Analisis Bahan Ajar Fiqih

 

Judul Modul

FIQIH

Judul Kegiatan Belajar (KB)

Bahan ajar yang dianalsis

Video Tawakkal

No

Butir Pertanyaan

Respon/jawaban

1.

Tuliskan minimal 3 (tiga) konsep beserta deskripsinya yang Anda temukan di dalam bahan ajar;

 

a.      Pengertian Tawakkal

Tawakal (bahasa Arab: توكُل‎) atau tawakkul berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama Islam, tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.

Kata tawakal berasal dari bahasa Arab yaitu tawakkul yang memiliki arti berserah dan bersabar. Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, pengertian tawakal adalah sikap berserah atas kehendak Allah, dengan sepenuh harus percaya kepada Allah terhadap penderitaan, percobaan, dan apapun yang terjadi di dunia ini.

Sementara, menurut ulama Imam Al Ghazali mendefinisikan pengertian tawakal sebagai penyandaran diri kepada Allah SWT sebagai satu-satunya al-wakiil (tempat bersandar) dalam menghadapi setiap kepentingan, bersandar kepada-nya saat menghadapi kesukaran, teguh hati ketika ditimpa bencana, dengan jiwa yang tenang dan hati yang tentram.

Sedangkan, menurut Imam Ahmad bin Hambal, pengertian tawakal adalah perbuatan yang dilakukan oleh hati bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan. Bukan juga sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Tawakal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan. Menurut Imam Ahmad bin Hambal, tawakal bukan hanya berdia diri tanpa usaha, bukan juga kepasrahan tanpa upaya.

Kemudian, menurut Ibnu Qoyim Al Jauzi, pengertian tawakal adalah amalan dan ubudiyah (penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirimu.

Tawakal merupakan bagian ajaran Islam yang sangat penting. Tawakal menjadi satu sikap terpuji yang dianjurkan untuk dimiliki setiap umat muslim. Tawakal harus datang dari dalam hati. Tidak hanysa keluar dari ucapan atau lisan saja.

Pengertian tawakal adalah berserah diri kepada Allah. Dalam agama Islam, pengertian tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.

Sikap tawakal menjadi salah satu penilaian tingkat keimanan seorang muslim. Sebab tak bisa dipungkiri di berbagai situasi, bertawakal mungkin jadi hal yang terasa berat dilakukan. Karena sebagai manusia biasa, masih banyak hal yang tanpa disadari membuat kita tergantung pada orang lain. Meski dalam lubuk hati terdalam, seorang muslim tentu meyakini bahwa Allah SWT adalah Sang Maha Kuasa.

Tawakkal adalah suatu sikap mental seorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah, karena di dalam tauhid ia diajari agar meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan segala-galanya, pengetahuanNya Maha Luas, Dia yang menguasai dan mengatur alam semesta ini. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk menyerahkan segala persoalannya kepada Allah. Hatinya tenang dan tenteram serta tidak ada rasa curiga, karena Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

 

Sementara orang, ada yang salah paham dalam melakukan tawakkal. Dia enggan berusaha dan bekerja, tetapi hanya menunggu. Orang semacam ini mempunyai pemikiran, tidak perlu belajar, jika Allah menghendaki pandai tentu menjadi orang pandai. Atau tidak perlu bekerja, jika Allah menghendaki menjadi orang kaya tentulah kaya, dan seterusnya.

 

Semua itu sama saja dengan seorang yang sedang lapar perutnya, sekalipun ada berbagai makanan, tetapi ia berpikir bahwa jika Allah menghendaki ia kenyang, tentulah kenyang. Jika pendapat ini dpegang teguh pasti akan menyengsarakan diri sendiri.

 

Menurut ajaran Islam, tawakkal itu adalah tumpuan terakhir dalam suatu usaha atau perjuangan. Jadi arti tawakkal yang sebenarnya -- menurut ajaran Islam -- ialah menyerah diri kepada Allah swt setelah berusaha keras dalam berikhtiar dan bekerja sesuai dengan kemampuan dalam mengikuti sunnah Allah yang Dia tetapkan.

 

Misalnya, seseorang yang meletakkan sepeda di muka rumah, setelah dikunci rapat, barulah ia bertawakkal. Pada zaman Rasulullah saw ada seorang sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lebih dahulu. Ketika ditanya, mengapa tidak diikat, ia menjawab, "Saya telah benar-benar bertawakkal kepada Allah". Nabi saw yang tidak membenarkan jawaban tersebut berkata, "Ikatlah dan setelah itu bolehlah engkau bertawakkal."

