ANALISA BAHAN AJAR HARI AKHIR, QADHA, DAN QADHAR

 

NAMA                                                  :, S.Pd.I

KELAS                                                    : PPG PAI B

MODUL                                                                : AQIDAH AKHLAK

KEGIATAN BELAJAR                        : 3. HARI AKHIR, QADHA, DAN QADHAR

ANALISIS BAHAN AJAR                  : VIDEO

1.      Tulis 5 konsep bahan ajar KB 3 dan deskripsinya

a.     Konsep tentang Kiamat

Pengertian hari akhir menurut agama Islam adalah peristiwa hancurnya alam semesta beserta isinya hingga seluruh makhluk hidup di dalamnya pun akan binasa. Beriman dan meyakini akan adanya hari akhir termasuk dalam rukun iman yang ke lima.

Hari akhir ditandai dengan bunyi terompet sangkakala Malaikat Israfil atas perintah dari Allah SWT. Seseorang tidak dapat disebut dengan mukmin bila mengingkari keberadaan hari akhir.

Hari akhir akan datang secara tiba-tiba, tidak ada orang yang mengetahui kedatangan hari kiamat, kecuali Allah SWT yang mengetahuinya. Seperti dijelaskan dalam Al Quran surat Al A'raf ayat 187, yang artinya : Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

Walaupun kedatangan hari akhir tidak dapat diketahui, namun sebagai umat Islam kita wajib mempercayai bahwa hari akhir akan benar-benar terjadi dan dialami oleh seluruh manusia.

Berikut pengertian hari kiamat dan penjelasan lainnya,

Pengertian hari akhir menurut agama Islam adalah kerap disebut juga sebagai kiamat. Sesuai dengan pengertian hari akhir menurut agama Islam yang telah disebutkan sebelumnya, peristiwa ini akan didahului dengan ditiupnya sangkakala. Pada saat itu, seluruh makhluk, seperti manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, gunung-gunung, laut, langit, semuanya menjadi kacau balau dan hancur. Manusia berterbangan seperti laron hingga gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.

Peristiswa hari akhir tersebut diceritakan dalam firman Allah, yakni QS. Al Haqqah ayat 13-15 yang Artinya: "Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat."

Penjelasan juga bisa dibaca di QS Al Qari'ah 1-5, yang Artinya: "Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan." (QS. Al Qari'ah: 1-5).

b.    Macam-macam Kiamat

Percaya pada hari kiamat termasuk dalam rukun iman. Dalam kiamat sendiri ada istilah sugro dan kubra. Rukun iman yang wajib diimani oleh seorang Muslim yaitu mempercayai akan datangnya hari akhir (kiamat). Hal ini ditekankan melalui rukun iman ke-5 yakni iman kepada hari akhir. Kiamat kubra berarti kiamat besar dan kiamat sugra berarti kiamat kecil.

c.     Contoh Kiamat Kecil dan Besar

Contoh kiamat kecil (sugra) 

1. Kematian  Semua makhluk hidup yang bernyawa, pasti akan kembali ke hadapan Allah SWT. Kematian seseorang adalah mutlak rahasia Allah SWT dan tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya. Hanya amalan selama di dunialah yang mampu dijadikan bekal di akhirat kelak.

2. Bencana alam  Terjadinya bencana alam entah karena ulah manusia ataupun murni gejala alam juga tidak diketahui kapan datangnya. Bencana alam yang kerap terjadi di antaranya seperti gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, banjir, tsunami, wabah penyakit, dan masih banyak lagi. Sebagai manusia, yang bisa diperbuat hanyalah berdoa, bertawakkal, dan berusaha untuk mengantisipasi dan menanggulangi datangnya bencana tersebut.

Kiamat Besar (kubra) berupa hancurnya seluruh alam semesta beserta isinya. Seperti matahari, bumi dan planet-planet lainnya sudah tidak berjalan lagi pada porosnya sehingga saling bertabrakan. Bumi berguncang dahsyat dan tidak ada satupun makhluk di muka bumi ini yang hidup.

d.    Tanda-tanda Kiamat

Selain pengertian hari akhir menurut agama Islam adalah, Al Quran juga menjelaskan proses haru akhir dalam Al-Anbiya ayat 104. Allah SWT akan menggulung gunung layaknya sebuah lembaran kertas pada hari itu tiba.

