ANALISA BAHAN AJAR KASIH SAYAMH DAN KEKUASAAN ALLAH

 

NAMA                                     : I

KELAS                                      : PPG PAI B

MODUL                                   : AQIDAH AKHLAK

KEGIATAN BELAJAR              : 1. KASIH SAYANG DAN KEKUASAAN ALLAH

1.    Tulis 5 konsep bahan ajar KB 1 dan deskripsinya

a.       Pengertian al-Malik

Al Malik adalah satu dari 99 Asmaul Husna nama-nama Allah SWT yang memiliki arti Maha Menguasai, Maha Memiliki, dan Maha Raja.

Al Malik artinya Yang Maha Memiliki, Maharaja, dan Maha Menguasai.

Dalam Al Qur'an, banyak disebutkan Asmaul Husna Al Malik di antaranya dalam Surat Al Fatihah ayat 4: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) } Yang Menguasai hari pembalasan.

Telah diriwayatkan sebuah hadis melalui berbagai jalur periwayatan yang diketengahkan oleh Ibnu Murdawaih, bahwa Rasulullah Saw. membacanya maliki yaumid din.

Lafaz malik diambil dari kata al-milku, seperti makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Kami memiliki bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami-lah mereka dikembalikan. (Maryam: 40)

 

Katakanlah,  "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Pemilik manusia. (An-Nas: 1-2).

 

Sedangkan kalau maliki diambil dari kata al-mulku, sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

 Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Hanya kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. (Al-Mu’min: 16)

Benarlah perkataan-Nya. dan di tangan kekuasaan-Nyalah segala kekuasaan. (Al-An'am: 73).

 

Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu) suatu hari yang penuh dengan kesukaran bagi orang-orang kafir. (Al-Furqan: 26).

 

Pengkhususan sebutan al-mulku (kerajaan) dengan yaumid din (hari pembalasan) tidak bertentangan dengan makna lainnya, mengingat dalam pembahasan sebelumnya telah diterangkan bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam, yang pengertiannya umum mencakup di dunia dan akhirat. Di-mudaf-kan kepada lafaz yaumid din karena tiada seorang pun pada hari itu yang mendakwakan sesuatu, dan tiada seorang pun yang dapat angkat bicara kecuali dengan seizin Allah Swt, sebagaimana dinyatakan di dalam firman-Nya:

Pada hari ketika roh dan malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata. kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. (An-Naba': 38).

Ibnu Abbas, bahwa maliki yaumid din artinya "tiada seorang pun bersama-Nya yang memiliki kekuasaan seperti halnya di saat mereka (raja-raja) masih hidup di dunia pada hari pembalasan tersebut".

Pada hakikatnya raja yang sesungguhnya adalah Allah Swt., seperti yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera. (Al-Hasyr: 23)

b.      Allah SWT Penguasa segala sesuatu

Alam semesta dan segala yang ada didalamnya tunduk pada aturan yang disebut hukum alam atau sunnatullah itu. Hukum dan ketetapan itu dibuat dan dikendalikan oleh satu kekuatan yang maha dahsyat. Kekuatan yang meliputi seluruh alam jagat raya yang maha luas. Dia yang mengatur alam jagat raya itu mengetahui setiap butir dan titik yang ada di alam semesta, Dia mempunyai kekuatan yang tak terbatas. Dia yang menguasai hukum dan aturan itu adalah kekuatan yang SATU, tidak mungkin ada dua atau tiga. Jika yang mengatur hukum dialam ini ada 2 atau 3 pasti akan terjadi kekacauan pada sistim alam semesta. Alam semesta akan bingung aturan yang mana yang harus diikuti. Yang menguasai hukum alam itu adalah kekuatan yang SATU, Dialah Allah sang Penguasa Tunggal.

Sistem di alam semesta telah membuktikan bahwa alam semesta tunduk pada hukum dan aturan yang satu, yaitu sunnatullah. Jika ada Tuhan lain selain Allah pasti alam ini akan kacau dan hukum alam tidak berlaku. Tuhan yang satu menghendaki matahari terbit dari timur dan terbenam di barat, tapi Tuhan yang lain menghendaki sebaliknya. Tuhan yang satu menghendaki api panas, tapi Tuhan yang lain menghendaki api itu dingin. Pasti akan terjadi kekacauan dimana mana. Inilah satu bukti bahwa Allah itu satu, Dia penguasa tunggal, tidak ada yang setara atau menyamainya.