 

b.      Perbedaan mengangkat Allah sebagai wakil dan manusia sebagai wakil

Manusia memiliki peran yang sangat penting untuk mengatur, mengurus, dan merawat bumi ini dengan baik. Sebagai wakil di bumi milik Allah SWT kehidupan manusia tidak hanya terkait dengan penyembahan terhadap Allah SWT saja melainkan Allah SWT pun mengatur dengan sempurna bagaimana kinerja dan pola perilaku manusia di bumi ini agar kelak manusia dapat menjaga keutuhan dan keselamatan dunia sebagaimana Nabi Adam AS menjadi khalifah pertama di dunia ini.

 

Al-Quran telah menjelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 30 “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

 

Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna, karena manusia memiliki akal sehat yang digunakan untuk berpikir. Hal ini yang mempengaruhi kita sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang berakal untuk bisa mengelola bumi ini dengan baik. Al-Qur'an telah menjelaskan dalam Al-Baqarah:30, "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbik memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

 

Allah mengangkat manusia sebagai khalifah bertujuan untuk menguji manusia dan memberinya penghormatan. Kekhalifahan merupakan wewenang yang diberikan Allah kepada Adam dan anak cucunya untuk direalisasikan di bumi ini. Manusia diberi 3 tugas oleh Allah SWT, yaitu:

1)        Dalam Islam, setidaknya terdapat tiga tujuan penciptaan manusia. QS. Adz-Dzariyat:56 menerangkan tujuan pertama. "Dan Aku (Allah) tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." Sifat menghamba tidak boleh ditujukan kepada siapapun selain Allah Ta'ala.

2)        Manusia menyandang fungsi pemimpin. Manusia dapat memanfaatkan segala yang tumbuh di atas bumi untuk kelangsungan hidupnya. 

3)        Berdakwah. Dakwah yang dilakukan dapat melalui lisan, dan perbuatan. Sasarannya dimulai dari diri sendiri, keluarga, karib kerabat, dan komunitas setempat. Dakwah yang dijalankan tidak boleh dengan paksaan atau penghakiman. Dengan menarik simpati, orang-orang akan tertarik untuk mendalami agama ini.

Manusia sebagai wakil Allah terbatas kemampuannya. Serta apapun yang dilakukannya jikalau Allah belum berkehendak, maka semuanya tidak bisa terjadi. Ini berarti Allahlah Yang Maha Tahu, Allahlah Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu serta usahanya diserahkan secara penuh tanggung jawab kepada manusia. Allah sebagai wakil, manusia perlu berikhtiar seterusnya serahkan kepada Allah SWT.

c.       Implementasi Tawakkal dalam kehidupan sehari-hari

Sebagai seorang muslim, pasti sudah memahami mengenai perilaku tawakal dalam . Sikap berserah diri kepada Allah SWT setelah melakukan usaha atau ikhtiar dengan semampu diri kita kemudian menerima dengan ikhlas segala ketentuan Allah SWT terhadapnya disebut sebagai tawakal.

Seseorang yang bersikap tawakal akan selalu bersyukur kepada Allah jika mendapat keberhasilan atau kesuksesan atas usahanya. Hal ini karena dirinya menyadari bahwa kesuksesan tersebut merupakan atas izin Allah SWT.

Sebaliknya, jika ia mengalami kegagalan, orang yang tawakal akan merasa ridha dan ikhlas menerima keadaan tanpa merasa putus asa dan terlarut dalam kesedihan dikarenakan telah sadar bahwa semua keputusan Allah pasti yang terbaik.

v  Contoh Perilaku Tawakal dalam Kehidupan Sehari-hari

Berikut ini beberapa perilaku tawakal yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari :

1)      Selalu bersyukur jika mendapatkan nikmat dari Allah swt, dan bersabar apabila mendapatkan musibah.

2)      Selalu berdoa dan menyerahkan diri atas apa yang kita usahakan sebelumnya.

3)      Selalu berprasangka baik terhadap Allah SWT atas kejadian atau apa yang kita terima.

4)      Tidak berkeluh kesah dan gelisah ketika berusaha dan berikhtiar.

5)      Menyerahkan segala sesuatu hal terhadap Allah SWT setelah berusaha keras.

6)      Selalu berusaha dan berikhtiar dengan maksimal, selanjutnya bertawakal kepada Allah swt.

7)      Tidak mudah berputus asa dalam berusaha.

8)      Menerima semua ketentuan Allah swt dengan rasa ikhlas dan ridha.