Artinya: (Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati; sungguh, Kami akan melaksanakannya.

Kiamat kubra  Dalam bahasa Arab, kubra berarti besar. Dalam hal ini, kiamat kubra adalah kiamat yang sebenarnya. Kiamat kubra terjadi dengan dimulainya tiupan terompet sangkakala malaikat Israfil serta diiringi dengan kehancuran semesta beserta isinya.

Berikut tanda-tanda kiamat kubra  :

1. Munculnya Imam Mahdi Kemunculan Imam Mahdi menjadi salah satu tanda datangnya akhir zaman. Hal ini sesuai dengan hadits riwayat Al Hakim. Rasulullah SAW bersabda, "Imam Mahdi akan keluar di akhir umatku. Allah akan menurunkan hujan, akan menumbuhkan tanaman di muka bumi, harta akan dibagi secara merata. Binatang ternak akan semakin banyak, begitu juga umat akan bertambah besar. Imam Mahdi hidup selama 7 atau 8 tahun."

2. Dajjal Selain Imam Mahdi, ada juga kemunculan Dajjal yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dajjal diketahui akan menyebarkan fitnah di muka bumi. Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah bersabda, "Tidak ada satu pun mahluk sejak Adam diciptakan hingga terjadinya kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada Dajjal."

3. Nabi Isa AS memimpin dunia Dalam Al-Qur'an surat An-Nisa ayat 159, Allah SWT berfirman bahwasanya Nabi Isa akan muncul di dunia dan menjadi saksi bagi atas umat manusia.

4. Ya'juj dan Ma'juj Dalam Quran surat Al-Kahfi ayat 94

 5. Matahari terbit dari arah barat Matahari terbit dari arah barat menjadi salah satu tanda-tanda kiamat kubra atau besar. Dalam hadits Abu Dawud serta Ibnu Majah, dari Abdullah bin Amr, dia berkata, aku hafal dari Rasulullah sabda beliau, "Sesungguhnya pertanda yang pertama muncul (menjelang Kiamat) ialah terbitnya matahari dari barat dan munculnya binatang melata menemui manusia pada waktu dhuha. Mana saja dari keduanya yang lebih dulu terjadi, tidak lama sesudah itu yang lain pun segera terjadi."

6. Daabbah (binatang melata) Kemunculan binatang melata disebutkan dalam hadits yang sama dengan terbitnya matahari dari arah barat. Namun, tidak diketahui mana yang duluan akan terjadi, apakah kemunculan binatang melata atau matahari dari barat.

7. Kabut dan angin berhembus

8. Munculnya api Berdasarkan hadits riwayat Muslim, kemunculan api menjadi tanda-tanda kiamat. Api tersebut membawa manusia menuju tempat berkumpul. "Dan yang terakhirnya adalah api yang keluar dari Yaman, menggiring manusia ke tempat mereka berkumpul."

9. Terjadinya gempa Gempa di muka bumi saat hari kiamat dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Hajj ayat 1

10. Kehancuran kakbah Tanda-tanda kiamat yang terakhir adalah hancurnya Kakbah. Hal itu sesuai dalam hadits riwayat Hakim dan Abu Ya'la, oleh Abu Sa'id Al Khudri RA, "Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum Kakbah ini tidak lagi didatangi orang untuk menunaikan ibadah haji." Dalam hadits riwayat Muslim dan Bukhari, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Kakbah diruntuhkan oleh Dzu Suwaiqatain dari Habasyah."

Kiamat sugra Kiamat sugra atau kiamat kecil ialah berakhirnya kehidupan sebagian makhluk di dunia ini, baik itu secara individu maupun kelompok.

Berikut tanda-tanda kiamat sugra :

• Wanita berpakaian tapi telanjang

• Banyak terjadinya kerusakan alam

• Semakin meluasnya kebodohan

• Muncul banyak pembunuhan

 • Waktu yang terasa makin singkat

 • Berkurangnya jumlah orang baik dan bertambahnya jumlah orang jahat

• Maraknya perbuatan riba

• Disia-siakannya sebuah amanat

e.     Hikmah tidak diketahui kapan terjadinya Kiamat

Dalam Al-Qur'an surat Al-A'raf ayat 187, Allah SWT berfirman bahwa kiamat pasti akan terjadi di muka bumi. Waktu terjadinya pun hanya Allah yang mengetahui.

