukai Allah (Shihab, 2013),
yakni perintah untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. Al-ittiba’ berarti
meneladani, mengikuti secara sungguh-sungguh. Cinta Allah yang luar biasa akan
diraih oleh mereka yang bersungguh-sungguh mengikuti Nabi Muhammad saw.
Al-ittiba’ yang dimaksud ini dijelaskan oleh sabda Rasul saw. yang berbunyi,
“yakni atas dasar kebajikan, takwa, dan rendah hati” (HR at-Tirmidzi, Abu
Nu’aim, dan Ibnu ‘Asakir melalui sahabat Nabi, Abu ad-Darda).
Kunci sukses adalah iman. Iman
adalah fondasi dalam beramal shalih sebab Allah hanya akan menerima amal shalih
makhluk yang beriman kepada-Nya. Kemampuan beramal shalih inilah yang dapat
dikatakan sebagai kesuksesan dunia dan akhirat. Hadis Nabi Muhammad saw. yang
banyak dikenal umat Muslim, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat
bagi manusia” merupakan landasan pokok bagi manusia untuk menyikapi kesuksesan
yang telah dimiliki. Sejatinya, semakin tinggi kesuksesan yang diraih, semakin
besar pula tanggung jawab dan kebermanfaatan yang dilakukan. Semakin tinggi
gelar pendidikan yang dan ilmu yang diperoleh, semakin besar amanah untuk
menyampaikannya kepada orang lain. Semakin banyak kekayaan yang didapat,
semakin banyak zakat mal dan shadaqah yang harus dikeluarkan untuk orang lain.
Semakin tinggi jabatan, semakin besar tanggung jawab dan amanah untuk membantu
dan menyejahterakan rakyatnya.
e.
Allah sebagai pelindung dan penolong
umat manusia
Surat An-Nisa' Ayat 45, Cukuplah Allah Menjadi
Pelindung dan Penolong
llah SWT berfirman: “... Cukuplah Allah (menjadi
penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung”. (QS Ali ’Imran, 3 :173).
“Tiadakah kamu tahu, bahwa memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak bagimu
pelindung dan penolong selain Allah.” (QS Al-Baqarah, 2 107).
Menyerahkan semua perkara kepada Allah, bertawakal
kepada-Nya, percaya sepenuhnya terhadap janji-janji-Nya, ridha dengan apa yang
dilakukan-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, dan menunggu dengan sabar pertolongan
dari-Nya merupakan buah keimanan yang paling agung dan sifat paling mulia dari
seorang mukmin.
Dan ketika seorang hamba tenang bahwa apa yang akan
terjadi itu baik baginya, dan ia menggantungkan setiap permasalahannya hanya
kepada Rabb-nya, maka ia akan mendapatkan pengawasan, perlindungan, pencukupan
serta pertolongan dari Allah.
Syahdan,
ketika Nabi Ibrahim a.s. dilempar ke dalam kobaran api, ia mengucapkan,
“Hasbunalldh wa ni’mal wakil,” maka Allah pun menjadikan api yang panas itu
dingin seketika. Dan Ibrahim pun tidak terbakar.
Demikian
halnya yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya. Tatkala mendapat ancaman
dari pasukan kafir dan penyembah berhala, mereka juga mengucapkan,
“Hasbunallah
wa ni’mal wakil.”
Cukuplah
Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Maka mereka
kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar dari) Allah, mereka tidak
mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan, Allah
mempunyai karunia yang besar. (QS. Ali ‘Imran: 173-174)
Manusia tidak akan pernah mampu melawan setiap
bencana, menaklukkan setiap derita, dan mencegah setiap malapetaka dengan
kekuatannya sendiri. Sebab, manusia adalah makhluk yang sangat lemah.
Menjadikan Allah sepenuhnya sebagai tempat bergantung
adalah puncak tertinggi tauhid. Bagi Muslim, penyerahan semua urusan kehidupan
kepada Allah adalah keharusan. Sebaliknya, menggantungkan segala persoalan
kepada manusia adalah kesalahan.
Jangan menjadikan manusia sebagai naungan dan tambatan
harapan. Tak sepatutnya meminta pertolongan dan perlindungan kepada sesama
manusia. Dalam sebuah hadis, Rasulullah
SAW bersabda: “Apabila engkau shalat, maka shalatlah seolah-olah shalat
perpisahan, dan jangan mengucapkan ucapan yang esok hari engkau akan
menyesalinya dan jangan bergantung kepada manusia.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
Dalam hadis di atas, Nabi mengisyaratkan untuk tidak
bergantung kepada manusia. Menyandarkan diri kepada sesama banyak ruginya.