9)      Ketika kita meninggalkan rumah, kita bertawakal kepada Allah SWT atas rumah yang kita tinggalkan.

10)   Ketika kita mendapatkan suatu masalah, kita berserah diri kepada Allah SWT dan  agar segera mendapatkan solusi dari masalah yang kita alami.

11)   Berusaha memperoleh sesuatu yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain.

12)   Sebelum dan setelah kita ujian, diiringi dengan berdoa dan menyerahkan semua kepada Allah SWT.

13)   Ketika kita berobat ke rumah sakit, kita berserah diri dan memohon kepada Allah agar diberi kesembuhan.

Manfaat tawakal yang pertama ialah mendapatkan kemudahan kehidupan di dunia dan akhirat. Sikap berserah diri usai berusaha maksimal.

Meski terkadang bukan hal mudah, diperlukan keikhlasan yang kuat, berusaha untuk tidak berprasangka buruk terhadap Allah SWT.

Bahkan Allah telah menjamin kemudahan bagi setiap hamba yang bertawakal, sebesar apapun cobaan yang tengah menimpa. Hal ini seperti yang tercantum dalam ayat kitab suci Alquran berikut:

"Barang siapa yang bertawakal kepada allah niscaya dia akan membukakan jalan keluarnya dan dia memberikan rejekinya dari arah yang tidak disangka sangka. dan barang siapa yang bertawakal kepadanya kepada allah niscaya allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya allah melaksanakan tugasnya, sungguh dia telah mengadakan ketentuan bagi setiap." (QS Ath-Thalaq ayat 1-2).

 

d.      Konsep “kerjasama” Allah SWT dengan manusia

Dalam menjalani hidup ini, semua manusia pasti ingin menggapai kesuksesan. Manusia dianugerahi oleh Allah swt. naluri yang menjadikannya gemar memperoleh manfaat dan menghindari mudharat. Beribadah dan melaksanakan tugas sebagai khalifah adalah tujuan penciptaan manusia, sedangkan ibadah tidak dapat terlaksana dengan baik bila kebutuhan manusia tidak tercukupi. Oleh sebab itu, pemenuhan kebutuhan duniawi merupakan sebuah kewajiban. Akan tetapi, pemenuhan kebutuhan dunia untuk mencapai sukses itu dapat dijalankan bersamaan dengan menggapai kesuksesan akhirat.

 

Kesuksesan hidup tidak hanya diukur oleh capaian duniawi semata, seperti berderetnya gelar akademik, menterengnya karier, atau melimpahnya penghasilan. Kesuksesan sejati diraih jika seluruh capaian itu memberi manfaat bagi orang lain sehingga mengalirkan pahala jariah, dan kelak, saat menutup usia dalam keadaan husnul khatimah. Hal ini penting dipahami agar umur yang Allah berikan kepada manusia tidak sia-sia, tetapi justru memberikan banyak kebermanfaatan bagi diri sendiri dan sesama.

 

Sifat dan Perilaku yang Disukai Allah dalam bentuk kerjasama Allah dengan manusia

 

Dalam menjalani hidup, manusia harus menjadikan Allah sebagai tujuan dengan senantiasa mengharap ridha-Nya dan menjadikan surga sebagai cita-cita. Demikian juga hendaknya memandang kesuksesan. Untuk memperoleh kesuksesan dunia dan akhirat, tentu kita harus senantiasa mendekatkan diri pada Allah swt. dan menjadi orang yang disukai-Nya. Berikut ini uraian tentang macam sifat atau perilaku manusia yang disukai oleh Allah swt. berdasarkan dalil dalam al-Qur’an.

 

Al-Muhsinin

 

Kata al-muhsinin adalah bentuk jamak dari kata muhsin yang terambil dari kata ahsana-ihsana. Rasulullah saw. menjelaskan makna ihsan sebagai berikut:

 

“Engkau menyembah Allah, seakan-akan melihat-Nya dan bila itu tidak tercapai maka yakinlah bahwa Dia melihatmu” (HR Muslim). Dengan demikian, perintah ihsan bermakna perintah melakukan segala aktivitas positif, seakan-akan Anda melihat Allah atau paling tidak selalu merasa dilihat dan diawasi oleh-Nya.

