ANALISIS BAHAN AJAR KB Bani Umayyah Dilihat dari Tiga Fase (Fase Terbentuk, Kejayaan dan Kemunduran
ANALISIS BAHAN AJAR
|
Judul Modul |
Sejarah Kebudayaan Islam |
|
|
Judul
Kegiatan Belajar (KB) |
KB 2. Perkembangan Kebudayaan Islam pada
masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah |
|
|
Bahan ajar yang di analisis |
Bani Umayyah Dilihat
dari Tiga Fase (Fase
Terbentuk, Kejayaan dan Kemunduran) |
|
|
No |
Butir Pertanyaan |
Respon/jawaban |
|
1. |
Tuliskan minimal 3 (tiga) konsep beserta
deskripsinya yang Anda temukan di dalam bahan ajar; |
a. Sejarah Berdirinya
Dinasti Umayyah Dinasti bani Umayyah merupakan pemerintahan
kaum Muslimin yang berkembang setelah masa Khulafa al-Rasyidin yang dimulai
pada tahun 41H/661 M.4 Dinasti Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan
bin Harb. Nama Dinasti Umayyah dinisbahkan kepada Umayyah bin Abd Syams bin
Abdu Manaf. Silsilah keturunan Muawiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf
bertemu dengan Nabi Muhammad SAW pada Abdi Manaf nya. Jika keturunan Nabi
dipanggil dengan keluarga Hasyim (Bani Hasyim), maka keturunan Umayyah
disebut dengan keluarga Umayyah (Bani Umayyah). Oleh karena itu, Muawiyah
dinyatakan sebagai pembangun atau tokoh utama Dinasti Bani Umayyah. Keberhasilan Muawiyah mendirikan Dinasti
Umayyah bukan hanya kemenangan diplomasi dalam peran Shiffin dan terbunuhnya
Ali bin Abi Thalib, melainkan sejak semula Muawiyah
memiliki “basis rasional” yang solid sebagai landasan pembangunan masa depan.
Selain itu, ia mendapatkan dukungan yang kuat dari Suriah dan keluarga Bani
Umayyah, ia merupakan seorang administrator yang sangat bijaksana dalam
menempatkan para pejabat-pejabatnya serta memiliki kemampuan yang menonjol
sebagai negarawan sejati. b. Bani Umayyah di
Masa Pra-Islam dan Masa Rasul SAW Di masa pra-Islam, sebagai suku Kuraisy,
Bani Umayyah dan Bani Hasyim selalu bersaing untuk menduduki kursi pimpinan.
Bani Umayyah lebih berperan dalam bidang pemerintahan dan
perdagangan, dengan demikian mereka lebih banyak menguasai bidang
perekonomian di banding Bani Hasyim, sementara Bani Hasyim adalah orang-orang
yang berekonomi sederhana, akan tetapi kebanggaan Bani Hasyim adalah bahwa
Rasul terakhir yang diutus Allah swt. adalah dari keturunan mereka, yakni
Muhammad bin Abdillah bin 'Abd al-Muththalib. c. Kejayaan dan
Keberhasilan Bani Umayyah Bani Umayyah menyusun tata pemerintahan yang
sama sekali baru untuk memenuhi tuntutan perkembangan wilayah dan
administrasi negara yang lebih teratur. Pada masa pemerintahan dinasti umayyah, kota
Makkah dan Madinah menjadi tempat berkembangnya music, lagu dan puisi.
Sementara di Irak (Bashrah dan Kufah) berkembang menjadi pusat aktivitas
intelektual di dunia Islam. Sedangkan di Marbad, kota satelit di Damaskus,
berkumpul para pujangga, filsuf, ulama, dan cendikiawan lainnya. |
|
2. |
Lakukan
kontekstualisasi
atas pemaparan materi dalam bahan ajar dengan realitas sosial; |
Bani Umayyah memanfaatkan masjid sebagai
lembaga pendidikan, seperti membaca Al Quran, sekolah menengah dan tingkat
tinggi. Pada masa ini pula, masjid berkembang fungsinya sebagai tempat
pengembangan ilmu pengetahuan, terutama yang bersifat keagamaan, sehingga di
zaman sekarang berkembang pula pengajian-pengajian dan majlis taklim yang
pusat kegiatannya di adakan di mesjid-mesjid. Selain itu juga Heterogenitas komposisi
masyarakat Andalusia pada masa Umayyah telah mendorong terciptanya iklim
intelektual yang maju. Serta terciptanya semangat kesatuan budaya Islam yang
timbul pada pemikiran ulama dan para ilmuwan. Oleh sebab itu, di zaman sekarang ini
pergumulan Islam dengan kondisi sosial-budaya yang tidak tunggal (heterogen)
ditambah faktor realitas kesejarahan masyarakat Islam di Indonesia yang
beragam, menghadapkan masyarakat Islam pada berbagai pilihan dalam membumikan
ajaran-ajaran Islam. Beberapa bukti kejayaan Pendidikan Islam
baik dari perkembangan lembaga pendidikan Islam maupun tokoh-tokoh ilmuan dengan
hasil karyanya yang monumental. Ini telah membuktikan bahwa pelaksanaan
Pendidikan Islam dapat melahirkan ilmuan yang handal, karena adanya perpaduan
antara keimanan. |
|
3. |
Refleksikan hasil kontekstualisasi materi bahan
ajar dalam pembelajaran bermakna. |
Dalam konteks pembelajaran bermakna, maka
pendidik perlu membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya
mempelajari landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam yang telah
dibangun oleh Rasulullah SAW dalam rangka mengembangkan
kebudayaan dan peradaban Islam. Ilmu pengetahuan yang berkembang pada
masa kejayaan Islam melalui proses yang begitu panjang. Pengembangan
metodologi dengan pendekatan metode ilmiah melahirkani lmu pengetahuan baru
melalui metode observasi dan metode historis (sejarah). Islam memiliki budaya
yang menjunjung tinggi nilai-nilai sehingga menjadi patokan
peradaban manusia yang memberi pengaruh terhadap budaya umat manusia
sesudahnya. Tidaklah mengherankan walau di dunia barat tidak menganut
ajaran Islam, namun prinsip-prinsip hidup Islam menjadi dasar
kehidupannya. Misalnya kedisiplinan, kebersihan, dan komitmen. Sejarah telah
memberikan informasi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dengan tokoh-tokoh
ilmuan dari kalangan Islam, namun sangat jarang menjadi pembahasan. Hal ini
disebabkan buku-buku barat yang terkait dengan keilmuannya telah
”mengaburkan” nama-nama tersebut dengan nama barat. Misalnya Ibnu Sina di
Barat dikenal Avicenna, Ibnu Rusyd di Barat dikenal Averroes, Ibnu Khaldun
menjadi Abenjaldun. Dengan demikian,
seharusnya lembaga Pendidikan Islam melakukan integrasi keilmuan dengan tidak
ada dikotomi antara ilmu umum dengan ilmu agama, sehingga peserta didik tidak
hanya memperoleh informasi tokoh-tokoh ilmuan dari Barat, seperti Albert
Einsten, Thomas Alfa Edison, Abraham Bell, tetapi juga mendapatkan informasi
mengenai para ilmuan Islam yang telah dikemukakan sebelumnya. |
Komentar
Posting Komentar