Kalau kita bergantung kepada manusia karena jabatan, kekuasaannya akan
berakhir.
Kalau kita bergantung karena kekayaannya, kemungkinan
hilang. Menggantungkan harapan kepada manusia akan berakhir dengan kekecewaan.
Pun, demikian akan mendatangkan kehinaan dan kerendahan.
Inilah inti dari kata mutiara yang pernah disampaikan Sayyidina Ali bin Abi Thalib: “Aku sudah
pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah
berharap kepada manusia.”
2.
Evaluasi dan refleksi pemaparan bahan ajar KB 2
tersebut
ebagai seorang muslim, sudah sewajarnya
kita menempatkan tawakkal dan ikhtiar dalam setiap hal yang kita usahakan.
Dalam al-Quran pun terdapat ayat yang memuat anjuran agar manusia senantiasa
melakukan tawakkal dan ikhtiar, yaitu:
…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya
Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang
tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya
Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan
yang (dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi
tiap-tiap sesuatu,
Ath Tholaq: 2-3
Tawakkal dan ikhtiar merupakan bentuk usaha
yang dilakukan manusia untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Namun, perlu
dipahami juga bahwa terwujudnya keinginan tersebut juga merupakan kehendak
Allah. Karena itu, manusia diperintahkan untuk bertawakkal dan tetap berikhtiar
untuk mendapatkan keinginannya tersebut.
Ikhtiar Tanpa Tawakkal
Dalam meraih apa yang diinginkan, sering
kali manusia hanya mempertimbangkan kekuatan dan usaha yang dilakukannya saja.
Namun lupa bertawakkal kepada Allah. Padahal, dua hal ini adalah sesuatu yang
saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan.
Saat seorang manusia melakukan ikhtiar,
kegigihannya dalam berikhtiar tidak boleh sampai melemahkan tawakkalnya kepada
Allah. Ikhtiar tanpa disertai tawakkal merupakan bentuk kesombongan seorang
hamba. Karena seakan – akan dia merasa mampu mendapatkan keinginannya tanpa
bantuan Allah.
Tawakkal Tanpa Ikhtiar
Segala hal yang terjadi pada manusia
merupakan kehendak Allah. Rezeki seorang manusia tidak akan tertukar dan
seorang manusia juga pasti mendapatkan segala hal yang memang sudah menjadi rezekinya.
Menyadari hal tersebut merupakan salah satu bentuk tawakkal. Akan tetapi,
seorang muslim juga tidak diizinkan untuk memasrahkan kehidupannya tanpa
berbuat apa-apa.
Seseorang yang tidak melakukan ikhtiar
dengan dalih tawakkal, maka sikap tawakkal tersebut tidak dibenarkan. Meskipun
rezeki setiap orang akan sampai dan tidak tertukar, seorang muslim tetap harus
berikhtiar untuk menjemput rezeki yang telah ditetapkan tersebut.
Ikhtiar Bersama Tawakkal
Sikap paling tepat adalah menyelaraskan
ikhtiar dengan tawakkal. Seorang muslim diharuskan bekerja dan berusaha sesuai
kemampuannya. Artinya, seseorang harus berusaha menjemput rezeki dan
keinginannya hingga mencapai batas maksimal yang mampu dia lakukan. Apabila dia
telah melakukan hal tersebut, maka orang tersebut bisa disebut telah
berikhtiar.
Bersama dengan ikhtiar tersebut, seorang
muslim juga harus bertawakkal kepada Allah. Keduanya harus dilakukan dengan
selaras dan berimbang. Muslim yang baik adalah muslim yang mampu menjaga
tawakkal dan ikhtiarnya dalam porsi yang proporsional.
Dia menyadari bahwa segala sesuatu harus
diusahakan agar bisa diraih. Di sisi lain, doa dan ibadah kepada Allah juga
menjadi faktor penentu yang tidak boleh dilupakan apalagi diabaikan. Sehingga,
seorang muslim yang baik akan selalu memberikan usaha terbaiknya dalam setiap
hal.
Di saat yang sama, dia juga menjaga
tawakkalnya tetap kuat. Yaitu dengan bertaubat secara serius, menjaga niat
tetap lurus, beribadah dengan baik, dan senantiasa berdoa serta melibatkan
Allah dalam setiap hal yang dia lakukan. Termasuk bagian dari tawakkal adalah
senantiasa memperbaiki diri, menghindari hal yang tidak disukai Allah, dan
melaksanakan hal – hal yang diridhai Allah.