 

Al-Muttaqin

 

Takwa dapat diartikan sebagai perbuatan menghindari ancaman dan siksaan dari Allah swt. dengan jalan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa selalu menuntun seseorang untuk senantiasa berhati-hati dalam berperilaku. Shihab (2013) menjelaskan bahwa terkait dengan ketakwaan, Allah memberikan dua macam perintah yang tercantum dalam Al-Qur’an, yaitu perintah takwini dan perintah taklifi. Perintah takwini, yakni perintah Allah terhadap objek agar menjadi sesuai dengan apa yang diperintahkan-Nya. Ia biasa digambarkan oleh firman-Nya dengan “Kun fayakun”. Hal ini tercantum dalam beberapa dalil dalam al-Qur’an, antara lain QS. Fushshilat:11 dan QS. Al-Anbiya’:69. Kedua dalil tersebut menunjukkan betapa kuasa Allah atas apa pun yang Ia kehendaki akan terjadi dengan segera.

 

Kedua, perintah taklifi, yaitu perintah Allah terhadap makhluk yang dibebani tugas keagamaan (manusia dewasa dan jin) untuk melakukan hal-hal tertentu. Hal ini dapat berupa ibadah murni, seperti shalat, puasa, maupun aktivitas lainnya yang bukan berbentuk ibadah murni, seperti bekerja untuk mencari nafkah, menikah, dan lain-lain (Shihab, 2013). Dalam konteks berinteraksi dengan sesama manusia, terdapat sebuah pepatah terkenal, yaitu “Sebanyak Anda menerima, sebanyak itu pula hendaknya Anda memberi.” Namun demikian, Allah tidak menuntut hal tersebut. Allah, Sang Maha Pemurah menurunkan firman-Nya dalam QS. At-Taghabun:16 yang artinya

 

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

 

Menurut Shihab (2013), jika kita hendak membicarakan prioritas dalam konteks ketakwaan, dapat diasumsikan dengan ilustrasi berikut ini: prioritas ketakwaan bagi penguasa adalah berlaku adil; bagi pengusaha adalah jujur; bagi guru/dosen adalah ketulusan mengajar dan meneliti; bagi si kaya adalah ketulusan bersedekah dan membantu; bagi si miskin adalah kesungguhan bekerja dan menghindari minta-minta. Mereka yang bertakwa itulah yang memperoleh janji-Nya dalam QS. At-thalaq:2-3 yang menjelaskan bahwa Allah akan memberikan rezeki dan jalan keluar atas setiap permasalahan bagi hamba-Nya yang bertakwa dan tawakal kepada-Nya.

 

Al-Muqsithin

 

Kata al-Muqsithin adalah bentuk jamak dari kata muqsith, yang diambil dari kata awasatha yang biasa dipersamakan maknanya dengan berlaku adil. Menariknya, tidak ditemukan bunyi pernyataan al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil dengan kata ‘adl/adil, tetapi ditemukan perintah menegakkan al-qisth, yakni dalam beberapa firman-Nya: QS. Al-Maidah:8; QS. An-Nisa’:3; QS. AL-Hujurat:9.

 

Al-Mutathahhirin

 

Kata al-mutathahhirin dapat diartikan sebagai kesucian dan keterhindaran dari kotoran/noda. Salah satu pernyataan al-Qur’an bahwa Allah menyukai al-mutathahhirin ditemukan dalam QS. Al-Baqarah:222 yang menjelaskan tentang larangan seorang suami mencampuri istri yang sedang haid. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri.

 

At-Tawwabin

 

At-tawwabin berarti kembali ke posisi semula. Manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, setan akan terus berusaha merayu manusia. Oleh sebab itu, hendaknya manusia yang berdosa segera bertaubat agar kembali suci. Allah swt., Sang Maha Pengampun sangat menyukai hamba-Nya yang bertaubat atas kesalahan-kesalahannya dan tidak mempersulit. Dalil yang menjelaskan tentang at-tawwabin tercantum dalam firman Allah swt., di antaranya QS. Al-Baqarah:37, QS. An-Nisa’:31, QS. An-Nisa’:17.

 

 Ash-Shabirin

 

As-shabirin berarti sabar. Seorang yang sabar akan menahan dri, dan untuk itu memerlukan kekukuhan jiwa dan mental baja agar dapat mencapai ketinggian yang diharapkannya (Shihab, 2013). Mustaqim (2013) juga berpendapat bahwa sabar berusaha keras untuk mencapai tujuan, menahan diri dari rasa malas dan lelah. Banyak firman Allah dalam al-Qur’an yang berisi perintah kepada manusia untuk bersabar. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh Shihab (2013), dua kali al-Qur’an berpesan agar menjadikan shalat/permohonan kepada Allah dan sabar sebagai sarana untuk memperoleh segala yang dikehendaki (QS. Al-Baqarah:45, 153). Sabar selalu pahit awalnya, tapi manis akhirnya (QS. Ali Imran:186). Dengan kesabaran dan ketakwaan akan turun bantuan Ilahi guna menghadapi segala macam tantangan (QS. Ali Imran:120). Allah memerintahkan sabar dalam menghadapi yang tidak disenangi maupun yang disenangi.