 

c.       Tanda kepemilikan “kerajaan” oleh Allah SWT

Dia sang penguasa Tunggal tidak pernah lelah dan letih mengurus alam semesta yang maha luas, Dia tidak pernah bingung menghadapi permintaan seluruh mahluknya yang beraneka ragam, yang terlihat mata maupun yang tidak terlihat. KekuasaanNya meliputi alam nyata dan alam ghaib, alam dunia dan akhirat. KekuasaanNya tidak terbatas.

 

Hal yang paling prinsip dan utama dalam ajaran Islam adalah ber-Iman dan percaya pada kekuasaan mutlak sang Penguasa Tunggal yaitu Allah SWT. Tunduk, patuh , menyembah dan sujud hanya padaNya, tidak mempersekutukan Nya dengan sesuatu apapun. Hanya mengakui Dia sebagai penguasa Tunggal , tidak ada Tuhan yang lain yang berhak disembah atau dipatuhi selain Dia. Ini prinsip Utama.

 

Berapapun besar amal kebaikan yang dilakukan seseorang akan sirna lenyap tidak berarti jika tidak dilandaskan pada Iman dan yakin pada kekuasaan Allah sang Penguasa Tunggal. Allah hanya mengakui dan menerima amal kebaikan yang dilakukan semata mata karena iklas untuk mengabdi dan memenuhi perintahNya. Amal kebaikan yang dilakukan orang yang tidak percaya padaNya dan dilakukan hanya karena ingin mendapat penghargaan serta pujian orang banyak, tidak akan mendapat balasan dari Allah. Ia hanya mendapat penghargaan dan pujian di dunia saja, diakhirat kelak ia termasuk orang yang rugi, tidak mendapat satu apapun .

d.      Allah SWT Pemilik hari pembalasan

Berikut Tafsir Al-Fatihah Ayat 4 yang wajib kita imani.

Yang Artinya: "Pemilik hari pembalasan." (Al-Fatihah: Ayat 4)

Dijelaskan dalam Tafsir Kemenag, satu-satunya pemilik hari pembalasan dan perhitungan atas segala perbuatan (Hari Kiamat) ialah Allah \'Azza wa Jalla . Kepemilikan-Nya pada hari itu bersifat mutlak dan tidak disekutui oleh suatu apa pun.

Sesudah Allah menyebutkan beberapa sifat-Nya, yaitu: "Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang", maka diiringi-Nya dengan menyebutkan satu sifat-Nya lagi, yaitu "Menguasai hari Pembalasan". Penyebutan ayat ini dimaksudkan bahwa kekuasaan Allah tak terhenti sampai di dunia saja, tetapi berlanjut sampai hari Kiamat.

Ini menegaskan kekuasaan Allah bukan saja di alam dunia, namun juga Allah berkuasa pada hari akhir. Dalam tafsir wajiz ayat keempat surat Al Fatihah, pada Tafsir Alquran Kementerian Agama RI dijelaskan ayat ini menerangkan Dialah (Allah) satu-satunya pemilik hari pembalasan dan perhitungan atas segala perbuatan, yaitu hari kiamat.

 

Kepemilikan-Nya pada hari itu bersifat mutlak dan tidak disekutui oleh suatu apa pun. Dalam tafsir tahlili pada Tafsir Alquran Kementerian Agama RI dijelaskan ada dua macam bacaan berkenaan dengan lafadz Malik. Bacaan pertama dengan memanjangkan mim sehingga artinya Yang memiliki (Yang empunya), dan bacaan kedua dengan memendekkan mim yang artinya Raja.

 

Kedua bacaan itu benar. Baik menurut bacaan yang pertama ataupun bacaan yang kedua, dapat dipahami arti berkuasa dan bertindak dengan sepenuhnya. Sebab itu diterjemahkan dengan Yang menguasai. Sedangkan kata yaum artinya hari. Tetapi yaum yang dimaksud pada ayat ini ialah waktu secara mutlak.