Karena pada dasarnya, rezeki dan keinginan
kita bisa tercapai hanya jika Allah mengizinkan hal tersebut sampai kepada
kita. Tanpa pertolongan Allah, maka akan sulit mencapai apa yang diharapkan dan
mendapat keberkahan darinya. Namun, jika ikhtiar dan tawakkal yang dilakukan
sudah maksimal, dan kita tetap tidak mendapatkan apa yang kita harapkan, bisa
jadi hal tersebut adalah lebih baik bagi kita di sisi Allah. Wallahu a’lam.
Tawakkal merupakan satu kondisi dimana
seseorang menyandarkan, mempercayakan, atau menyerahkan suatu urusan kepada
pihak lain. Sebagai seorang muslim, tawakkal kepada Allah berarti menyandarkan
dan menyerahkan urusannya kepada Allah SWT. Sikap tawakkal ini merupakan salah
satu bentuk ibadah.
Tawakkal juga merupakan perwujudan dari
keimanan dalam diri seorang muslim. Sehingga, orang dengan iman yang benar
hanya akan bertawakkal kepada Allah saja. Hal ini sejalan dengan salah satu
ayat dalam al-Quran, yaitu:
Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu
bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman
QS. Al-Maidah: 23
Tawakkal yang salah dapat membawa seseorang
kepada syirik. Baik syirik kecil ataupun syirik besar. Karena itu, penting
untuk mengetahui bagaimana tawakkal yang benar dan yang tidak.
1. Tawakkal yang Mengandung Syirik Besar
Dalam kehidupan, seorang manusia pasti
menemukan perkara – perkara yang sebenarnya hanya mampu dilakukan oleh Allah.
Seperti keselamatan diri atas hal yang tidak terduga, selamat dari musibah
besar atau bencana alam, dan lain sebagainya.
Sama halnya dengan rezeki, perkara tersebut
hanya bisa diatur oleh Allah. Dan sebagai manusia, tugas kita adalah
bertawakkal atas ketetapan Allah. Saat perkara tersebut diserahkan kepada
selain Allah, maka tawakkal-nya bisa masuk ke dalam syirik besar.
Contohnya saja, saat seseorang
mempercayakan keselamatan diri atau rezekinya kepada orang yang sudah mati,
setan, atau makhluk gaib lainnya. Termasuk juga malaikat.
2. Tawakkal yang Mengandung Syirik Kecil
Meskipun terkesan ringan, syirik kecil sama
fatalnya dengan syirik besar dan harus dijauhi. Bedanya, saat seseorang
melakukan syirik besar, maka orang tersebut bisa dianggap berpaling dari agama
bahkan murtad. Sedangkan orang yang melakukan syirik kecil, dia tidak keluar
dari Islam, namun dosa yang ditanggung pun tetap besar.
Syirik kecil dalam tawakkal lebih
terllihat, rasional, logis, dan realistis dibandingkan dengan syirik besar
dalam tawakkal. Misalnya, saat seseorang melakukan tawakkal kepada penguasa,
polisi, orang tua, atasan, pengawal pribadi, dan lain sebagainya.
Bertawakkal kepada manusia dan menganggap
bahwa rezeki dan keselamatan ada di tangan mereka adalah satu bentuk tawakkal
yang salah. Apalagi jika dilakukan tanpa bertawakkal kepada Allah. Padahal,
keselamatan seorang manusia tidak tergantung pada seberapa banyak pelindung
yang dimilikinya. Begitu juga dengan rezeki. Rezeki seseorang tidak hanya
bersumber dari atasannya saja.
Ketika seseorang measa bahwa pelindung dan
pekerjaannya sudah cukup menjamin keselamatan dan kehidupannya, tanpa
melibatkan tawakkal kepada Allah, pada saat itulah orang tersebut jatuh kepada
syirik kecil.
3. Tawakkal yang Diperbolehkan
Lalu, bagaimana bentuk tawakkal yang benar
dan diperbolehkan dalam Islam?
Pada dasarnya, tawakkal adalah hal yang
baik dan dianjurkan. Bahkan bisa bernilai ibadah saat dilakukan dengan benar.
Tawakkal yang benar adalah tawakkal yang dilakukan hanya kepada Allah. Tanpa
adanya wakil atau sikap mendua kepada makhluk Allah lainnya.
Sebagai ilustrasi, bisa diibaratkan saat
kita menitipkan barang jualan kepada orang lain yang pandai menjual. Kita
mengakui bahwa orang tersebut mampu menjual barang kita. Namun, tetap saja kita
dibolehkan tawakkal kepada orang tersebut. Tawakkal tetap diberikan kepada
Allah. Yaitu dengan mendoakan kemudahan urusan orang tersebut kepada Allah.