 

 

 

Al-Mutawakkilin

 

Al-mutawakilin dapat diartikan mewakilkan. Perintah tawakal kepada Allah dalam al-Qur’an ditemukan sebanyak sebelas kali (Shihab, 2013). Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa dalam setiap aktivitas kehidupan kita, seorang Muslim dituntut untuk berusaha sambil berdoa dan setelah itu ia dituntut untuk berserah diri kepada Allah. Ketika manusia telah berusaha keras kemudian menyerahkan semuanya pada Allah, manusia harus yakin bahwa apa pun ketetapan Allah merupakan pilihan terbaik untuknya, sesuai dengan firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah:216.

 

Dalam berusaha dan berserah kepada Allah, tentu manusia tidak boleh hanya duduk diam menunggu jawaban ataupun keajaiban. Manusia perlu terus berdoa mendekatkan diri kepada Allah swt. agar benar-benar diberikan yang baik menurut kita (sesuai keinginan) dan baik menurut Allah swt. Anshor (2017) menyampaikan hal-hal yang bisa dilakukan untuk meminta kepada Allah, yaitu (a) memperbanyak shadaqah, (b) bangun untuk shalat tahajud, dan (c) memperbanyak silaturahmi. Selain tiga daya pengungkit rezeki tersebut, tentu masih banyak amalan lainnya. Jika dikerjakan secara istiqamah, insya Allah, Allah akan mempermudah segala urusan dan pencapaian cita-cita makhluk-Nya.

 

Kerja Sama dan Network

Dalam QS. Ash-Shaf:4, Allah berfirman yang artinya,

 

 “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

 

Ayat di atas menunjukkan perlunya kebersamaan, network, dan koordinasi. Ciri khas ajaran Islam adalah kebersamaan dalam segala aktivitas positif, baik dalam melaksanakan ibadah ritual maupun dalam melaksanakan aneka aktivitas, itu sebabnya, shalat berjamaahn lebih diutamakan daripada shalat sendirian. Di sisi lain, kebersamaan itu tidak harus menjadikan semua pihak melakukan satu pekerjaan yang sama, melainkan perlu pembagian kerja yang diatur dalam satu network yang baik.

 

Akhlak Mulia

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Shihab (2013), dinyatakan bahwa ada empat sifat khusus yang disebut oleh QS. Al-Maidah:54 yang menjadi sebab tercurahnya cinta Allah kepada manusia, yaitu (a) bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, (b) mulia/memiliki harga diri dan bersikap tegas terhadap yang kafir, (c) berjihad di jalan Allah, dan (d) tidak takut kepada celaan pencela.

 

Al-Ittiba’

Ali Imran: 31 dan 32 memberi gambaran yang sangat umum menyangkut siapa atau perbuatan apa yang paling disukai Allah (Shihab, 2013), yakni perintah untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. Al-ittiba’ berarti meneladani, mengikuti secara sungguh-sungguh. Cinta Allah yang luar biasa akan diraih oleh mereka yang bersungguh-sungguh mengikuti Nabi Muhammad saw. Al-ittiba’ yang dimaksud ini dijelaskan oleh sabda Rasul saw. yang berbunyi, “yakni atas dasar kebajikan, takwa, dan rendah hati” (HR at-Tirmidzi, Abu Nu’aim, dan Ibnu ‘Asakir melalui sahabat Nabi, Abu ad-Darda).

Kunci sukses adalah iman. Iman adalah fondasi dalam beramal shalih sebab Allah hanya akan menerima amal shalih makhluk yang beriman kepada-Nya. Kemampuan beramal shalih inilah yang dapat dikatakan sebagai kesuksesan dunia dan akhirat. Hadis Nabi Muhammad saw. yang banyak dikenal umat Muslim, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” merupakan landasan pokok bagi manusia untuk menyikapi kesuksesan yang telah dimiliki. Sejatinya, semakin tinggi kesuksesan yang diraih, semakin besar pula tanggung jawab dan kebermanfaatan yang dilakukan. Semakin tinggi gelar pendidikan yang dan ilmu yang diperoleh, semakin besar amanah untuk menyampaikannya kepada orang lain. Semakin banyak kekayaan yang didapat, semakin banyak zakat mal dan shadaqah yang harus dikeluarkan untuk orang lain. Semakin tinggi jabatan, semakin besar tanggung jawab dan amanah untuk membantu dan menyejahterakan rakyatnya.