 

e.      Manusia menjadi raja atas dirinya sendiri

Manusia disuruh melawan dan mengendalikan hawa nafsu. Usaha manusia dalam perjuangan melawan hawa nafsu ini tentu bertingkat-tingkat, tergantung pada kemampuan dan kekuatan imannya.

Pertama, orang yang sepenuhnya dikuasai oleh hawa nafsunya dan tidak dapat melawannya sama sekali. Ini merupakan keadaan manusia pada umumnya. Dengan begitu, ia sungguh telah mempertuhankan hawa nafsunya.

Kedua, orang yang senantiasa dalam pertarungan melawan hawa nafsu. Pada suatu kali ia menang dan pada kali yang lain ia kalah. Kalau maut merenggutnya dalam pertarungan ini, maka ia tergolong mati syahid.

Ketiga, orang yang sepenuhnya dapat menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya. Inilah orang yang mendapat rahmat Allah, sehingga terjaga dan terpelihara dari dosa-dosa dan maksiat. Menurut Ghazali, ini merupakan tingkatan para nabi dan wali-wali Allah.

Dalam perjuangan melawan hawa nafsu, menurut Ghazali, manusia dituntut ekstra hati-hati dan waspada secara terus-menerus, supaya ia jangan tertipu (ghurur). Kata Ghazali, banyak orang merasa telah bekerja dan berjuang untuk agama, nusa, dan bangsa, padahal sesungguhnya ia bekerja hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan untuk memuaskan egonya.

Dengan mengerti dan memahami sifat al-Malik dengan baik, seseorang dapat menguasai hawa nafsunya. Godaan yang paling besar bagi manusia adalah godaan hawa nafsu. Dalam sejarah, umat Islam pernah mengalami kekalahan perang, yaitu dalam perang Uhud.

Kekalahan tersebut terjadi karena sebagian dari pasukan umat Islam tergoda dengan harta ghanimah atau harta rampasan perang sehingga Allah Swt mengurangi kekuatan mereka dan akhirnya mereka kalah di dalam perang. Saat itu seandainya umat Islam tidak tergoda dengan harta rampasan perang yang ada dan menyakini bahwa Allah Swt adalah Pemilik semuanya, niscaya pasukan umat Islam akan menang.

Bersyukur terhadap nikmat Allah

Mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kapada manusia merupakan bentuk pengamalan dari penghayatan seseorang terhadap asama Allah Swt al-Malik. Seseorang akan sadar bahwa pemilik sebenarnya bagi segala sesuatu adalah Allah Swt. Oleh karena itu ketika seseorang sudah berusaha dengan maksimal lalu ia memperoleh rezeki, maka ia akan mensyukuri rezeki itu. Ia tidak akan mengumpat atau mencaci orang lain karena ia sadar bahwa Allah Swt adalah pemilik sejatinya

 

2.    Evaluasi dan refleksi pemaparan bahan ajar KB 1 tersebut !

 

Memahami Al-Malik artinya salah satu dari 99 nama-nama terbaik lagi indah Allah SWT dalam Asmaul Husna. Al-Malik artinya Yang Maha Kuasa. Al-Malik artinya sifat pemimpin yang mempunyai kekuasaan atau otoritas tertinggi untuk mengendalikan segala sesuatu.

Mengimani asmaul husna Al-Malik artinya Yang Maha Kuasa, menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya yang bisa menentukan siapa saja yang berhak menerima kuasa dan rahmat yang mutlak. Zikir asmaul husna Al-Malik artinya Yang Maha Kuasa, mengingatkan bahwa Allah SWT harus ditaati karena kuasanya.

Sebagai Al Malik, Allah berkuasa melakukan apa pun yang Dia kehendaki. Termasuk memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki.

Begitu banyak contoh, bagaimana orang yang seakan tampak lemah, Allah anugerahkan kemenangan dan kekuasaan kepadanya. Misalnya Thalut dan Daud. Keduanya Allah jadikan pemenang dan penguasa meskipun awalnya banyak orang tidak menyangka bahkan sempat meremehkannya.