Itulah beberapa perkara terkait tawakkal
yang perlu diketahui. Dengan memahami hal tersebut, maka kita bisa lebih
berhati – hati dan menjaga tawakkal tetap baik dan benar. Sehingga, tawakkal
yang kita lakukan bisa bernilai ibadah dan bukannya menambah dosa.
3.
Tulis kelebihan dan kekurangan terkait
penjelasan pada bahan ajar KB 2
Kelebihan :
·
Cukup memahami konsep dasar dari tawakkal
Kekurangan :
·
Kurangnya literasi maupun dalil dan sumber hukum
yeng menjelaskan tentang konsep tawakkal.
4.
Kaitkan isi bahan ajar KB 2 dengan nilai
moderasi beragama
Yang juga patut
kita syukuri di tengah situasi sulit seperti ini kita merasakan adanya iklim
solidaritas yang terus tumbuh di tengah masyarakat.
Banyak kalangan
berpunya yang memiliki kepedulian sosial (filantropi) untuk ikut serta memilkul
beban dalam menghadapi bencana ini melalui penyaluran bantuan-bantuan sosial.
Patut kiranya hal ini terus kita tumbuhkan agar situasi semakin membaik dengan
terus saling membantu dan mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran.
Dalam konteks
kehidupan umat beragama, kita juga merasakan terjaganya kerukunan, kebersamaan,
dan saling pengertian di tengah keragaman, meski dinamika kecil tidak dapat
dihindarkan. Hal ini tidak dapat dilepaskan karena praktik moderasi beragama
(wasathiyah) yang telah terjaga di tengah umat beragama.
Sikap moderat
dalam beragama benar-benar menjadi pondasi yang kokoh selain faktor ekonomi dan
politik di tengah wabah penyakit yang melanda bangsa ini.
Jika kita semua
mampu menempatkan cara pandang, sikap, dan perilaku beragama moderat dan tidak
terseret dalam tarikan paham dan perilaku ekstrem kanan dan ekstrem kiri,
niscaya kita akan tetap mampu bertahan sebagai bangsa yang besar dan maju.
Sejarah telah
membuktikan bahwa umat beragama di Indonbesia telah mampu menunjukkan kepada
dunia bahwa praktik “moderasi beragama” merupakan modal penting bagi berdiri
dan tegaknya persatuan dan kesatuan bangsa dalam wadah NKRI yang terbangun
hingga kini.
Pilar-pilar
kebersamaan dan keharmonian dirajut melalui paham, sikap, dan perilaku beragama
“jalan tengah” sehingga mempertebal ikatan persatuan dan kesatuan dalam
kemajemukan.
Paham, sikap,
dan perilaku moderat merupakan ajaran yang telah ditandaskan oleh Allah dalam
QS: Al-Baqarah: 143, yang Artinya: “Dan
yang demikian ini Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat pertengahan
agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad)
menjadi saksi atas perbuatan kalian.” (QS: Al-Baqarah: 143)
Nilai moderasi
yang ditekankan pada ayat tersebut terletak pada posisi di tengah, sehingga
menjadi pangkal untuk menumbuhkan sikap beragama yang damai dan teduh. Moderasi
beragama adalah jalan tengah yang mengedepankan nilai keadilan, di mana bergama
atau berprilaku agama sesuai dengan porsi yang telah ada. Tidak ada intrik
untuk melebihkan atau mengurangi sebuah ajaran sebagaimana dilakukan oleh
sekelompok kecil umat beragama. Dengan moderasi agama, kita akan menjalankan
pesan-pesan Tuhan sesuai dengan apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW
kepada kita. Kita tentu tahu bahwa radikalisme agama, atau konflik kekerasan
yang banyak terjadi itu karena adanya prilaku berlebihan sehingga mereduksi
nilai keadilan sebagai pondasi utama bermasyarakat.
Agama wajib
dipahami dengan pemahaman yang adil agar tidak menimbulkan konflik di tengah
kehidupan umat. Sebagai umat beragama, tugas kita adalah menyampaikan bahwa
agama mengusung misi yang mencerahkan pikiran dan tindakan dalam konteks
apapun. Agama harus mampu menghadirkan rasa adil agar setiap masalah yang
muncul bisa menemukan penyelesaian dengan baik. Agama harus dijadikan jalan
untuk menemukan masalah kesejahteraan dan kedamaian agar problem-problem hidup
tidak terus muncul.
Apalagi di tengah situasi pandemi seperti
ini, seluruh tokoh agama dan umat Islam secara keseluruhan harus dapat
menempatkan seluruh konteks kehidupan secara lebih proporsional dan akhirnya
kita mampu melalui situasi ini dengan baik, rukun, dan damai.
Komentar
Posting Komentar