 

e.      Allah sebagai pelindung dan penolong umat manusia

Surat An-Nisa' Ayat 45, Cukuplah Allah Menjadi Pelindung dan Penolong

llah SWT berfirman: “... Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung”. (QS Ali ’Imran, 3 :173). “Tiadakah kamu tahu, bahwa memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak bagimu pelindung dan penolong selain Allah.” (QS Al-Baqarah, 2 107).

Menyerahkan semua perkara kepada Allah, bertawakal kepada-Nya, percaya sepenuhnya terhadap janji-janji-Nya, ridha dengan apa yang dilakukan-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, dan menunggu dengan sabar pertolongan dari-Nya merupakan buah keimanan yang paling agung dan sifat paling mulia dari seorang mukmin.

 

Dan ketika seorang hamba tenang bahwa apa yang akan terjadi itu baik baginya, dan ia menggantungkan setiap permasalahannya hanya kepada Rabb-nya, maka ia akan mendapatkan pengawasan, perlindungan, pencukupan serta pertolongan dari Allah.

 

Syahdan, ketika Nabi Ibrahim a.s. dilempar ke dalam kobaran api, ia mengucapkan, “Hasbunalldh wa ni’mal wakil,” maka Allah pun menjadikan api yang panas itu dingin seketika. Dan Ibrahim pun tidak terbakar.

Demikian halnya yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya. Tatkala mendapat ancaman dari pasukan kafir dan penyembah berhala, mereka juga mengucapkan,

 

“Hasbunallah wa ni’mal wakil.”

 

Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar dari) Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan, Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Ali ‘Imran: 173-174)

 

Manusia tidak akan pernah mampu melawan setiap bencana, menaklukkan setiap derita, dan mencegah setiap malapetaka dengan kekuatannya sendiri. Sebab, manusia adalah makhluk yang sangat lemah.

Menjadikan Allah sepenuhnya sebagai tempat bergantung adalah puncak tertinggi tauhid. Bagi Muslim, penyerahan semua urusan kehidupan kepada Allah adalah keharusan. Sebaliknya, menggantungkan segala persoalan kepada manusia adalah kesalahan.

 

Jangan menjadikan manusia sebagai naungan dan tambatan harapan. Tak sepatutnya meminta pertolongan dan perlindungan kepada sesama manusia. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila engkau shalat, maka shalatlah seolah-olah shalat perpisahan, dan jangan mengucapkan ucapan yang esok hari engkau akan menyesalinya dan jangan bergantung kepada manusia.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Dalam hadis di atas, Nabi mengisyaratkan untuk tidak bergantung kepada manusia. Menyandarkan diri kepada sesama banyak ruginya. Kalau kita bergantung kepada manusia karena jabatan, kekuasaannya akan berakhir.

 

Kalau kita bergantung karena kekayaannya, kemungkinan hilang. Menggantungkan harapan kepada manusia akan berakhir dengan kekecewaan. Pun, demikian akan mendatangkan kehinaan dan kerendahan.

 

Inilah inti dari kata mutiara yang pernah disampaikan Sayyidina Ali bin Abi Thalib: “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.”

2.

Lakukan kontekstualisasi atas pemaparan materi dalam bahan ajar dengan realitas sosial;

 

Sebagai seorang muslim, sudah sewajarnya kita menempatkan tawakkal dan ikhtiar dalam setiap hal yang kita usahakan. Dalam al-Quran pun terdapat ayat yang memuat anjuran agar manusia senantiasa melakukan tawakkal dan ikhtiar, yaitu:

 

…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu,

Ath Tholaq: 2-3

 

Tawakkal dan ikhtiar merupakan bentuk usaha yang dilakukan manusia untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Namun, perlu dipahami juga bahwa terwujudnya keinginan tersebut juga merupakan kehendak Allah. Karena itu, manusia diperintahkan untuk bertawakkal dan tetap berikhtiar untuk mendapatkan keinginannya tersebut.

 

Ikhtiar Tanpa Tawakkal

Dalam meraih apa yang diinginkan, sering kali manusia hanya mempertimbangkan kekuatan dan usaha yang dilakukannya saja. Namun lupa bertawakkal kepada Allah. Padahal, dua hal ini adalah sesuatu yang saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan.