Berikut di jelaskan dalam surat al-A’raf 187 yang artinya

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, "Kapan terjadi?" Katakanlah, "Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba." Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

Menurut ulama, Fakhruddin Ar-Razi, salah satu hikmah tidak diketahuinya waktu terjadinya kiamat adalah agar manusia tetap beribadah dan mencegah diri dari perbuatan maksiat tanpa memperhatikan kapan terjadinya kiamat.

Dirahasiakannya hari kiamat bukan tanpa hikmah. Menurut Yusuf bin Abdullah Al-Wabil, salah satu hikmah terbesar misteri kiamat adalah munculnya rasa mawas diri dalam hidup seseorang karena meyakini bahwa setiap amal perbuatan, baik dan jahat atau besar dan kecil, akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah di akhirat kelak. Bahwa, kehidupan manusia tidak hanya berlangsung di dunia, melainkan berlanjut abadi hingga akhirat (Asyrath As-Sa'ah, hlm 28).

Alasan mengapa Allah SWT merahasiakan hari kiamat adalah untuk menjaga agar manusia senantiasa taat kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Apabila manusia tahu kapan terjadinya hari kiamat maka boleh jadi mereka akMengapa Allah merahasiakan waktu kedatangan hari kiamat Jelaskan pendapatmu?

Allah sengaja merahasiakan waktu tibanya hari kiamat karena adanya hikmah syariat. maksudnya adalah agar manusia lebih memperhatikan ketaatan terhadap Allah dan lebih menghindari diri dari perbuatan maksiat. “Dengan demikian, saksi amalan bagi manusia di alam akhirat nanti bukan saja anggota tubuhnyaan lalai dalam ketaatannya.

2.     Evaluasi dan refleksi pemaparan bahan ajar KB 3 tersebut

Di dalam ajaran Islam, hari kiamat kerap disebutkan berulang-ulang dalam Alquran. Tentu saja hal ini untuk mengingatkan tujuan akhir umatnya bukanlah semata apa yang ia peroleh di bumi, namun apa yang bisa ia bawa di peradilan kelak dan menentukan ke mana ia akan berakhir; merasakan kenikmatan surga atau abadi di neraka.

Namun, bagaimana memahami bahwa hari kiamat merupakan rukun iman yang ke-5, yakni iman kepada hari akhir?

Dalam bahasa Arab, kiamat atau yaumul qiyamah merupakan hari pemusnahan semua kehidupan, yang kemudian akan diikuti oleh kebangkitan dan penghakiman oleh Tuhan. Beberapa ayat dalam Alquran menyebutkannya sebagai Penghakiman Terakhir.

Tidak ada satupun makhluk yang tahu hari terjadinya atau meramalkan kapan kiamat akan terjadi, karena hal tersebut adalah hak prerogatif Allah SWT., sebagaimana disebutkan dalam surat Al-A’raf ayat 187 yang artinya“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: ‘Bilakah terjadinya?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba’. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui’.

Hadits menyebutkan beberapa peristiwa yang terjadi sebelum hari kiamat, yang digambarkan sebagai beberapa tanda kecil dan tanda besar atau yang disebut Kiamat Sugra dan Kiamat Kubra.

 

Kiamat Sugra: Merupakan kiamat yang menghancurkan sebagian alam, maka dari itu sering disebut sebagai kiamat kecil. Kejadian-kejadian kiamat kecil ini kerap diabaikan oleh manusia. Selama periode ini pula, korupsi dan kekacauan politik dunia akan menguasai bumi.

Kiamat Kubra: Kemudian muncul Masih ad-Dajjal, atau Dajjal (mirip dengan Antikristus dalam agama Kristen), yang nantinya Nabi Isa (Yesus) akan muncul, mengalahkan Dajjal dan menetapkan periode damai, membebaskan dunia dari kekejaman. Peristiwa ini akan diikuti dengan masa ketenangan ketika orang hidup sesuai dengan nilai-nilai agama.