Demikian pula Allah mencabut kekuasaan dari orang-orang yang sombong dan pongah, meskipun tampaknya mereka sangat kuat. Fir’aun, Abrahah, hingga kaum Ad dan Tsamud. Menegaskan bahwa tidak ada makhluk yang berkuasa meskipun mendeklarasikan paling berkuasa.

 

Misalnya Fir’aun yang dengan sombong mengatakan:

                                                                                                                                                الْأَعْلَى رَبُّكُمُ أَنَا

 

…Akulah tuhanmu yang paling tinggi (QS. An Nazi’at: 24)

 

Apa yang kemudian terjadi? Allah menenggelamkan Fir’aun. Menjadikannya binasa dan membuktikan bahwa Fir’aun tidak memiliki kekuasaan apa pun yang sanggup menolak kekuasaan-Nya.

 

Berakhlak dengan sifat Al Malik adalah hendaknya kita mengikat diri dengan mengikuti kebenaran dari pangkal hingga ujungnya. Di antaranya adalah melarang siapa saja yang seharusnya dilarang, mengangkat siapa saja yang seharusnya diangkat.

Demikian pula memuliakan siapa saja yang harus dimuliakan. Memberikan makanan kepada orang yang lapar. Memberikan pakaian kepada orang yang tidak memiliki pakaian. Menegakkan keadilan dan memberikan hak kepada orang yang berhak.

Sifat Al-Malik yang berarti Menguasai biasa ditujukan kepada penguasa di bumi. Jikalau kita menjadi pemimpin, kita harus memiliki sifat Al-Malik. Menjadi pemimpin dengan baik dan benar, tidak sombong dan sewenang-wenang jika memimpin.

Karena sifat sombong dan sewenang-wenang akan dibenci oleh Allah SWT. Kita juga harus menyadari bahwa kekuasaan manusia sangatlah terbatas. Karena pada akhirnya kekuasaan tersebut akan digantikan oleh orang lain, tidak seperti kekuasaan Allah SWT yang bersifat abadi. Karena Dia-lah yang menguasai alam semesta beserta bumi seisinya atau segalanya. Jadi kita pun adalah milik Allah SWT, jadi Dia-lah yang berhak memerintah atau melarang sesuatu. Selain itu juga kita harus menguasai diri kita sendiri, menguasai dari hawa nafsu dan hal-hal yang bersifat keduniawian.

Karena dunia ini semuanya hanyalah sandiwara dan penuh tipu daya. Jangan sampai kita tergila-gila dengan kedudukan atau jabatan, karena kedudukan atau jabatan di dunia tidak mempengaruhi kedudukanmu di akhirat kelak. Selain menguasai diri dari hawa nafsu, kita juga harus menguasai diri dari amarah.

Karena sifat amarah sangat tidak disukai oleh Allah SWT. Kecuali jika marah dalam hal yang baik, seperti orangtua yang marah jika anaknya tidak shalat, atau marah yang dilakukan untuk membela agama. Sebagai pemimpin atau penguasa, ia juga harus bisa menguasai diri sendiri terlebih dahulu.

Karena jika tidak dapat menguasai diri sendiri, maka kekuasaannya bisa jatuh ketangan orang lain. Agar dapat menguasai diri, kita harus banyak bersyukur atas segala hal yang diberikan oleh-Nya, baik itu rezeki atau kenikmatan.

Karena tanpa kehendak-Nya, kita tidak berarti apa-apa. Kesimpulan dari semua ini, kita harus bisa menguasai diri sendiri karena menguasai diri sendiri itu lebih sulit daripada menguasai orang lain. Belum tentu seorang pemimpin dunia bisa menguasai dirinya sendiri. Karena masih banyak pemimpin di dunia ini yang bersifat sewenang-wenang, arogan, tidak peduli pada rakyatnya, dan lain-lain. Oleh karena itu sifat kepemimpinan itu sangat penting bagi diri kita.