 

Saat seorang manusia melakukan ikhtiar, kegigihannya dalam berikhtiar tidak boleh sampai melemahkan tawakkalnya kepada Allah. Ikhtiar tanpa disertai tawakkal merupakan bentuk kesombongan seorang hamba. Karena seakan – akan dia merasa mampu mendapatkan keinginannya tanpa bantuan Allah.

 

Tawakkal Tanpa Ikhtiar

Segala hal yang terjadi pada manusia merupakan kehendak Allah. Rezeki seorang manusia tidak akan tertukar dan seorang manusia juga pasti mendapatkan segala hal yang memang sudah menjadi rezekinya. Menyadari hal tersebut merupakan salah satu bentuk tawakkal. Akan tetapi, seorang muslim juga tidak diizinkan untuk memasrahkan kehidupannya tanpa berbuat apa-apa.

 

Seseorang yang tidak melakukan ikhtiar dengan dalih tawakkal, maka sikap tawakkal tersebut tidak dibenarkan. Meskipun rezeki setiap orang akan sampai dan tidak tertukar, seorang muslim tetap harus berikhtiar untuk menjemput rezeki yang telah ditetapkan tersebut.

 

Ikhtiar Bersama Tawakkal

Sikap paling tepat adalah menyelaraskan ikhtiar dengan tawakkal. Seorang muslim diharuskan bekerja dan berusaha sesuai kemampuannya. Artinya, seseorang harus berusaha menjemput rezeki dan keinginannya hingga mencapai batas maksimal yang mampu dia lakukan. Apabila dia telah melakukan hal tersebut, maka orang tersebut bisa disebut telah berikhtiar.

 

Bersama dengan ikhtiar tersebut, seorang muslim juga harus bertawakkal kepada Allah. Keduanya harus dilakukan dengan selaras dan berimbang. Muslim yang baik adalah muslim yang mampu menjaga tawakkal dan ikhtiarnya dalam porsi yang proporsional.

 

Dia menyadari bahwa segala sesuatu harus diusahakan agar bisa diraih. Di sisi lain, doa dan ibadah kepada Allah juga menjadi faktor penentu yang tidak boleh dilupakan apalagi diabaikan. Sehingga, seorang muslim yang baik akan selalu memberikan usaha terbaiknya dalam setiap hal.

 

Di saat yang sama, dia juga menjaga tawakkalnya tetap kuat. Yaitu dengan bertaubat secara serius, menjaga niat tetap lurus, beribadah dengan baik, dan senantiasa berdoa serta melibatkan Allah dalam setiap hal yang dia lakukan. Termasuk bagian dari tawakkal adalah senantiasa memperbaiki diri, menghindari hal yang tidak disukai Allah, dan melaksanakan hal – hal yang diridhai Allah.

 

Karena pada dasarnya, rezeki dan keinginan kita bisa tercapai hanya jika Allah mengizinkan hal tersebut sampai kepada kita. Tanpa pertolongan Allah, maka akan sulit mencapai apa yang diharapkan dan mendapat keberkahan darinya. Namun, jika ikhtiar dan tawakkal yang dilakukan sudah maksimal, dan kita tetap tidak mendapatkan apa yang kita harapkan, bisa jadi hal tersebut adalah lebih baik bagi kita di sisi Allah. Wallahu a’lam.

Tawakkal merupakan satu kondisi dimana seseorang menyandarkan, mempercayakan, atau menyerahkan suatu urusan kepada pihak lain. Sebagai seorang muslim, tawakkal kepada Allah berarti menyandarkan dan menyerahkan urusannya kepada Allah SWT. Sikap tawakkal ini merupakan salah satu bentuk ibadah.

 

Tawakkal juga merupakan perwujudan dari keimanan dalam diri seorang muslim. Sehingga, orang dengan iman yang benar hanya akan bertawakkal kepada Allah saja. Hal ini sejalan dengan salah satu ayat dalam al-Quran, yaitu:

 

Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman

QS. Al-Maidah: 23

 

Tawakkal yang salah dapat membawa seseorang kepada syirik. Baik syirik kecil ataupun syirik besar. Karena itu, penting untuk mengetahui bagaimana tawakkal yang benar dan yang tidak.

 

1. Tawakkal yang Mengandung Syirik Besar

Dalam kehidupan, seorang manusia pasti menemukan perkara – perkara yang sebenarnya hanya mampu dilakukan oleh Allah. Seperti keselamatan diri atas hal yang tidak terduga, selamat dari musibah besar atau bencana alam, dan lain sebagainya.