3.     Tulis kelebihan dan kekurangan terkait penjelasan pada bahan ajar KB 3

Kelebihan :

·         Jadi lebih paham tentang hikmah hari kiamat tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya.

·         Apa-apa yang disampaikan meskipun secara singkat tapi sudah cukup mewakili tentang hari kiamat.

Kekurangan :

Kurangnya dalil dan literatur dalam pembahasan tentang hari kiamat tersebut

 

4.     Kaitkan isi bahan ajar KB 3 dengan nilai moderasi beragama

Istilah “moderasi” sering dikaitkan dengan sikap menengahi suatu masalah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “moderasi” diartikan dengan“pengurangan kekerasan” atau “penghindaran keekstriman”. Secara umum, istilah moderasi sering dipahami sebagai aktivitas memandu, mengarahkan, dan menengahi komunikasi interaktif yang terjadi antara beberapa pihak dalam bentuk lisan maupun tulisan. Dengan kata lain, moderasi adalah suatu tindakan atau sikap yang mampu menjadi penengah (washith) dalam upaya penyelesaian persoalan antara kedua belah pihak atau lebih, sehingga persoalan itu menemukan solusi dan kedamaian dengan mereduksi potensi kekerasan atau keekstriman.

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta) melaluiwahyu Al-Qur’an telah menempatkan posisi umatnya (kaum muslimin) sebagai umat yang washathan, yakni mampu menjadi penengah (washith) dalam menyikapi persoalan terjadi di tengah-tengah kehidupan manusia sebagaimana yang tertera dalam Surat Al-Baqarah ayat 143:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang menjadi penengah(washathan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…”.

Ayat di atas menunjukkan bahwa umat Islam disebut ummatan washathan, umat penengah yang serasi dan seimbang, karena mampu memadukan dua kutub agama terdahulu, yaitu sikap keberagamaan Yahudi yang terlalu membumi dan Nashrani yang terlalu melangit. Ayat tersebut juga berkaitan erat dengan bukti nyata kesiapan mental umat Islam menerima ketetapan Allah saat terjadinya perpindahan arah kiblat yang asalnya menghadap Masjidil Aqsha di Palestina berpindah menjadi menghadap Masjidil Haram di Makkah. Hal ini membuktikan kemandirian dan kemurnian ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. bisa menjadi penengah, tidak terpengaruh oleh sikap keberagamaan umat terdahulu yang mengagungkan Masjidil Aqsha.

Di samping Al-Qur’an menjelaskan posisi umat Islam sebagai umat penengah yang menjadi penyeimbang dari sikap keberagamaan umat Yahudi dan Nasrani, hakikat ajaran Islam itu sendiri sejatinya telah mencerminkan “moderasi” dalam seluruh ajarannya. Sebagai contoh dalam aspek akidah; ajaran Islam menjadi penengah (washith) antara keyakinan kaum musyrikin yang tunduk pada khurafat dan mitos, dan keyakinan sekelompok kaum yang mengingkari segala sesuatu yang berwujud metafisik. Dalam hal ini ajaran Islam menjadi penyeimbang, karena selain manusia beriman kepada yang gaib, juga mengajak akal manusia membuktikan ajarannya secara rasional. Ini membuktikan ajaran Islam dapat menjadi penengah dan relevan dengan fitrah kemanusiaan.

Dalam aspek ibadah, Islam mewajibkan penganutnya untuk melakukan ibadah dalam bentuk dan jumlah yang sangat terbatas, misalnya shalat fardhu lima kali dalam sehari, puasa Ramadhan sebulan dalam setahun, dan haji sekali dalam seumur hidup; selebihnya ajaran Islam membuka peluang dan kesempatan bagi umatnya untuk melahirkan berbagai kreativitas dan karya serta bekerja untuk mencari rezeki Allah di muka bumi.

Selanjutnya pada aspek akhlak, ajaran Islam hadir untuk memberi keseimbangan kebutuhan yang harus terpenuhi pada jasad dan ruh manusia. Unsur jasad pada tubuh manusia diberi kesempatan untuk menikmati kesenangan dan keindahan yang dianugerahkan Allah untuk kenikmatan duniawi, sedangkan unsur ruh didorong untuk mematuhi aturan-aturan Allah agar dalam menikmati dunia dengan tidak melupakan persiapan bekal menuju akhirat.