 

3.    Tulis kelebihan dan kekurangan terkait penjelasan pada bahan ajar KB 1

a.       Kelebihan :

Penjelasannya sudah cukup baik dan mudah dipahami karena kajiannya hanya membahas satu konsep yaitu tentang pengertian al-Malik dan kaitannya dalam kehidupan manusia.

b.      Kekurangan :

·      Kurangnya dalil al-Qur’an dan hadits yang mewakili tentang konsep al-Malik

·      Sedikitnya literatur mengenai kajian al-Malik

4. Kaitkan isi bahan ajar KB 1 dengan nilai moderasi beragama

Islam sebagai agama rahmat memiliki keunggulan yakni ajarannya serba berimbang (moderat). Moderat memiliki makna berkecenderungan kearah dimensi atau jalan tengah.Moderat adalah keseimbangan antara keyakinan dan toleransi seperti bagaimana kita memiliki keyakinan tertentu. Tidaklah sulit jika Alloh SWT menginginkan untuk menjadikan manusia sebagai satu umat, namun Alloh SWT tidak menghendaki demikian karena sudah ketetapan-Nya menciptakan ciptaannya berbeda. Perbedaan yang ada dimaksudkan agar manusia saling berinteraksi dengan baik. Perbedaan yang ada dalam diri manusia, akan terasa indah jika dibingkai dengan rasa saling menghormati dan menghargai satu sama lain. etapi tetap mempunyai toleransi yang seimbang terhadap keyakinan yang lain.

Jadi implementasi nilai moderasi Islam adalah penerapan suatu keyakinan atau perasaan yang meyakini sikap tengah-tengah atau standar dari agama Islam.

Moderasi dalam beragama akan lebih mudah diwujudkan jika seseorang berpedoman kepada tiga karakter dalam dirinya, yaitu kebijaksanaan, ketulusan, dan keberanian. Bijaksana dalam bersikap karena keluasan pengetahuan agamanya, ketulusan hati dalam bersikap tanpa terbebani oleh godaan-godaan yang menerpa, dan keberanian diri menyampaikan pandangan yang berdasar pada ilmu, tanpa disertai sifat egois dengan merasa bahwa dirinya paling benar, sehingga mampu mengakui kebenaran orang lain. Moderasi beragama terwujud melalui tiga elemen penting, yaitu memiliki pengetahuan yang luas, mampu mengendalikan emosi untuk tidak melebihi batas, dan selalu berhati-hati. Jika disimpulkan maka moderasi tiga elemen utama, yaitu berilmu, berbudi dan berhati-hati.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam, tidak semuanya berasal dari agama yang sama. Seorang muslim bertetangga dengan yang menganut agama lain, karena Islam telah menggariskan akhlak bergaul dengan mereka yang berbeda keyakinan. Agama tidak dapat dipaksakan kepada orang lain, karena setiap orang mempunyai hak untuk memilih agama sesuai dengan keyakinannya. Allah swt berfirman dalam Q.S. al-Kāfirūn [109]: 6: yang Artinya: “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku”.

Moderasi dalam akhlak diwujudkan dengan keseimbangan dalam memberikan hak kepada orang lain maupun mengambil haknya dari mereka. Jangan karena membenci suatu kaum, menjadikan berlebihan di dalam permusuhan atau karena menyenangi suatu kaum, akhirnya berlebihan dalam sikap kecintaan kepada mereka, sehingga tidak bisa bersikap adil dan proporsional. Termasuk moderasi dalam akhlak adalah mengutamakan orang lain meskipun dalam diri mereka ada kekurangan dan kesulitan. Moderasi dalam akhlak berarti sederhana dalam berjalan, tidak dengan kecongkakan atau menghinakan diri, berbicara dengan wajar, tidak meninggikan suara atau terlalu berbisik. Bahkan ketika makan dan minum dan berinfaq pun harus tetap memegang prinsip moderasi yaitu pertengahan dan kesederhanaan. Tidak boleh makan dan minum berlebihan atau berinfaq dengan boros atau terlalu pelit, semua itu harus dalam bingkai moderasi.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lembar Kerja (LK) 6 : Penyusunan Rencana Aksi

TUGAS REFLEKSI MODUL PEDAGOGIK