 

Sama halnya dengan rezeki, perkara tersebut hanya bisa diatur oleh Allah. Dan sebagai manusia, tugas kita adalah bertawakkal atas ketetapan Allah. Saat perkara tersebut diserahkan kepada selain Allah, maka tawakkal-nya bisa masuk ke dalam syirik besar.

 

Contohnya saja, saat seseorang mempercayakan keselamatan diri atau rezekinya kepada orang yang sudah mati, setan, atau makhluk gaib lainnya. Termasuk juga malaikat.

 

2. Tawakkal yang Mengandung Syirik Kecil

Meskipun terkesan ringan, syirik kecil sama fatalnya dengan syirik besar dan harus dijauhi. Bedanya, saat seseorang melakukan syirik besar, maka orang tersebut bisa dianggap berpaling dari agama bahkan murtad. Sedangkan orang yang melakukan syirik kecil, dia tidak keluar dari Islam, namun dosa yang ditanggung pun tetap besar.

 

Syirik kecil dalam tawakkal lebih terllihat, rasional, logis, dan realistis dibandingkan dengan syirik besar dalam tawakkal. Misalnya, saat seseorang melakukan tawakkal kepada penguasa, polisi, orang tua, atasan, pengawal pribadi, dan lain sebagainya.

 

Bertawakkal kepada manusia dan menganggap bahwa rezeki dan keselamatan ada di tangan mereka adalah satu bentuk tawakkal yang salah. Apalagi jika dilakukan tanpa bertawakkal kepada Allah. Padahal, keselamatan seorang manusia tidak tergantung pada seberapa banyak pelindung yang dimilikinya. Begitu juga dengan rezeki. Rezeki seseorang tidak hanya bersumber dari atasannya saja.

 

Ketika seseorang measa bahwa pelindung dan pekerjaannya sudah cukup menjamin keselamatan dan kehidupannya, tanpa melibatkan tawakkal kepada Allah, pada saat itulah orang tersebut jatuh kepada syirik kecil.

 

3. Tawakkal yang Diperbolehkan

Lalu, bagaimana bentuk tawakkal yang benar dan diperbolehkan dalam Islam?

 

Pada dasarnya, tawakkal adalah hal yang baik dan dianjurkan. Bahkan bisa bernilai ibadah saat dilakukan dengan benar. Tawakkal yang benar adalah tawakkal yang dilakukan hanya kepada Allah. Tanpa adanya wakil atau sikap mendua kepada makhluk Allah lainnya.

 

Sebagai ilustrasi, bisa diibaratkan saat kita menitipkan barang jualan kepada orang lain yang pandai menjual. Kita mengakui bahwa orang tersebut mampu menjual barang kita. Namun, tetap saja kita dibolehkan tawakkal kepada orang tersebut. Tawakkal tetap diberikan kepada Allah. Yaitu dengan mendoakan kemudahan urusan orang tersebut kepada Allah.

 

Itulah beberapa perkara terkait tawakkal yang perlu diketahui. Dengan memahami hal tersebut, maka kita bisa lebih berhati – hati dan menjaga tawakkal tetap baik dan benar. Sehingga, tawakkal yang kita lakukan bisa bernilai ibadah dan bukannya menambah dosa.

3

Refleksikan hasil kontekstualisasi materi bahan ajar dalam pembelajaran bermakna

Konteks tawakkal dalam pembelajaran bermakna artinya kita diwajibkan untuk berusaha atas segala sesuatu yang ingin kita usahakan. Misalnya saja, seorang pendidik menginginkan peserta didiknya mendapatkan hasil maksimal pada setiap tugas ataupun ujiannya, maka seorang pendidik juga berkewajiban untuk berupaya sebaik mungkin untuk bisa mengembangkan materi pembelajaran dengan baik sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Dan hasilnya pun tentunya akan lebih optimal Begitu pula dengan peserta didik harus berupaya dengan sungguh-sunguh untuk mengikuti pelajaran dengan baik, sehingga mendapatkan hasil yang maksimal. 

Setelah adanya upaya dan usaha yang disertai dengan niat dan kerja keras barulah kita dituntut untuk tawakkal ilallah. Bertawakkal kepada Allah SWT atas segala sesuatu yang sudah di upayakan.

.

 



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lembar Kerja (LK) 6 : Penyusunan Rencana Aksi

TUGAS REFLEKSI MODUL PEDAGOGIK