Keseimbangan (moderasi) antara pengamalan untuk dunia dan akhirat itu telah digariskan Allah dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah Al-Qashash ayat 77:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Bila dipahami dengan cermat, ayat di atas memberikan tuntunan kepada umat Islam untuk mengimplementasikan moderasi dalam 3 (tiga) pesan utama, yakni (1) menyeimbangkan antara persiapan ibadah menuju kebahagiaan akhirat dengan perolehan kenikmatan duniawi yang dilandasi pada keridhaan Allah; (2) menyeimbangkan antara kebaikan berupa nikmat yang telah diberikan Allah dengan upaya membalas nikmat Allah dengan berbuat baik terhadap sesama manusia; (3) menyeimbangkan antara penciptaan dan pemeliharaan Allah terhadap alam semesta dengan larangan berbuat kerusakan di muka bumi.

Upaya untuk mewujudkan keseimbangan di atas dapat dicapai dengan baik apabila pada diri setiap umat Islam benar-benar istiqamah mengaktualisasikan keimanan dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari serta senatiasa diiringi dengan do’a memohon bantuan Allah sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 201:

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

Do’a memohon kebaikan di dunia dan di akhirat secara seimbang merupakan sikap tawakkal umat Islam untuk menyempurnakan ikhtiar yang telah dilakukan dalam merealisasikan keimanan dan amal saleh dalam wujud nyata. Salah satu wujud nyata realisasi do’a tersebut adalah keaktifan umat Islam dalam memelihara keseimbangan hubungan antara hubungan vertikal kepada Allah (hablum minallah) dengan hubungan horizontal kepada sesama manusia (hablum minannas). Dalam Surah Ali Imran ayat 112 Allah swt. menegaskan:

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.”

Dalam upaya mewujudkan keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat, umat Islam juga dituntut memiliki sikap moderasi dalam berinfak atau bersedekah, yakni memilih jalan tengah antara tidak bersikap menghambur-hamburkan harta (boros) dan tidak pula kikir. Dalam Surah Al-Furqan ayat 67, Allah swt. menegaskan:

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah (qawâman) antara yang demikian.”

Dalam ayat di atas, Allah swt. menjelaskan kepada kaum muslimin tentang panduan infak dan sedekah secara umum. Allah menyatakan bahwa tanda seorang `ibâdur raḥmân (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih), yaitu suka berinfak, tetapi tidak berlebihan (israf), dan tidak pula pelit (taqtir). Allah swt. menjelaskan bahwa di antara kedua sikap buruk tersebut ada kebaikan atau dalam Alquran disebut dengan qawwâm yang berarti adil atau tegak (istiqamah). Dikatakan adil atau tegak, karena sikap tersebut berada di antara dua posisi (moderat), tidak berlebihan dan tidak pelit.

Arti kata “qawâman” pada ayat di atas juga bermakna moderasi (tengah-tengah) dan proporsional, yaitu adanya keseimbangan antara dua titik, sehingga tidak berat sebelah. Ada dua jenis infak, yaitu infak yang terpuji dan infak yang tercela. Infak terpuji adalah infak yang dikeluarkan dengan baik dan sesuai dengan perhitungan, yaitu sesuai dengan syari’at, seperti sedekah wajib dan infak untuk keluarga. Adapun infak yang tercela terbagi ke dalam dua bagian, yaitu menghambur-hamburkan dan memubazirkan harta serta bersikap pelit, baik dalam jumlah atau bilangan material maupun dalam praktiknya.

Dari penjelasan ayat demi ayat di atas, dapat dipahami bahwa ajaran Islam bersifat universal (rahmatan lil’alamin) dan bercorak seimbang/moderat (washathiyah) yang mengajarkan umatnya berpikir, berperilaku, dan berinteraksi yang didasari sikap tawazun (seimbang) dan tidak bertentangan dengan akal sehat dan fitrah kemanusiaan.

Moderasi Beragama dalam Islam

Moderasi beragama merupakan suatu perilaku, sikap maupun pemikiran yang mampu menjadi penengah (washith) dalam upaya menyikapi atau menyelesaikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan agama, baik pengamalan ajaran agama yang dianut oleh pemeluknya maupun terhadap perbedaan atau pertentangan yang berhubungan dengan masalah antar agama yang berbeda, sehingga persoalan yang dihadapi itu menemukan solusi (jalan keluar) dengan menghindari kekerasan atau keekstriman.

Dalam hal yang berkaitan dengan pengamalan ajaran agama yang dianut oleh pemeluknya, umat Islam dituntut untuk menjiwai ajaran agamanya dengan mengedepankan berpikir, berperilaku, dan bersikap yang didasari sikap tawazun (seimbang), sehingga merasakan keasyikan dan kenikmatan dalam mengimplementasikan ajaran agamanya. Sementara terhadap umat yang berbeda agama, umat Islam dituntut untuk mengembangkan sikap menghargai perbedaan keyakinan, toleransi, menghormati cara beribadah, menghindari kekerasan dan bersikap ekstrim yang berdampak memojokkan (pejoratif) terhadap penganut agama lain. Karena itu dalam berdialog atau berdiskusi dengan umat yang berbeda agama, Islam melarang berdebat dengan sikap kasar dan argumen yang menyudutkan serta menyakiti perasaan umat yang berlainan agama. Dalam Surah Al-Ankabut ayat 46 dijelaskan:

“Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik…”.

Selain itu, ajaran Islam juga melarang menjelek-jelekkan, menghina, dan memaki Tuhan yang disembah oleh penganut agama lain guna menghindari terjadinya ketersinggungan dan tindakannegatif yang melampaui batas dari penganut agama yang dihina, sebagaimana peringatan Allah swt. dalam Surah Al-An’am ayat 108:

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Selanjutnya Islam juga membuka peluang dalam mewujudkan toleransi kepada umat yang berbeda agama dengan berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka, selama mereka memelihara dua hal utama, yakni tidak memerangi umat Islam karena agama dan tidak mengusir kaum Muslimin dari negeri yang sah mereka tempati. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 8:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Di samping itu pula, sikap moderasi beragama yang luhur dalam Islam adalah perintah kepada umatnya untuk senantiasa menegakkan kebenaran dan keadilan terhadap siapa saja, kapan saja, dan dimana saja, termasuk membela keadilan untuk umat yang berbeda agama demi tegaknya kebenaran. Secara umum, perintah tersebut termaktub dalam Surah Al-Maidah ayat 8:

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dengan mencermati kandungan dalil-dalil Al-Qur’an sebagaimana dipaparkan di atas, dapatlah dipahami bahwa moderasi beragama merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam. Kemuliaan sikap dan perilaku umat Islam di hadapan Allah ternyata tidak saja dinilai berdasarkan kesalehan pribadinya menjalankan ibadah mahdhah kepada Allah, tetapi juga dinilai sejauh mana kesalehan sosialnya dalam memelihara hubungan baik di masyarakat, termasuk terhadap umat yang berbeda agama.

Ajaran Islam yang bersifat universal (rahmatan lil’alamin) mengajarkan umatnya berpikir, berperilaku, dan berinteraksi yang didasari sikap tawazun (seimbang) dalam dimensi duniawi dan ukhrawi. Islam juga meletakkan dasar ajaran untuk mengimplementasikan sikap moderasi beragama, termasuk di dalamnya menghargai perebedaan agama, menghormati keyakinan dan cara beribadah umat yang berbeda agama, bersikap toleransi, dan berlaku adil terhadap semua umat beragama.

Meskipun demikian sikap moderasi beragama dalam Islam tidak berarti bahwa umat Islam yang dianggap moderat dilarang berpegang teguh dan bertindak istiqamah dalam batasan-batasan yang justru wajib dipertahankan sebagai pemeliharaan identitas keimanannya kepada Allah. Karena itu, menuduh umat Islam yang komitmen terhadap agamanya sebagai “kelompok radikal” adalah kegagalan total dalam memahami makna moderasi beragama. Pengakuan segelintir umat Islam mengedepankan jargon “moderasi beragama” sementara sikap pribadinya merendahkan ajaran Islam, justru itulah sikap “kemunafikan” yang dibungkus atas nama moderasi. Wallahu A’lam bish-Shawab!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lembar Kerja (LK) 6 : Penyusunan Rencana Aksi

TUGAS REFLEKSI MODUL PEDAGOGIK